Beranda Cerpen Leumang Meugang Kiriman Mamak

[DETaR] Leumang Meugang Kiriman Mamak

BERBAGI
Ilustrasi Meugang. (Wendi Amiria/DETaK)

Indah Latifa | DETaK

Pantulan cahaya matahari menembus lurus kaca jendela kendaraan beroda empat yang melaju tenang di atas Jembatan Lamnyong itu, biasnya menyapu empat orang penumpang di dalamnya, sementara enam lainnya masih diam duduk manis menikmati AC dan lonjakan ban di atas jalanan yang tak rata.

“Ada yang turun?” tanya pramugara yang berdiri di samping pintu bus yang tertutup.

IKLAN
loading...


Seorang gadis dengan pakaian motif bunga melati berkerudung kuning gading mengangkat tangannya, ”Saya, Pak.” Trans Koetaradja tujuan Darussalam itu kemudian berbelok ke arah kiri mengikuti rutenya di pemberhentian depan Pasar Rukoh.

Langkah kakinya membawanya turun dari tangga halte portable. Seorang pria paruh baya juga mengikuti turun di belakangnya. Teriknya mentari serasa membakar kulit pungung tanggannya yang tak tertutup kain baju. Cepat-cepat ia berjalan menyebrang ke Pasar Rukoh.

Dua hari menjelang Ramadhan namun ia masih di Kota. Padahal Mamaknya berharap sekali anak gadisnya itu pulang ke kampong untuk merayakan meugang, menyambut bulan suci Ramadhan yang kehadirannya tinggal menghitung hari. Namun, sang anak tak dapat mengiyakan karena tuntutan kuliah dan tak punya biaya untuk pulang­ kampung, biaya makan saja sulit, pikirnya sekalian saja ia pulang menjelang lebaran nanti.

Niatnya hanya untuk beli sayur, tapi hatinya rasanya sesak tatkala melihat banyak sekali penjual daging sapi yang dikerumuni ibu-ibu. “Pue memblo, Buk? Tuleung? Asoe? Kulet?” tanya penjual daging pada ibu-ibu yang mampir di lapaknya. “Padum sekilo, Bang?” tanya balik sang ibu-ibu. Aina mendengar sambil berjalan melintas, hanya ada tempe dan daun bayam dalam plastik hitam belanjaannya.

Surut harapan agar bisa makan daging meugang, agar tak mengharap-harap ia lantas kembali ke kosnya di Kopelma. Lagi-lagi jalan kaki, memang jarak tempuhnya tak jauh, namun keringat rasanya membasahi rambut di kepalanya. Padahal kerudung telah menutupi mahkota indahnya itu.

Niat hati ingin menghindar, yang didapatinya dijalan pulang adalah puluhan penjual daging yang berbaris di tepi jalan kopelma. Tapi pagi-pagi sekali saat ia meninggalkan kos rasanya taka da penjual daging sebanyak itu. Meugang memanglah sangat identik dengan daging dan masakan kuah gulai, biasanya ada leumang bamboo, tapi Aina tak melihat pun ada penjual lemang di sekitar tempat tinggalnya.

Aroma daging yang amis menguar di sepanjang jalan. Ingin rasanya ia membeli sedikit tapi uangnya tak cukup. Lagi-lagi hanya mampu melihat. Beasiswa bidikmisi yang dinanti-nanti pun sepertinya akan telat cair. Harapan terakhir untuk pulang.

Esoknya, satu hari menjelang Ramadan, begitu ia keluar untuk membeli lauk makan pagi, penjual daging semakin banyak jumlahnya. Para pembeli sampai memadati jalan Kopelma berburu daging yang masih segar. Aina pulang dengan raut wajah yang murung.

“Kenapa Aina? Wajahmu kusut betul,” tanya Sarah, teman sekampung Aina yang juga kuliah di Universitas Syiah Kuala. “Aku sedih tak bisa pulang, Sar. Tak bisa ikut mak meugang. Tak bisa berjumpa Mamak menyambut Ramadhan. Aku rindu masakan Mamak, sunguh iri melihat ibu-ibu belanja daging di jalan sana.” Hampir saja air matanya jatuh, diurungkannya niat untuk menangis.

“Aku pun tak bisa pulang, Na. Rumah makan tempatku kerja tak memberikan libur. Kuat-kuatlah kita di sini menanggung rindu, Na. Dewasa nanti kalau sudah punya banyak uang, kita belanja daging banyak-banyak,” ucap Aina menenangkan sekaligus mengasihani diri sendiri.

Dering ponsel menghentikan niatannya untuk lanjut mengeluh. Dari nomor tak dikenal. Aina sempat mendiamkannya, namun ponselnya berdering sekali lagi. Ternyata supir mobil travel yang menelpon, memberitahukan ada paket kiriman dari kampungnya, Jeuram, Nagan Raya.

Empat batang lemang bambu datang dari kampung dalam bentuk paket, dibungkus dengan karung beras dan diikat. Di dalamnya terdapat surat dari mamaknya.

“Aina, mamak kirimkan leumang untuk anak mamak. Telpon mamak kalau leumangnya sudah sampai. Tidak ada daging mak meugang kali ini, padi kita belum panen. Leumang saja ya, Neuk.”

Air matanya langsung mengucur tak terbendung, ditelponnya nomor mamaknya. Langsung diangkat dalam dering kedua. Sepertinya sang Mamak juga telah menantikan kabar sang anak. “Assalamualaikum, Mak. Leumangnya sudah sampai.”

Waalaikumsalam, syukurlah kalau sudah sampai. Mamak tidak punya uang buat beli daging meugang, karna Aina tidak pulang Mamak kirimkan leumang saja, ya, Neuk. Dimakan berdua dengan Sarah. Baik-baik di sana,” ucap mamaknya dari seberang telepon. Dari suaranya, Aina mendengar suara mamaknya menahan sedih.

Nggak apa-apa, Mak. Leumang saja sudah cukup. Terima kasih, ya, Mak.”

Menyambut bulan Ramadan tanpa keluarga rasanya seperti ada yang hilang. Walau tak ada daging meugang, Aina bisa merasakan leumang kiriman dari mamaknya di kampung. Walau tak bisa bersama, lemang bambu dari mamak tetap bisa menghadirkan suasana mak meugang.[]

#30 Hari Bercerita