Beranda Cerpen Realita Berdarah

Realita Berdarah

BERBAGI
(Sumber: Ist)

Cerpen | DETaK

Aku tak tahu harus berkata apa. Tubuh ini seakan membeku tak bisa digerakkan. Mataku terus tertuju pada anak yang keadaannya tengah terbaring di jalanan aspal. Area sekitar anak itu terlumuri darah yang sangat kental. Aku tak yakin akankah dia masih hidup atau telah tiada.

Orang-orang mengerumuni anak itu tanpa tahu menolongnya. Semakin lama semakin banyak orang berdatangan. Tak ada satu orang pun berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Tempat ini seakan menjadi sebuah pertunjukan aksi sulap yang mengundang banyak penonton. Dalam hatiku berkata, ‘siapa pun tolonglah anak itu! Lakukan sesuatu padanya!

IKLAN
loading...


Ketika aku kaku di situasi seperti ini, tanganku ditarik oleh Andra. Andra mengajakku pulang agar tidak berlama-lama di tempat ini.

“Ayolah! Kita pulang saja,” desaknya memaksa.

Aku menuruti permintaan Andra walaupun hatiku berat untuk meninggalkan tempat ini. Tapi apa boleh buat, aku tak sanggup melakukan apapun untuk anak itu. Keadaan juga tidak semakin baik jika aku terus berada di sini tanpa melakukan apapun. Lagipula, Andra adalah orang yang tidak bisa melihat darah sampai merasa takut saat memandanginya.

Di perjalanan pulang, aku merasakan motor yang kami tumpangi melaju dengan aneh. Andra membawa motor tidak seperti biasanya. Aku merasa seolah-olah akan terjatuh dari motor yang kami tumpangi. Merasa adanya keanehan, aku memastikan keadaan baik-baik saja atau tidak.

“Andra, ok?” tanyaku ragu akan keadaan Andra.

“Sebenarnya agak pusing sih,” jawabnya dengan suara lemas.

Mendengar hal tersebut tentu saja membuatku panik seketika. Aku segera menyuruh Andra untuk menepi dan berhenti sejenak.

“Andra… Ngomong dong kalo kamu pusing dan gak sanggup bawa motor. Kan aku bisa gantiin kamu!” seruku meyakinkan Andra.

Engga, tadi aku baik-baik aja, Audie. Ini tiba-tiba aja aku pusing. Mungkin karena tadi aku lihat darah anak itu,” sahut Andra sambil memegang keningnya.

Tanpa menunggu lama, aku langsung menukar posisi dengan Andra. Sekarang aku yang mengemudi dan Andra duduk di belakang. Sepanjang perjalanan, aku masih teringat kejadian itu. Jujur saja kejadian itu adalah kecelakaan pertama kali yang kulihat langsung dengan mata kepalaku sendiri. Maklum jika aku seterkejut ini dan sepanik ini. Ditambah lagi dengan temanku yang tidak bisa melihat darah. Aku sedang membawa pulang manusia yang setengah sadar saat ini.

Sesampainya di rumah, aku masih terngiang-ngiang akan kejadian tabrak lari siang tadi. Aku begitu cemas memikirkan nasib anak itu. Pikiranku kacau. Hal-hal yang buruk terbayang di pikiranku. Membuatku seakan dihantui dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba pintu kamarku dibuka oleh kakakku.

“Hai, Audie. Kakak lihat kamu melamun terus dari tadi?” tanya kakakku memecah lamunanku. Aku hanya diam saja tanpa berkata apa-apa.

“Ada apa? Cerita sama Kakak!” Seruan kakakku merayu.

“Siang tadi, aku dan Andra pulang lewat jalan Ranting Hijau. Kami lihat kejadian kecelakaan, Kak. Itu baru pertama kali kami lihat kejadian kecelakan langsung, Kak. Benar-benar tepat di depan kami. Kami langsung berhenti mendadak, Kak.”

“Oh ya? Gimana ceritanya?” tanya kakakku sambil mengambil posisi di depanku.

Aku menceritakan kejadian yang kulihat jelas dengan mata kepalaku siang tadi. Peristiwa tabrak lari sebuah mobil van hitam menabrak seorang anak yang mengendarai sepeda. Kulihat dari seragam putih birunya, kutebak ia sedang di tingkat SMP. Aku tak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Padahal jalanan itu cukup luas untuk dilintasi. Posisi anak itu berada di tepi jalanan. Mobil itu melaju dengan sangat kencang dan brutal seperti sedang dikemudi oleh pemabuk. Tiba-tiba mobil itu menyambar anak itu dengan hantaman yang kuat. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kondisi anak itu setelah kecelakaan. Sepedanya patah dan terlempar cukup jauh dari anak itu. Mobil itu langsung pergi sesegera mungkin ketika mengetahui anak itu telah mengeluarkan darah yang cukup banyak.

Tak lama kemudian, orang-orang mulai berdatangan mengerumuni anak itu. Aku dan Andra ikut melihat anak itu yang keadaannya begitu memprihatinkan. Bisa dikatakan bahwa aku dan Andra shock sekali melihat kejadian yang menimpa anak itu. sampai kami terdiam tak berkutik menyaksikannya. Akan tetapi, keadaan yang terjadi di lokasi menambah shock yang amat terasa menyesak. Aku menyaksikan orang-orang mengeluarkan handphone dari sakunya untuk memotret anak itu. Setiap mereka memegang handpone-nya masing-masing dan mulai mengambil gambar atau video anak itu tanpa tahu menolong anak itu. Bahkan ada yang melakukan live broadcast saat suasana seperti ini.

Aku melihat kakakku yang mendengar cerita itu dengan ekspresi prihatin. Sesekali matanya memejam erat seakan melihat kejadian itu secara nyata. Tubuhku gemetar ketika menceritakan kejadian itu kepada kakak.

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur dengan posisi kaki berada di bawah kasur. Aku jadi terpikir bagaimana perasaan orang tua anak tersebut ketika mengetahui akan hal ini. Apa yang harus mereka lakukan. Kepada siapa mereka menuntut dan siapa yang akan membantu mereka.

Kakakku ikut membaringkan tubuhnya di sampingku. Kami saling menatap ke arah atap membayangkan hal yang kami bicarakan. Beberapa menit kami hanya terdiam satu sama lain. Tiba-tiba kakak memelukku dengan pelukan yang erat. Aku menjadi tahu apa yang sedang ia bayangkan saat ini. Aku membalas pelukannya. Kemudian kakakku menanyakan suatu hal padaku.

“Kenapa kalian engga ngelakuin sesuatu yang bisa membantu? Mungkin seperti menelepon ambulance dan polisi? Atau mungkin memberi pertolongan pertama?” tanya kakakku dengan nada bicara yang santai.

“Audie engga tahu mau ngelakuin apa dan engga terpikir harus ngelakuin apa. Lagi pula Audie engga berani mendekat, Kak. Apalagi menyentuh anak itu,” jawabku menyesal.

“Itulah yang dirasakan oleh orang-orang sehingga mereka tidak melakukan apa-apa atas kejadian itu,” seru kakakku sambil melepaskan pelukannya dariku.

“Tapi, Kak. Aku kecewa dengan orang-orang yang sengaja memotret anak itu untuk bahan mereka upload ke media sosial,” tambahku dengan perasaan yang kesal.

Kemudian, kakakku bangkit dari baringannya dan duduk menghadap ke arahku. Aku juga bangkit dari baringanku dengan posisi duduk menopang kepala pada lututku. Bahuku dipegang hangat oleh kakakku dengan artian menguatkanku. Aku menatap wajahnya yang kini tengah  menarik nafas sambil menutupkan matanya. Kini, ia menatapku dengan tatapan yang dalam. Tangannya yang berada di bahuku kini berpindah memegang tanganku.

“Itulah manusia zaman sekarang, Dek. Mereka lebih mengedepankan sosial media dibandingkan nilai dan rasa kemanusiaan. Mereka tidak terpikir akan kejadian serupa bisa saja menimpanya. Mereka hanya berpikir bahwa orang-orang harus tahu kejadian apa yang baru saja mereka lihat. Dengan itu, mereka dianggap pribadi yang update dan sosialita.” Pernyataan kakakku dengan nada bicara yang penuh makna.

Perkataan kakakku benar-benar menjelaskan realita kehidupan yang lazim terjadi di zaman ini. Di mana teknologi dan kemajuan ada di dalam genggangan tangan manusia. Hal itu mestinya dapat mempermudah kehidupan manusia untuk melakukan apapun. Namun sangat disayangkan, manusia malah menyalahgunakan teknologi dan media. Justru hal itu membuat mereka lalai dan terjebak dalam keterpurukan.

Tersisip kekecewaan ketika mendengar pernyataan dari kakakku mengenai keadaan manusia pada zaman ini. Kejadian ini amat miris dan mencelakakan jiwa. Bahkan dapat menyebabkan matinya jiwa dan rasa kemanusiaan. Akan tetapi, aku juga merasa kesal terhadap diriku sendiri. Mengapa aku hanya diam saja tanpa melakukan sesuatu. Mengapa aku tidak terpikir untuk melakukan hal yang dapat menolongnya.[]

Penulis bernama Farah Kautsari, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala Angkatan 2019.

Editor: Feti Mulia Sukma