Beranda Cerpen Kakakku Inspirasiku

Kakakku Inspirasiku

BERBAGI
Ist.(sumber: Google)

 Cerpen | DETaK

“Menyebalkan…” Itulah kata pertama yang keluar dari mulutku tiap kali harus mengikuti mereka. Harusnya liburan ini merupakan perjalanan yang sangat menyenangkan setelah aku melalui banyak kesulitan selama mengikuti ujian dan seambrek tugas sebelum aku pergi menamatkan sekolah menengah atasku. Namun, Ya Allah… apa yang mereka lakukan setelah aku, ayah, dan ibuku, serta dua kakakku yang cerewet luar biasa ini sampai di toko buku besar ini? Masih pagi lagi. Tokonya saja belum buka.

Akhirnya setelah menunggu sepuluh menit, toko itu dibuka juga. Tak lama kemudian kami melihat orang-orang juga mulai masuk.

IKLAN
loading...


Dua kakakku ini, di pikiran mereka  bisa-bisanya hanya  buku, buku, dan buku. Jika bicara tentang buku—apa saja—sepertinya mereka tidak pernah kehabisan bahan. Memangnya apa sih enaknya menghabiskan hampir semua uang jajan yang mereka kumpulkan berbulan-bulan untuk membeli buku? Apa menariknya tumpukan-tumpukan kertas itu? Kurasa hanya membuang-buang waktu dan uang  mereka saja, ya kan?

Aku sepertinya sudah ditakdirkan untuk mengikuti mereka setiap kali singgah ke toko buku. Karena kami biasanya selalu pergi bersama keluarga untuk acara-acara seperti ini.

Jika membeli buku, mereka seperti ingin memindahkannya ke rumah semuanya. Bukannya satu atau dua buku tapi lebih dari itu. Jika mereka memiliki tabungan berapa pun, aku yakin pasti semuanya akan mereka belikan buku. Ampun ampun… Kakak-kakakku itu. Mereka sangat suka belajar bahasa Jepang dan Korea sehingga selalu mencari kamus-kamus terbaru tentang hobi mereka itu. Lumayan juga tuh harga satu kamus. Terkadang harganya sampai seratus  ribu bahkan lebih mahal dari itu. Tetapi lagi-lagi mereka tidak pernah sayang untuk mengeluarkan uang berapa pun. Sementara aku lebih suka dengan gayaku tentunya, membeli tas sandang yang imut atau apa sajalah untuk gaya-gayaan.

“Ayo, Kak! Kita ke atas. Di sana lebih banyak buku,” kata kakakku kepada kakak tertuaku.

“Ayo, Dek!” sahutnya. Kakak tertuaku memanggil “adek” kepadanya yang harusnya panggilan itu untukku. Kata ibuku sebelum aku lahir, ibuku tidak ingin menambah anggota keluarga lagi. Jadi kakakku itu merasa dia anak terakhir. Tapi kasihan sekali, aku lahir setelah lima tahun umurnya. Weleh…tapi panggilan itu sudah melekat padanya sehingga jika ibu tidak melarangku, aku ingin memanggilnya adik juga. Aku tersenyum kecil.

“Aiiisssh.. aku ditinggal?” jeritku kepada mereka yang sudah pergi meninggalkanku. Tuh kan, selalu begitu. Aku dianggap masih terlalu kecil bagi mereka. Padahal sungguh, tubuhku lebih besar daripada kedua kakakku itu. Aku harus jadi anak mami kata mereka. Kemana-mana tidak boleh jauh dari ibu.

“Ayo, Bu, kita lihat tas saja dari pada ikut mereka,” kataku dengan sedikit cemberut. Bukan cemberut karena ibuku tentunya. Tuh, gara-gara mereka.  

Aku dan ibuku pun pergi melihat tas dan pernak-pernik yang sangat menarik. Menurutku sihh… Aku melihat ada tas yang sangat cantik, warnanya pink. Pink adalah warna kesukaanku, dan kakak-kakakku itu anti warna pink. Mereka menyebutnya dengan istilah “PERANTING (Persatuan Anti Ping). Haha… Sifatku dan kedua kakakku memang sangat bertolak belakang.

Tanpa terasa hari beranjak sore. Sudah berapa jam kami di sini ya? bisikku dalam hati sambil melirik arlojiku.

“Kita salat asar di sini saja, ya. Mana kakak-kakakmu. Belum muncul juga? Ya Allah…sudah berapa jam kita di sini?” kata ibuku. Kelihatan ibu sudah kelelahan jalan ke sana-sini tadi sewaktu melihat-lihat dan belanja pernak-pernik keinginanku.

“Ya gitu deh anak Ibu. Mereka  pikir toko ini milik mereka,” kataku kesal.

Ibu menelepon, tidak diangkat. Menelepon lagi. Tidak diangkat juga. Tapi kata ibu nadanya tersambung. Menelepon lagi…berulang-ulang. Terakhir setelah enam kali menelepon, “Ibu, maaf. HP-ya di-silent,” kata kakakku yang muda.

“Maaf, ya,” kata kakakku. Bagaimana mungkin ibu tidak memaafkan. Kasih ibu tiada bertepi, kataku dalam hati.

“Ya sudah, cepatlah keluar. Kami semua sudah di luar sedang minum kopi. Bukan Ibu, tapi ayahmu,” kata ibu.

“Dasar ya kalian berdua,” ketika aku melihat kedatangan mereka. “Setiap ke toko buku, kalian selalu mengesalkan. Memang apa sih yang kalian cari sampai lupa waktu?” Aku mengomel seperti ibu-ibu. Hihihi…

Kami menuju masjid dekat dengan toko buku tersebut untuk salat asar. Eeeh…memang dasar kakak-kakakku, begitu selesai salat langsung buku-buku tadi mereka buka plastiknya. Asik dengan bacaannya masing-masing.

“Halo kakak-kakakku yang cantiik…kita pulang,” kataku. Kesimpulannya, kedua kakakku ini jika sudah membaca, mereka lupa orang-orang di sampingnya. Gila baca tepatnya.

******

“Heiiii… kalian BANGUNNN!” kataku sambil menjerit dan memukul-mukul kedua kakakku.

“Aku masih ngantuk,” sahut mereka bersamaan.

“Kita mau pergi ke mall, ayo cepat bangun.”

“Baiklah,” kata mereka berdua sambil mengusap-ngusap mata.

“Lo udah mandi Sa? Tumben biasanya lo masih bangkong jam segini,” kata kakak tertuaku.

“Jangan bilang karena mau ke mall?” sambungnya lagi.

“Emangnya kenapa kalau iya. Emang kalian aja yang bisa ke tempat yang kalian suka? Aku juga bisa membeli sesuatu yang aku inginkan.…Ya sudah sana mandi!“ sahutku sambil mendorongnya ke kamar mandi.

Beberapa jam telah berlalu aku sudah bosan menunggu mereka yang lama sekali berdandan dan akhirnya mereka keluar juga.

“Iiihhh…udah dibilang ga pake lama. Kalian sih kayak berbie aja dandannya,” kataku.

“Emang kita berbie ya kan, Dek?” kata kakak tertuaku kepada adiknya dengan senyum lebar.

“Iya bener tu, Kak,” sahutnya.

“Ya sudah ayo kita pergi,” kataku.

Kami pun pergi menuju mall. Setelah sampai di sana aku langsung mengajak ibuku untuk berbelanja baju dan tidak salah lagi mereka berdua pergi ke toko buku yang terdapat di lantai atas.

“Ibu, aku dan kakak pergi ke toko buku yang terdapat di atas, ya?” kata kakakku kepada ibuku.

“Toko buku lagi..?” tanya ibuku sambil memandang mereka heran.

“Hehehe iya, Bu,” kata mereka sambil tertawa.

“Baik, pergilah tapi jangan lama-lama, ya,” kata ibu.

Ok!” sahut kakak-kakakku.

Mereka memisahkan diri dari  aku, ayah dan ibuku. Kami ke tempat yang aku inginkan.

Sudah tidak terasa berjam-jam kami menghabiskan waktu di dalam mall yang cukup besar itu. Aku dan keluargaku pun merasa letih akhirnya kami pulang ke rumah dengan seambrek belanjaanku. Aku senang sekali ibu membelikanku banyak hadiah. Apaan kakak-kakakku itu. Seperti aku dong belanjanya. Masa buku-buku…ada-ada aja, batinku. Bener-bener ga asik mereka. Apaan setiap waktu bergelut dengan buku.

Menjelang ujian nasional kakak tertuaku, hmm…tau kan, sesibuk apa dia dengan tumpukan buku-bukunya itu. Akhirnya, alhamdulillah… dia lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Aku tahu, ini karena dia sangat serius jika sudah belajar. 

Entah bagaimana, ketika dia pergi untuk mengikuti tes perguruan tinggi di salah satu kota, seseorang melamarnya dari jarak jauh. Itu aku dengar sepintas saat dia menelepon ibuku. Hei, apa-apaan ini, pikirku. Sejak kapan dia mengenal laki-laki? Setahuku, dia tidak pernah bicara sekalipun pada seorang pria yang seperti memiliki hubungan pribadi. Aku merasa ini seperti bohong-bohongan. Pasti ada laki-laki iseng, pikirku. Tapi ternyata itu benar-benar terjadi. Laki-laki yang tak pernah dikenal kakakku, bahkan laki-laki itu juga tidak mengenal kakakku sebelumnya, setelah dua bulan peristiwa perkenalan itu terjadi, datang ke rumahku dan melamar kakakku. Dia ingin cepat-cepat memboyong kakakku ke negeri sakura dan ingin menikahinya sesegera mungkin.

Setelah dua bulan keluarga laki-laki itu melamar kakakku, dua bulan kemudian mereka menikah. Aku masih terpana ketika melepas kepergiannya di bandara. Aku masih belum bisa percaya dia pergi sejauh itu… dengan umur yang semuda itu…tamat SMA, dan baru delapan belas tahun. Yang paling membuatku sedih adalah ketika setiap kali menatap wajah ibuku. Aku tidak sanggup  melihat butiran air matanya jatuh satu persatu menetesi pipinya. Setiap ia ingin makan, makanannya dimasukkannya kembali ke tempatnya semula. Dan itulah yang dilakukannya setiap hari.

“Ibu, makanlah walau sedikit saja,” kata kakak keduaku. “Kakak pergi bukan untuk hal yang buruk. Dia mengikuti suaminya. Tidakkah ibu ingin melihat dia bahagia? Makanlah Bu. Ibu bisa sakit kalau begini terus,” lanjutnya sambil memeluk ibuku dari belakang. Aku ikut menangis menyaksikan kejadian itu. Semua di rumah merasa kehilangan. Tapi aku tahu ibu belum pernah berpisah dengan anak-anaknya selama ini.

“Iya,” kata ibuku sambil menghapus air matanya.  

Lama ibu merasakan ketidakhadiran kakakku di sampingnya. Tapi sekarang ibu sudah mau makan. Karena kakak pertamaku berjanji melalui telepon, mereka akan pulang ke rumah kami lebaran ini. Katanya setelah ini mereka akan tinggal di Jakarta. Wajah ibuku mulai cerah.

Ketika mereka pulang ke rumah, lagi-lagi kakakku ini membawa buku yang lumayan banyak. Tapi aku tidak bisa mengerti isi bukunya itu karena sebahagiannya berbahasa Jepang. Oh ya…kakak tertuaku ini kemampuannya dalam berbahasa Jepang lumayan juga. Selain hobi membaca buku-buku literatur Jepang, di SMA katanya juga mempelajari bahasa Jepang. Mungkin itu pula cara Allah menjodohkannya dengan seorang laki-laki  yang tinggal di sana untuk urusan pekerjaannya selama dua tahun.

Di Jakarta kakakku melanjutkan kuliah jurusan…apalagi jika bukan sastra Jepang. Suaminya masih sering bolak-balik ke Jepang untuk urusan pekerjaannya.

Setelah kurang empat tahun kuliah, akhirnya ia menyelesaikan kuliahnya. Malam itu dia menelepon ibuku.

“Ibu, kami tidak dapat pulang lebaran ini.” Kedengaran ibu mengomel panjang lebar. Ibu kecewa karena sebelumnya kakak dan suaminya berjanji akan pulang setelah dua tahun mereka tidak pulang.

“Jangan marah dulu, Ibu sayang.” Lalu mereka bercerita lumayan lama. Ibu membesarkan volume handphone agar kami dapat mendengar suara kakak tertuaku ini.

“Horeee!!!” teriakku saat kakak mengundang kami semua ke Jakarta dalam acara wisudanya seminggu setelah Idul Adha. Aku senang sekali walaupun sebelumnya aku juga pernah ke rumah kakak di Jakarta bersama ayah dan ibu setahun lalu. Tapi ini semuanya. Pasti lebih seru.

Saat wisuda kakak tertuaku, aku hanya menunggu di luar bersama kakakku, suami kakakku juga ada adik ayah yang tinggal di Jakarta. Sambil menunggu ibu dan ayah di dalam gedung, kami berjalan-jalan di taman. Tamannya luas sekali. Pemandangan di sana itu indah sekali. Benar-benar membuat suasana hatiku bahagia.

Ibu menelepon mengatakan kami boleh masuk. Acara wisuda selesai. Kami memberi ucapan selamat kepada kakakku yang imut ini. Aku dan kakak keduaku sengaja membeli buket bunga untuknya yang akan kami persembahkan kepadanya sebagai wujud sayang kami berdua. Walaupun dia tertua tetapi tubuhnya paling imut di antara kami bertiga. Kadang aku memeluknya dan mengangkatnya dan membopongnya ke tempat tidur. Hahaha…

Tapi tiba-tiba kakak tertuaku menunjukkan medali yang terkalung di lehernya. Tertulis di kalung itu “LULUSAN TERBAIK TAHUN 2020.” Ya Allah…aku tidak menyangka dari empat ratus lebih wisudawan hanya kakak tertuaku yang berhasil lulus dengan predikat “CUM LAUDE”. Aku cubit kecil pipinya hampir tak percaya.

“Masa iya, Bu,” kataku pada ibu sambil memandang wajah kakak imutku heran.

“Iya,” kata ibuku sambil tersenyum. “Ibu juga tadi tidak percaya. Namun ketika namanya dipanggil untuk dikalungkan penghargaan itu ke atas panggung, Ibu baru percaya,” kata ibu terharu bahagia. Aku memeluknya kembali, tanda bangga atas prestasinya. Kakakku yang luar biasa. Apa mahasiswa lain bodoh semua, pikirku. Pasti tidak. Ini Jakarta, bukan daerah terpencil. Lagi pula mana mungkin di daerah terpencil terdapat perguruan tinggi. Aku senyum-senyum sendiri memikirkan ketololanku itu. Aku memeluknya berkali-kali sampai dia teriak.

“Hei…sakit. Kamu itu sudah besar tahu…! Lenganmu itu bisa membuat dadaku sesak.” Sambil menarik telingaku. Aku baru sadar dan melepaskan rangkulanku padanya. “Mungkin aku terlalu gembira kakakku sayang,” kataku. 

Sebenarnya beberapa kali kakakku memberi tahu ibu bahwa nilai-nilainya selalu berada di atas rata-rata setiap semester. Aku yakin, ini tidak akan berhasil tanpa usaha dan tentunya doa ibuku yang tak pernah bosan untuknya. Juga cara belajarnya. Mencintai buku-buku, bahkan ia tidak pernah sayang untuk mengorbankan rupiah-rupiahnya untuk hobinya itu, yang aku pikir lebih baik dibelikan yang lain. Tapi pandanganku selama ini tentang hobinya itu salah besar. Aku pikir untuk apa terus menerus membaca buku. Hidup ini santai sedikitlah, begitulah pikiranku. Tapi aku salah. Ternyata dua kakakku telah membuktikan keberhasilannya. Dengan mencintai buku, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan.

Saat ini kakak keduaku juga mendapatkan hasil sangat memuaskan di kampusnya. Bahkan semester kemarin kata ibuku, dia berhasil mendapatkan nilai A untuk delapan mata kuliahnya. Subhanallah…kakak-kakakku yang hebat. Aku jadi malu. Aku selalu memikirkan kesenanganku saja.  Membeli sesuatu yang kurang bermanfaat. Ibu sesekali menegurku. Tapi aku terkadang kurang mempedulikannya. Sekarang aku ingin memulainya. Aku ingin seperti kedua kakakku. Menjadi kebanggaan ayah ibuku. Membuat ayah ibuku bahagia. Aku mohon, ya Allah…

Penulis bernama Ivo Laila Raihani, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala angkatan 2019.

Editor: Feti Mulia Sukma