Beranda Artikel Nandong, Tradisi Lisan Gejala Bencana Alam di Simeulue

[Kilasan] Nandong, Tradisi Lisan Gejala Bencana Alam di Simeulue

BERBAGI
Ist. (Sumber: Google)

Rifdah Afifah Bardan | DETaK

Pulau Simeulue merupakan pulau yang tersusun atas batuan aluvial dan berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh. Salah satu tradisi Simeulue yang diwariskan secara turun-temurun yaitu nandong. Melalui nandong atau bersyair, para orang tua mengajarkan kepada anak-cucunya tentang bagaimana melihat gejala bencana alam. Bencana alam yang kerap melanda pulau ataupun pesisir seperti gempa bumi dan gelombang laut besar yang dikenal sebagai tsunami. Dalam nandong, tsunami dikenal dengan smong.

Pengalaman mengalami smong atau gelombang tsunami tahun 1907 di daerah Salur, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue diturunkan melalui syair nyanyian nandong dari generasi ke generasi agar cermat membaca tanda-tanda alam.

IKLAN
loading...


Lirik nandong tentang smong jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih memiliki arti, “Diawali oleh gempa, disusul ombak yang besar sekali, tenggelam seluruh kampung, tiba-tiba saja. Jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segeralah cari tempat yang lebih tinggi. Itulah gelombang laut setelah gempa”. Tradisi lisan turun-temurun ini menjadi memori kolektif masyarakat tentang kondisi tempat tinggalnya yang rawan gempa dan smong/tsunami.

Meski tak mempunyai teknologi peringatan dini terjadinya tsunami, masyarakat Simeulue mampu membaca tanda-tanda alam. Kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun ini pula mampu menghindari jatuhnya banyak korban saat bencana tsunami. Dari 78 ribu penduduk Pulau Simeulue yang sebagian besar adalah nelayan dan tinggal di kawasan pesisir, korban jiwa tercatat 7 orang. Jauh lebih kecil dibanding daerah lain yang dilanda gempa dan tsunami pada tahun 2004.[]

#30HariKilasanSejarah

Editor: Indah Latifa