Beranda Headline Ini yang Harus Dibenahi dari TOEFL

Ini yang Harus Dibenahi dari TOEFL

BERBAGI

Putri Nuzira dan Indri Maulina | DETaK

toefl (2)
Ilustrasi TOEFL (Masridho Rambey/DETaK)

Darussalam Test of English as Foreign Language (TOEFL) akhir-akhir ini menjadi hangat dibicarakan, pasalnya tes ini dinilai masih harus lebih banyak melakukan pembenahan sebelum menekan mahasiswa dengan skor yang tinggi. Tes yang menjadi syarat sidang dan yudisium ini harus melakukan pembenahan baik itu dari segi sarana, prasarana maupun sistemnya ujiannya.

Abdul Jabbar mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKep) kepada detak-unsyiah.com Selasa, 10 Maret 2015, menyatakan bahwa fasilitas yang tersedia di ruang ujian TOEFL dirasa masih sangat perlu untuk diperbaiki dan ditambah.

IKLAN
loading...


“Kualitas pengeras suaranya kurang bagus, sehingga suaranya pun kurang begitu jelas. Seharusnya Unsyiah menyediakan Earphone, seperti di tempat-tempat test  TOEFL yang berada di luar kampus.” Ungkap Jabbar.

Kausar yang juga mahsiswa FKep pun mengungkapkan bahwa kapasitas ruangan yang ada cukup sempit untuk menampung mahasiswa yang hendak mengikuti tes, sehingga rentang waktu untuk mengikuti tes TOEFL kembali pun harus menunggu sampai rentang satu bulan.

“Rentang waktu antara pendaftaran dan untuk ujiannya terlalu lama, hal ini dapat menghambat sidang, karena masih harus menunggu tes TOEFL  yang merupakan syarat untuk sidang dan ujung-ujungnya nambah semester.” terang Kausar.

Tak hanya di kalangan mahasiswa, akademisi pun angkat bicara mengenai tes TOEFL yang menjadi syarat sidang dan yudisium ini. Salah satunya adalah Pakar bahasa Inggris, Burhanuddin Yasin yang juga merupakan ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah. Ia mendukung kebijakan rektorat terhadap nilai kelulusan TOEFL  yaitu 475, dengan catatan bukan sekedar tuntutan semata.

“Sebenarnya wajar aja 475 itu, tapi institusi harus memberikan sesuatu untuk mahasiswa, jangan nuntut aja,” tutur Burhan di ruang kerjanya (26/2/2015) lalu.

Menurutnya mahasiswa harus dibekali dengan persiapan bahasa Inggris yang matang sehingga mampu melewati tes TOEFL dengan baik. Usulan tersebut adalah dengan memberlakukan matakuliah pilihan TOEFL Preparation dengan non-SKS untuk mahasiswa yang sudah menempuh perkuliahan di semester 5. Sedangkan untuk jangka pendek, ia mengusulkan adanya kelas intensif terkait pelatihan khusus bagi mahasiswa yang akan melaksanakan sidang 2 bulan sebelumnya.

Tes TOEFL memang sangat positif dan dapat meningkatkan semangat belajar bahasa Iggris di kalangan mahasiswa namun hal ini juga harus disertai dengan pembinaan yang maksimal dan sarana yang memadai.[]

Editor: M Fajarli Iqbal