Beranda Feature Laboran dan Aslab, Profesi Mulia Kadang Luput dari Perhatian

Laboran dan Aslab, Profesi Mulia Kadang Luput dari Perhatian

BERBAGI
Ilustrasi Aslab (Badriatul Istiqamah | DETaK)

Satria Liswanda | DETaK

Darussalam- Laboratorium menjadi salah satu bagian terpenting dari sebuah universitas, terutama fakultas yang berkonsentrasi pada bidang sains dan teknologi. Melakukan praktikum di laboratorium tidak bisa dilakukan sendiri oleh mahasiswa tanpa ada pembimbing. Dalam hal ini peran laboran ataupun asisten laboratorium (aslab) sangatlah penting. Merekalah yang akan memperkenalkan dan mengajarkan semua tentang laboratorium sesuai dengan yang harus diikuti.

Beberapa laboran dan aslab kami temui dari berbagai fakultas di Universitas Syiah Kuala (USK), di antaranya dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Pertanian (FP).

Masing-masing fakultas memiliki kebijakan tersendiri terhadap laboratorium, baik dalam hal perekrutan laboran dan aslab, maupun kebijakan yang berkaitan dengan praktikan dan alat-alat praktikum. Terdapat fakultas yang mempunyai syarat kelulusan yaitu dengan harus menjadi aslab, seperti yang diterapkan pada salah satu prodi di Fakultas MIPA.

Beberapa fakultas di Universitas Syiah Kuala (USK) merekrut laboran dan aslab dari mahasiswa yang sudah jadi alumni, ada juga fakultas yang merekrut mahasiswa aktif di fakultas tersebut sebagai aslab. Mereka semua telah dibekali dengan ilmu yang diajarkan di kelas perkuliahan. Menjadi aslab bukanlah suatu hal yang mudah, bagi mahasiswa aktif harus pandai mengatur waktu antara perkuliahan, organisasi, dan mengikuti kelas lab itu sendiri.

“Cara mengatur waktu pertama kita tentukan prioritas. Prioritas utama pasti diri sendiri, ibadah, dan keluarga. Prioritas selanjutnya yaitu akademik dan menjadi aslab, itu merupakan prioritas waktu saya. Yang penting ialah pandai-pandai dalam mengatur waktu secara efektif dan efisien. Dalam bekerja bukan hanya kerja keras, tapi harus kerja cerdas, kalau bisa digabung antara keduanya dan dikurangi waktu yang kurang bermanfaat,” ungkap Dista Ismaridha, aslab bidang histologi Fakultas Kedokteran.

Menjadi laboran atau aslab tentunya memiliki dampak positif dan negatifnya. Kebanyakan mereka mengatakan lebih banyak dampak positif daripada dampak negatif. Dampak positifnya ialah mereka bisa menunjang ilmu yang sudah didapatkan sebelumnya, menambah pengalaman, menambah relasi dengan mahasiswa praktikan dan dosen, serta mengisi waktu luang untuk hal yang bermanfaat.

“Dampak positif yang saya rasakan selama menjadi aslab, saya banyak menemukan hal-hal baru seperti karakter praktikan yang unik, lucu, dan
respek. Selain itu, dampak positifnya ialah mempunyai relasi baru dan membuka pergaulan baru, itu bagian dari sisi kehidupan. Dari sisi akademik yang saya dapatkan ialah saya bisa mengasah kembali apa saja engetahuan yang masih kurang dalam diri saya. Dampak negatifnya saya kekurangan waktu untuk bermain secara pribadi atau kurang me time, tapi it’s okay untuk mengajarkan orang lain saya tidak akan kehilangan ilmu yang sudah saya miliki juga menambah pengalaman micro teaching saya,” ungkap Shara Fhonna, aslab di jurusan Kimia Fakultas MIPA.

Pihak akademik sangat mendukung mahasiswa untuk menjadi aslab, tidak ada perlakuan perbedaan dari pihak akademik terhadap aslab. Rata-rata mahasiswa yang menjadi aslab mengambil jam di laboratorium sebanyak 2-4 jam. Di akhir semester setiap aslab mendapatkan insentif berupa sertifikat SKPI dan uang, namun terdapat fakultas yang hanya memberikan insentif dalam bentuk uang.

IKLAN
loading...


Menurut beberapa aslab yang telah diwawancarai, ada yang berpendapat insentif tersebut sesuai dengan kinerjanya di laboratorium. Namun, ada juga yang berpendapat kalau insentifnya sangat tidak sesuai dengan apa yang dilakukan di laboratorium. Namun mereka tidak mempermasalahkannya, karena menurut mereka pengalaman yang didapatkan jauh lebih besar.

Harapan ke depan yang diinginkan laboran dan aslab di laboratorium cukup beragam. Mereka mengharapkan agar fasilitas di laboratorium diperbagus dan dipadai lagi. Untuk laboratorium yang kurang tenaga teknisinya mereka berharap agar dilakukan rekrutmen anggota baru supaya ilmu di laboratorium bisa terus berkembang dan ada generasi yang meneruskannya. Dalam hal rekrutmen anggota, mereka juga mengharapkan ada standarisasi yang harus terpenuhi dan juga harus kompeten pada disiplin ilmu yang akan diajarkan kepada orang lain.

Editor: Indah Latifa