Beranda Headline Kenduri Budaya Dengan Dimensi Pemilu dan Sumpah Pemuda

Kenduri Budaya Dengan Dimensi Pemilu dan Sumpah Pemuda

BERBAGI
Pengunjung mengabadikan foto dimuka backdrop Keduri Budaya, Selasa, 28 Oktober 2014. (Dedi Prasetyo [AM]/DETaK)

Dedi Prasetyo[AM] | DETaK

Pengunjung mengabadikan foto dimuka backdrop Keduri Budaya, Selasa, 28 Oktober 2014. (Dedi Prasetyo [AM]/DETaK)
Pengunjung mengabadikan foto dimuka backdrop Keduri Budaya, Selasa, 28 Oktober 2014. (Dedi Prasetyo [AM]/DETaK)

Darussalam – Kenduri Budaya yang diadakan oleh BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unsyiah yang diselenggarakan sedari Senin kemarin telah resmi ditutup pada Selasa, 28 Oktober 2014 tadi.

Acara yang berlangsung di halaman FISIP Unsyiah ini juga dimeriahkan dengan beberapa rangkaian perlombaan untuk semua tingkatan usia, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa (umum). Tak hanya itu, acara ini juga dimeriahkan dengan adanya stan-stan yang menampilkan kreasi budaya karya mahasiswa FISIP Unsyiah.

IKLAN
loading...


Jenis perlombaan pun beragam, disana kita dapat menjumpai lomba mewarnai, menggambar, menulis puisi, pengenalan baju adat, dan fotografi. Tak ketinggalan, pemutaran bioskop mini, donor darah, dan pertunjukan hasil karya mahasiswa FISIP pun ikut ditampilkan dari stan-stan yang ada.

Pemuncak acara yang bertepatan dengan peringatan sumpah pemuda sempat mengundang tanya. Apakah kegiatan ini diselenggarakan untuk memeriahkan momentum itu?

Reza Maulana, Ketua BEM FISIP Unsyiah mengatakan bahwa kegiatan ini dimaksudkan untuk menjadi sarana pemersatu pasca pemilu melalui kegiatan bertemakan budaya. “karena pasca pemilu kondisi kita terkotak-kotak (terdapat jarak –red).“

“Tidak dimaksudkan untuk memeriahkan hari sumpah pemuda, namun lebih kepada pengenalan budaya sebagai pemersatu antar sesama,” katanya di sela-sela acara, Selasa, 28 Oktober 2014.

Acara ini merupakan serangakain program kerja dari BEM FISIP. Kemarin, lanjutnya,  juga diadakan seminar dengan tema “Budaya dan Kekerasan Dalam Kerangka Damai Aceh” sehingga pada hari ini, pemuncak acara lebih pada pengapresiasian budaya dengan menampilkan seni-seni budaya karya mahasiswa FISIP.

Lain halnya dengan Ryan Juliansyah, Sekretaris panitia penyelenggara ini justru tak menyinggung persoalan pemilu. Dia justru berharap agar kedepan, melalui semangat peringatan sumpah pemuda, para pemuda lebih eksis dalam membicarakan persoalan budaya.

Belakangan, Reza pun ikut memberi testimoni berkaitan sumpah pemuda, dia berharap peringatan sumpah pemuda ini dapat merefleksikan semangat pemuda-pemuda di Aceh untuk lebih maju. Semoga![]

Editor: Mulya Rizki Nanda