Beranda Opini Sistem Kebut Semalam, Sang SKS 2.0 yang Menyiksa Mahasiswa

Sistem Kebut Semalam, Sang SKS 2.0 yang Menyiksa Mahasiswa

BERBAGI
Ilustrasi. (Sumber: Pinterest)

Opini | DETaK

Mahasiswa mana yang tidak mengenal istilah sistem kebut semalam? Sering disingkat SKS, namun yang dimaksud jauh berbeda dengan “Satuan Kredit Semester.” Kita sebut saja si “Satuan Kredit Semester” dengan SKS 1.0 dan si “Sistem Kebut Semalam” dengan SKS 2.0. Sama-sama SKS, mereka bagaikan dua anak kembar tak seiras. Yang satu baik hati serta menyenangkan, satunya lagi cukup meresahkan.

Dengan SKS 2.0, kita diharuskan berjaga satu malam atau bahkan lebih demi menyelesaikan sesuatu tepat sebelum deadline-nya. Arti tepat di sini adalah yang sebenar-benarnya tepat. Bukan beberapa jam, melainkan beberapa menit bahkan mungkin detik sebelum tenggat. Yang penting selesai, kata mereka sebagai pelanggan SKS 2.0.

Atau jika hendak menghadapi ujian, SKS 2.0 akan memaksa kita untuk mengulang semua materi hanya dalam waktu semalam. Intinya, SKS 2.0 membuat otak berpacu lebih keras dari yang biasanya. Di balik itu, SKS 2.0 akan merampas waktu istirahat yang dimiliki. Akibatnya, otak menjadi mudah lelah dan konsentrasi dapat berkurang. Kalian yang belakangan ini suka telmi alias telat mikir, coba diingat, kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?

Belum lagi jika bercerita tentang penyakit dalam. Begadang sangat erat kaitannya dengan kesehatan ginjal. Bagaikan cermin, yang sekali pecah akan sulit mengembalikannya seperti keadaan semula. Pun banyaknya komplikasi yang mungkin terjadi setelah dilakukannya transplantasi. Jangan pernah menyia-nyiakan organ seharga 2,7 miliar ini.

Dari segi penampilan, SKS 2.0 dapat menciptakan mata panda. Walaupun biasanya panda adalah hewan yang imut, namun jika sudah dikaitkan dengan mata panda dan manusia, hal ini bukanlah sesuatu yang dapat diimutkan. Sepertinya lebih tepat ke mata naga. Berkantung, kasar, dan keriput.

Jika dilihat lebih dalam, SKS 2.0 sebenarnya memberi dampak positif. Istilah kerennya, the power of kepepet. Karena itu, kebanyakan mahasiswa gemar menunda-nunda. Ketika kepepet, hormon yang bernama adrenalin di dalam tubuh kita akan meningkat. Namun, kadar hormon adrenalin yang terlalu tinggi juga dapat mengakibatkan sakit kepala serta gangguan tidur (insomnia). Sebaiknya kita tidak terlalu sering melakukan SKS 2.0.

Memang, yang paling benar adalah jangan suka menumpuk tugas. Langsung kerjakan ketika sudah diberi. Karena kita tidak tahu ke depannya akan ada agenda apa. Siapa tahu, tiba-tiba diundang oleh Maudy Ayunda untuk membagi kiat bertema “Bahaya Menunda Tugas.”

Mahasiswa bisa saja menghindari SKS 2.0. Mengerjakan tugas jauh hari sebelum waktunya. Namun bagaimana jika dosen yang memberi tugas mengharuskan pengumpulan di waktu dekat? Para dosen seharusnya mengerti. Mahasiswa adalah manusia biasa yang juga makan, minum, mandi, dan mencukupi keperluan lainnya. Bahkan juga ada mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, demi memenuhi tuntutan hidup.

Tidak lucu jika ada mahasiswa di DO (Drop Out) yang alasannya tidak menyelesaikan tugas karena bekerja paruh waktu, atau sebaliknya, dipecat yang alasannya tidak masuk bekerja karena mengerjakan tugas kuliah.

Melakukan keduanya bersamaan juga bukan ide bagus. Jika bisa silakan, jika tidak jangan dipaksa. Karena sesuatu yang dipaksa itu tidak baik, apalagi dipaksa dengan bicara baik-baik. Seperti pengerjaan laporan praktikum yang hanya semalam waktunya, ini adalah salah satu contoh perilaku memaksa.

Bisa pusing 7 keliling memikirkannya. Belum lagi mengerjakan, masih berpikir. Tidak sempat sepertinya, waktu yang disediakan hanya satu malam. Kerjakan saja, jangan dipikir. Nanti-nanti, kalau nilai sudah keluar baru dipikir lagi.[]

Penulis adalah Shahibah Alyani, mahasiswa Prodi Teknik Geofisika, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala. Ia juga aktif di UKM Pers DETaK.

Editor: Indah Latifa