Beranda Film Setabah Hujan Bulan Juni

Setabah Hujan Bulan Juni

BERBAGI
(Hujan Bulan Juni)

Resensi | DETaK

Identitas Film
Judul Film : Hujan Bulan Juni
Sutradara : Reni Nurcahyo dan Hestu Saputro
Produksi : Sinema Imaji dan Starvision
Pemain : Adipati Dolken, Velove Vexia, Baim Wong, Surya Saputra, Koutaro Kakimoto
Tanggal Rilis : 2 November 2017
Durasi : 96 menit

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
.”
(Sapardi Djoko Damono, dalam karyanya ‘Hujan Bulan Juni’)

IKLAN
loading...


Membicarakan bulan Juni tidak bisa lepas dari adanya novel ‘Hujan Bulan Juni’, karangan sastrawan legenda Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Novel terbitan Juni 2015 ini berhasil difilmkan dengan judul yang sama. Kisah yang sama pula, antara hubungan Sarwono dan Pingkan yang terhalangkan banyak hal.

Sarwono dan Pingkan adalah pasangan dosen muda di Universitas Indonesia. Sarwono mengajar program studi Antropologi, sementara Pingkan sendiri mengajar program studi Sastra Jepang. Keduanya juga sudah lama saling mengenal. Toar, kakak laki-laki Pingkan, merupakan teman main Sarwono saat masa SMP di Solo.

Sarwono selalu menciptakan puisi untuk Pingkan. Berkali pula Pingkan menyarankan agar puisi-puisi tersebut dikirimkan ke media saja untuk dimuat. Sarwono selalu menolak, dengan alasan bahwa puisi yang ia ciptakan hanya untuk Pingkan. Manisnya hubungan kedua insan ini. Konflik dimulai saat Pingkan hendak berangkat ke Jepang dalam rangka melanjutkan pendidikannya. Memang tidak lama, hanya 2 tahun. Namun berapa lama pun itu, Sarwono tetap takut melepas kepergian Pingkan. Ditambah lagi, di Jepang nantinya Pingkan akan ditemani dengan Katsuo, pria berparas rupawan kelahiran Jepang yang sempat belajar di Indonesia.

Sebelum itu, Sarwono ditugaskan untuk menjalin kerja sama antar prodi Antropologi di Universitas Sam Ratulangi. Karena terletak di Manado, Sarwono pun memilih Pingkan yang asli Manado untuk ikut menjadi asistennya di sana. Sekalian salam perpisahan sebelum ke Jepang, katanya.

Setiba di Manado, mereka bertemu dengan Pak Tumbelaka, dosen dari Universitas Sam Ratulangi yang terpikat dengan Pingkan. Belum lagi Pak Tumbelaka yang ternyata mengenal baik keluarga Pingkan, bahkan berencana hendak menikahinya.

Masalah semakin bertambah saat mereka pergi ke rumah Bibi Henny, tantenya Pingkan. Sedang ada acara keluarga di rumah Bibi Henny. Semua sanak saudara berkumpul. Hingga Pingkan bertemu kembali dengan Benny, sepupunya yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Benny pula yang bercerita kepada Sarwono bahwa mereka sudah dekat dari kecil. Alih-alih ke Manado sembari menghabiskan waktu bersama Pingkan, Sarwono justru semakin panas dengan keadaan.

Ternyata, Universitas Gorontalo baru membuka prodi Antropologi dan juga mengajak Universitas Indonesia untuk bekerja sama. Kebetulan Sarwono yang sedang di Manado, sehingga diutus pula ke Gorontalo.

Awalnya, Sarwono sudah senang akan melakukan perjalanan hanya dengan Pingkan. Namun, di detik sebelum berangkat, tiba-tiba Benny datang. Sehingga perjalanan ke Gorontalo pun ditemani dengan Benny, dengan ia yang menyetir.

Selama di perjalanan, ketika Sarwono melaksanakan shalat magrib, Benny memperingati Pingkan kalau Sarwono itu berbeda dengan mereka. Baik dari suku maupun agamanya. Sehingga untuk lanjut ke jenjang yang lebih serius akan sulit. Keluarga mereka juga kurang setuju, seperti ketika ayah Pingkan menikahi wanita berasal Solo, yang menjadi ibu Pingkan. Tentu saja Sarwono tetap kukuh mempertahankan hatinya.

Sekembalinya ke Manado, Sarwono dan Pingkan banyak mengunjungi tempat wisata. Pingkan pun menceritakan legenda khas Minahasa, yang juga menjadi asal-muasal namanya sendiri, yaitu cerita Putri Pingkan dan Matindas. Dikisahkan, Matindas adalah seseorang panglima perang. Ia mengukir sebuah patung menyerupai wajah Putri Pingkan, agar selalu dapat dibawa kemana-mana. Patung itu mengukir perasaan Matindas, juga merekam kecantikan serta kebaikan hati Putri Pingkan.

Pingkan menginap di rumah Bibi Henny, sementara Sarwono tetap di asrama Universitas Sam Ratulangi. Ketika makan malam bersama, Bibi Henny tetap memerintahkan Pingkan untuk menikah dengan sesama Manado. Lagi-lagi nama Pak Tumbelaka muncul. Ternyata, Pak Tumbelaka adalah kenalan Om Eddy. Tetap saja Pingkan menolak. Kemudian, Bibi Henny menyarankan, jika tidak ingin bersama Pak Tumbelaka, dengan Benny juga bisa. Benny hanya senyum-senyum. Pingkan semakin gusar dengan keadaan keluarganya.

Selesai sudah urusan di Manado, Sarwono dan Pingkan pun kembali ke Depok. Bahkan sebelum melakukan penerbangan, Benny kembali mengingatkan Sarwono untuk melepas Pingkan dari awal saja, mengalah dengan keadaan. Bukan Sarwono namanya jika tidak keras kepala.

Akhirnya, tiba juga keberangkatan Pingkan ke Jepang. Ketika pamit, Sarwono melakukan kebiasaannya, memberikan puisi yang dituliskannya di kertas kepada Pingkan.
Benar dugaan Sarwono. Di Jepang, Pingkan memang banyak menghabiskan waktu dengan Katsuo. Saat itu, bunga sakura sedang bermekaran. Pingkan memotret keindahan alam tersebut dan berkata akan menunjukkannya pada Sarwono. Katsuo yang mendengar hal tersebut sadar diri dan mundur, hanya diakibatkan oleh rasa rindunya Pingkan dengan Sarwono.

Kembali ke Indonesia, Sarwono memberanikan diri untuk mengirim puisi karyanya ke koran, atas permintaan Pingkan. Ternyata puisinya berhasil dimuat. Sarwono berencana untuk memberikan koran tersebut kepada Pingkan nanti saat Pingkan sudah kembali. Akhirnya, Pingkan pulang dari Jepang. Sengaja tidak memberitahu Sarwono bahwa akan pulang, karena ia ingin memberi kejutan kepadanya. Namun, ternyata Pingkan tidak menemui Sarwono di kampus. Hingga akhirnya, ibu Pingkan menelepon dan mengabarkan bahwa Sarwono jatuh sakit dan koma, kini sedang dirawat.

Pingkan segera menuju ke rumah sakit. Menangis tersedu melihat orang yang dirindukannya tertidur lemah. Ayah Sarwono memberikan koran yang dititipkan kepadanya untuk Pingkan. Pingkan pun membaca puisi dari Sarwono. Bahkan sebelum koma, Sarwono masih saja mengingat Pingkan. Hingga akhirnya Pingkan harus ikhlas, ternyata puisi tersebut adalah puisi terakhir dari Sarwono.

Film ini mengambil latar tempat keindahan kota Manado dan kecantikan bunga sakura di Jepang. Alur yang dibawakan juga ringan. Penonton dapat memahami jalan cerita dengan baik. Sayangnya, konflik yang ada terkesan tidak terselesaikan. Para keluarga tidak merestui mereka, Sarwono justru meninggalkan Pingkan. Namun di balik itu semua, film ini mengajarkan kita untuk jangan mudah tunduk dengan keadaan. Mau orang berkata apa, kita harus tetap berjuang, terlebih jika perjuangan itu demi orang yang kita sayangi.

Semoga kita setabah hujan di bulan Juni, bulan kemarau yang tidak ada hujannya. []

Peresensi bernama Shahibah Alyani, mahasiswi Jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala. Ia juga aktif sebagai anggota di UKM Pers DETaK USK.

Editor: Hijratun Hasanah