Beranda Feature Catatan Mimpi Si Visioner

Catatan Mimpi Si Visioner

BERBAGI
Ilustrator: Wendy Amiria/DETaK

Nurul Hasanah | DETaK

Banyak orang berpendapat kalau bermimpi itu jangan sampai melangit, benarkah demikian? Padahal, mimpi setinggi-tingginya itu bukanlah sebuah dosa. Terutama bagi kaum perempuan. Mimpi melangit ini kerap kali dicap tidak baik karena dianggap hidupnya sudah ditakdirkan ke dapur. Namun bagi Iin, sapaan akrab Iin Mutmainnah, salah satu dari sekian banyak perempuan visioner yang memiliki segudang mimpi, anggapan itu mampu ia patahkan dengan mewujudkan mimpinya.

Kepadaku, dara kelahiran tahun 2000 asal Bontang, Kalimantan Timur, mengaku tekun menulis berbagai impiannya dalam catatan-catatan kecil. Iin kemudian mulai bercerita dengan penuh antusias bagaimana doa-doanya yang sudah lama dituliskan mulai terwujud perlahan-lahan.

IKLAN
loading...


Iin mengatakan, ia sudah mencatat berbagai hal-hal yang diimpikan sejak SMP. Di antara mimpinya yang telah ia tuliskan ialah berkuliah di Pulau Jawa dengan beasiswa. Bagai mimpi, impian Iin ini kemudian terwujud. Iin berhasil mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret, Jawa Tengah jurusan Agribisnis. Tidak hanya itu, Iin juga tidak perlu mengeluarkan uang dalam proses pendidikannya ini. Dari berbagai proses selektif beasiswa yang diadakan oleh perusahaan minyak dan gas alam ternama di Kalimantan Timur, Iin berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa tersebut.

“Jadi pas SMP, aku ingat aku tulisin kalau aku pingin kuliah di Jawa. Terus aku juga tulis pingin kuliah pakai beasiswa, akhirnya aku juga dapat beasiswa. Jadi, aku kuliah itu enggak bayar. Bahkan, tiket pulang pergi pun juga dibayarin,” ungkap Iin.

Meski aku tidak bisa melihat langsung mata yang berbinar-binar sambil bercerita tentang impiannya, tapi aku bisa mendengar Iin menceritakan kisahnya ini dengan nada-nada semangat. Awalnya, Iin menceritakan bagaimana mimpinya ini bisa jadi dianggap mustahil bagi masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya. Namun, Iin tetap tidak patah semangat. Apalagi, sebagai anak pertama, Iin merupakan sosok yang kuat dan juga mandiri. Hal tersebut baginya merupakan sebuah tantangan yang tidak mungkin tercapai kalau bukan kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

“Kalau dipikir-pikir, mimpi itu bagi masyarakat di lingkungan sekitarku adalah mimpi yang terlalu tinggi. Di sekitar rumahku juga jarang banget yang kuliah ke Jawa, karena kalau di sini rata-rata pada ke Makassar sama ke Kalimantan juga,” lanjutnya.

Kepada Iin, aku juga menanyakan alasan di balik ketekunannya dalam menulis impiannya. Saat kutanyai, Iin menjawab karena impian yang ditulis itu terasa lebih mudah dikabulkan oleh sang Mahakuasa.

“Tulisan mimpi itu kaya lebih mudah tercapai,” kata Iin antusias.

Jawaban Iin ini juga terbukti dari terwujudnya impian Iin jalan-jalan mengelilingi Nusantara. Iin mengatakan bahwa saat ini ia sudah pernah menyambangi tiga pulau, yaitu Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi. Selain itu, semenjak kuliah di Jawa, Iin mengaku sering solo traveling ke Bandung, ke Semarang, ke Kudus, dan ke Malang. Ia juga berencana akan ke Pulau Sumatra apabila ada kesempatan.

“Dulu hampir sempat ke Aceh buat jadi official mewakili MTQ UNS. Tapi, karena udah pesan tiket duluan ke Bontang enggak jadi,” ungkapnya dengan agak kecewa.

Di samping itu, Iin juga berbagi impiannya di tahun ini kepadaku. Ia mengatakan ingin merampungkan sebuah buku sebelum tahun 2021. Saat ini, di tengah kesibukannya dengan aktivitas perkuliahan, Iin menyempatkan untuk menulis buku yang berisi jurnal hidupnya. Buku itu kata Iin, berisikan pengalaman-pengalaman yang pernah ia hadapi yang dituliskan dalam bentuk kata-kata yang menginspirasi. Melalui buku tersebut, Iin berharap dapat mengedukasi dirinya agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, buku itu juga ditulis sebagai bentuk dedikasi atas pencapaiannya selama hidup di dunia.

“Aku ingin kalau misalnya aku mati, punya sesuatu karya gitu,” sambungnya malu-malu.

Sebenarnya, Iin belum memiliki rencana apakah buku ini akan dikirim ke penerbit atau tidak. Namun, Iin menargetkan apabila bukunya ini suatu saat masuk ke penerbit, maka seluruh uangnya akan ia donasikan.

“Mungkin ini mimpi yang terlalu besar, kalau misalnya buku ini masuk ke penerbitan, aku ingin uangnya tu semuanya aku donasikan, bener-bener enggak buat diriku sendiri,” harapnya.

Mendengar jawaban dari Iin, dalam hati aku langsung mengamini agar niat baik Iin dapat dikabulkan suatu saat nanti. Hal itu bukan tidak mungkin. Apalagi, mengingat catatan impian Iin yang awalnya hanya sebuah mimpi bagi Iin. Namun kini satu persatu diwujudkan oleh yang Mahakuasa. Dari Iin, kita belajar banyak hal, salah satunya mimpi akan terasa lebih nyata jika dituliskan. Mimpilah melangit dan tuliskan! Kita tidak pernah tahu malaikat mana yang mengamini tulisan mimpi kita. []

Editor: Missanur Refasesa

BERBAGI