Beranda Cerbung My Ekstrovert Twin Part 6

My Ekstrovert Twin Part 6

My Ekstrovert Twin (Wendi Amiria/DETaK)
loading...

Cerbung | DETaK

Setelah berganti pakaian aku lalu bercermin, kini aku benar-benar disulap seperti Sherly, dengan gaya pakaian ini dan rambut yang di kuncir. Bahkan aku sendiri kebingungan, apa bayangan di cermin itu adalah aku atau Sherly.

“Andre, selamat datang, tapi kok datang sih? pangeran yang tidak diharapkan ya lebih baik tidak usah datang saja,” Adel menyapa Andre yang terus melangkah mendekati kami, dia juga tertawa menyeringai seperti hendak membuat candaan dengan Andre.

IKLAN
loading...


“Kalau gue pangeran yang tidak di harapkan berarti anda adalah pengawal setia yang tidak di bayar,” celetuk Andre membalas perkataan Adel.

“Eh, gue bukan pengawal ya, selain itu gue dibayar kok, Sherly kan kemana-mana selalu bayarin gue makan, dia juga gak pernah pelit buat ngasih gue sesuatu,” balas Adel sambil memukul kepala Andre.

“Eh gak biasa nya Adel bilang hal kaya gitu depan Sherly langsung, gak biasa nya juga Sherly diam aja di saat gini, kalian pada kesambet ya?,” tanya Andre sambil menaikkan sebelah alisnya, lelaki putih itu tampak sangat keheranan.

“Ohhh iya, sudah-sudah kalian jangan bertengkar.” Aku mencoba mencairkan suasana, entah aku salah bicara atau tidak, aku berusaha agar terlihat tidak canggung.

Kami lalu pergi berkeliling mall, entah apa yang di lakukan Adel sehingga Andre benar-benar melunak padanya, sehingga mau membawakan barang belanjaan kami, sedangkan kami bebas bergerak di mall sambil memakan es krim.

“Oh ya, Andre, menurut mu Sherly cantik kan pakai baju ini?,” tanya Adel kepada Andre sambil tertawa geli.

“Lo aneh banget deh hari ini del, ya menurut gue biasa aja, sama kaya biasanya, dan lagi kenapa sih lo ketawa-ketawa aneh gitu dari tadi, ada yang lucu?,” tanya Andre dan kini wajah nya mulai datar.

“Oh ya Andre katamu… itu… ah… maksudku… iya… bagaimana?.” Aku lalu mulai bicara aneh dan tidak tau apa yang aku bicarakan dan apa yang harus ku bicarakan.

“Sherly seperti nya lapar, makanya dia berbicara berputar-putar seperti itu, yok kita makan dulu, di cafe biasa.” Adel lalu menarik tangan ku sehingga kami menjadi di depan dibandingkan Andre. Dia lalu membisikkan ku sesuatu.

“Ayolah Tasya, coba bersikaplah seperti Sherly, ini tidak akan lama.” Bisik Adel padaku, lalu dia segera menjauh saat Andre mendekat kearah kami.

“Kalian sembunyiin sesuatu dari aku?,” tanya Andre sambil terus berjalan di samping Adel.

“Aduh, apaan sih, ini urusan cewek, cowok gak boleh tau,” balas Adel sambil menarik tangan ku keluar mall. Sepertinya mereka akan membawa ku ke sebuah cafe yang sebenarnya aku tidak tau dimana letaknya, tetapi sepertinya keadaan mengharuskan ku untuk pura-pura tau.

Akhirnya kami sampai di sebuah cafe. Kami duduk bertiga di meja dekat jendela dengan posisi Adel disamping Andre dan aku tepat berhadapan dengan Andre.

Untunglah Adel menuntun ku dengan baik, sehingga Andre tidak curiga sama sekali kalau aku bukan Sherly, Adel pasti sangat senang karena kami berhasil mengelabui Andre.

Tiba-tiba ponsel Adel berbunyi, dan dia langsung mengangkat panggilan dari ponselnya, lalu menutup nya dengan segera setelah berbicara kurang dari satu menit.

“Maaf, sepertinya aku harus pergi, ada keadaan mendesak yang aku harus segera selesaikan, dan Sherly tetap berjuang sampai akhir ya, semangat, kabari aku nanti,” Adel lalu pergi terburu-buru meninggalkan kami berdua, kata-kata Adel itu justru membuat ku semakin ketakutan, bagaimana caranya harus berpura-pura menjadi Sherly tanpa Adel yang menuntun.

Selain itu, kenapa aku harus ditinggalkan bersama Andre, aku tidak mau kejadian di hari pertama bertemu Andre menjadi terulang. Seketika situasi menjadi sangat canggung dan aku semakin bingung dengan apa yang harus ku lakukan selanjutnya. Haruskah aku sudahi dan katakan yang sejujurnya, tapi aku takut dia akan marah, apalagi hanya ada aku disini.

“Untunglah Adel pergi, gue dari tadi mau bilang ini sama lo, tapi sebelumnya lo beneran gak bilang kan ke Adel, alasan lo kuliah di Jakarta itu karena Iqbal?,” Andre membuka pertanyaan di saat situasi sedang canggung di mataku.

“I..iiiiya,” aku terlihat sangat gugup dan tidak tau harus menjawab apa.

“Bagus, lo jangan bilang ke Adel deh, dia pasti gak suka kalau lo batal kuliah ke Australia alasannya karena itu, tapi gue juga  gak bisa biarin lo terus-terusan gini.” Percakapan ini terlihat semakin serius dan aku semakin merinding di situasi ini meski tidak mengerti apa yang sebenarnya Andre maksud.

“Maksudnya gimana ya ndre?,” kata-kata itu spontan keluar dari mulutku begitu saja.

“Gak biasanya lo gak paham gini,” Andre lalu diam sejenak.

“Maaf, beberapa hari ini ada hal yang terjadi jadi….” aku mulai berbicara hingga Andre memotong perkataan ku.

“Sherly, gue gak bisa liat lo terus-terusan gini, 3 tahun lo mendam perasaan sama Iqbal dan gak pernah mau ambil aksi buat nyatain, deketin, atau minimal berusaha kenalan sama dia, dan gue bawa lo ke rencana ini, juga supaya lo bisa tau apa lo bener-bener nantinya masih suka sama dia atau gak kalau nanti punya kesempatan dekat dengan dia,” Andre terlihat semakin serius, aku terpaku ternyata lelaki yang ada di depanku ini bisa berbicara begitu serius dan keterkejutan ku semakin memuncak dengan apa yang di jelaskannya.

Dan aku tak tau harus menjawab apa, apalagi aku benar-benar tidak paham dengan akar permasalahan percintaan Sherly. Aku hanya bisa diam terpaku dan meminum jus yang ada di depanku, karena terlalu fokus dengan pembicaran serius Andre, aku bahkan tidak menyadari makanan dan minuman sudah terhidang di meja kami.

“Sherly, Apa drama terakhir Ji Chang Wook?, Tahun berapa Exo debut?, Berapa tanggal lahir Minho SHINee?.” Tiba-tiba Andre melontarkan ku berbagai pertanyaan yang tidak aku mengerti dan aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya.

 “Kalau Agensi dari Blackpink apa?,” dia lalu melanjutkan pertanyaan nya dengan tatapan yang semakin sinis.

“Aku, aku…lupa,” aku lalu menjawab dan berbicara sedikit gugup.

“Hmmppp, sudah sangat jelas sekali,” dia lalu menatapku dengan ekspresi yang aneh yang membuat ku semakin takut.

“Apa maksudnya?,” spontan aku bertanya dan terlihat semakin gugup.

“Kamu Tasya kan? Sherly tidak mungkin tidak tau atau lupa dengan semua itu, kenapa berani sekali kalian menipuku, apa ini menyenangkan atau lucu menurut kalian?,” dia terlihat semakin menakutkan saat menanyakan hal itu padaku, berbeda hal nya dengan Andre yang pertama kali ku lihat, apa dia benar akan marah kepadaku atau ini hanyalah bagaimana cara dia membalasku, berbagai pikiran negatif berkecamuk di kepalaku.

Aku takut kalau-kalau dia benar-benar marah atas ide Adel ini dan aku yang harus menanggung semuanya.

Bersambung ke part 7

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Unsyiah angkatan 2018 bernama Nana Dahliati. Ia juga anggota aktif di UKM Pers DETaK Unsyiah.

Editor : Sri Elmanita S