Beranda Opini Tenyata Menjadi Guru Tidaklah Mudah

Tenyata Menjadi Guru Tidaklah Mudah

BERBAGI
KKN di Kampung Tercinta (Nihayatul Afifah Husna | DETaK)
loading...

Opini | DETaK

Pengabdian masyarakat, agaknya kata-kata ini sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang. Setiap universitas akan mewajibkan mahasiswanya melakukan pengabdian kepada masyrakat sebagai salah satu syarat kelulusan di universitas tersebut.

Pengabdian masyarakat dengan nama KKNT-MM II kali ini berbeda, segala programnya dilaksakan secara mandiri di kampung mahasiswa masing-masing. Namun siapa sangka KKN yang dilakukan di desa masing-masing ternyata memberikan cerita tersendiri yang begitu berkesan di hati.

Saat senja mulai tergelincir di pelupuk barat tepatnya pada tanggal 18 Januari 2021, ringan langkah kakiku mulai berayun. Ayunan kaki membawaku menuju perumahan warga, sudah terlalu sore memang, namun hal ini yang bisa dilakukan, sebab saat pagi hari masyarakat di kampungku pergi berkebun.

Tujuanku tak hanya untuk bersilaturrahmi, namun aku juga mulai mencari murid SD untuk kubimbing dalam proses belajar selama satu bulan ke depan. Sambutan hangat yang disuguhkan oleh tuan rumah membuatku nyaman bercengkrama bersama mereka, menceritakan sedikit pengalaman kuliah juga mendengarkan keluhan mereka tentang pandemi Covid-19 yang berdampak bagi dunia pendidikan.

Keesokan harinya, aku mulai membimbing murid SD dalam proses belajar membaca, menulis dan berhitung. Ternyata benar, Covid-19 sangatlah berdampak bagi sistem pendidikan, banyak siswa/siswi SD yang lupa atau bahkan belum bisa sama sekali dalam proses belajar menulis, membaca dan berhitung. Namun, melihat semangat yang terpancar dari wajah merika membangkitkan semangatku untuk perlahan-lahan membimbing mereka dalam proses belajar.

Ternyata menjadi guru tidak semudah yang dibayangkan, seorang guru tidak hanya mengajarkan materi namun juga harus berprilaku yang baik sebab para murid akan mencontohnya. Ada tantangan tersendiri yang aku hadapi, di mana aku harus merubah pola pikir murid, di mana saat mereka dijahili oleh temannya dalam bentuk sebuah ejekan mereka akan membalas ejekan tersebut sehingga mereka akan terlibat perkelahian.

Saat aku bertanya “Hai, mengapa kamu balas mengejeknya?,” mereka pun menjawab “Di sekolah kata ibu guru kalau misal kita diejek harus balas ejek, kalau dipukul harus balas pukul, kak.”

Ini pola pikir yang salah dan sudah tertanam dalam pikiran mereka, dan ini adalah tantangan yang sangat besar yang aku hadapi dalam sebulan. Alhamdulillah perlahan-lahan mereka mulai merubah pola pikir itu dan mulai diterapkan dalam hidup mereka, satu minggu terakhir mereka sudah tidak terlibat adu mulut ataupun perkelahian lagi.

Mungkin sangat sulit membawa perubahan dalam 1 bulan, namun semua akan aku usahakan semaksimal mungkin.

Penulis bernama Nihayatul Afifah Husna, salah satu anggota aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers DETaK Universitas Syiah Kuala.

IKLAN
loading...


Editor: Indah Latifa