Beranda Headline Panelis Kritik Penulisan Visi dan Misi Calon Ketua BEM

Panelis Kritik Penulisan Visi dan Misi Calon Ketua BEM

BERBAGI
Debat Kandidat Ketua BEM Unsyiah 2017. 14/12/17. (Mohammad Adzannie Bessania | DETak)

Mohammad Adzannie Bessania | DETaK

Darussalam – Panelis menilai visi dan misi yang ditulis oleh kandidat calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah, masih memiliki beberapa kekurangan. Hal tersebut disampaikan Saifuddin Bantasya, dosen Fakultas Hukum (FH) Unsyiah saat menjadi panelis dalam debat kandidat calon ketua BEM pada sesi kedua debat di Lapangan Tugu Darussalam. Kamis, 14 Desember 2017.

Saifuddin mengaku telah menggali seluruh visi dan misi yang telah ditulis oleh masing-masing calon. Mengenai penulisan visi, ia hanya menemukan satu kandidat yang benar dalam menulis visi.

IKLAN
loading...


“Mengenai visi anda, saya menggali hanya satu dari lima kandidat yang benar dalam menuliskan visi nya. Visi adalah mimpi. Anda tidak bisa menulis mimpi dengan mengatakan  ‘akan melakukan’, yang benar (menulis visi nya) hanya kandidat nomor urut 5,” ujarnya.

Menurut Saifuddin, kesalahan yang terdapat pada visi masing-masing kandidat terletak pada penulisan kata kerja yang ditulis di awal kalimat, dimana menurutnya tidak benar.

“Nomor 1 menulis visi dengan kalimat kata kerja ‘menjadikan’. Nomor 2, 3, dan 4 menulis visi dengan kata kerja ‘mewujudkan’. Nomor 5 menulis dengan kata ‘terwujudnya’ dan itu adalah mimpi. Misi ditulis dengan kata kerja dan visi tidak boleh ditulis dengan kata kerja,” tuturnya.

Kesalahan penulisan tanda baca dalam visi dan misi calon kandidat, menurut Saifuddin, juga ia temukan saat menjadi panelis debat beberapa kandidat calon Bupati dan Walikota di Aceh.

“Tidak apa, maafkan diri Anda masing-masing karena calon-calon Bupati dan Walikota di beberapa tempat di Aceh ada juga yang salah seperti Anda dan mereka menang. Jangan berkecil hati,” lanjutnya.

Di sisi lain, Saifuddin juga menyayangkan keterlambatan kelima kandidat calon ketua BEM saat menghadiri debat. Menurutnya, peristiwa tersebut telah menghilangkan kepercayaan panelis.

“Anda harus paham bahwa visi dan misi itu nomor dua, nomor satu adalah trust atau kepercayaan. Ketika Anda terlambat, kami menjadi tidak percaya kepada Anda. Trust first, your vision and mission follow it,” tegasnya.[]

Editor: Dinda Triani