Beranda Artikel Mengapa Lebih Produktif saat Terdesak Deadline? Ini Jawabannya

Mengapa Lebih Produktif saat Terdesak Deadline? Ini Jawabannya

BERBAGI
(Sumber: Ist)

Artikel | DETaK

Sebagai seorang mahasiswa, tentunya sudah sangat familiar dengan tugas. Pada setiap tugas, individu akan memberikan respon yang berbeda-beda dalam menyikapinya. Ada individu yang langsung menyelesaikan tugas dan ada pula yang memilih untuk menunda-nunda. Saat mempunyai tempo waktu yang lama, biasanya progresnya lambat dan cenderung menunda-nunda untuk mengerjakan tugas. Namun, ketika sudah makin mepet deadline, ngerjain tugas malah lancar bahkan bisa selesai dalam hitungan jam. Fenomena ini dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah prokrastinasi.

Prokrastinasi berasal dari bahasa latin procrastination dengan awalan “pro” yang berarti mendorong maju dan akhiran “crastinus” yang berarti keputusan hari esok. Menurut Freman (2011) prokrastinasi merupakan suatu fenomena psikologis pada seseorang yang mempunyai kecenderungan untuk menunda-nunda menyelesaikan tugas. Pelaku prokrastinasi disebut prokrastinastor.

IKLAN
loading...


Berdasarkan penelitian Study Mode di Los Angeles yang melakukan survei sekitar 1.300 siswa sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi tentang kebiasaan belajar. Temuan menunjukkan bahwa 87% siswa SMA dan kuliah adalah tipe prokrastinator. Alasan para siswa dan mahasiswa suka menunda-nunda pekerjaan yaitu 48% menjawab karena terdistraksi hal yang lain, 40% merasa tugasnya terlalu berat dan bingung harus mulai dari mana dan 12% lainnya mengaku tidak suka dengan tugas. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa penyebab mereka terdistraksi, 65% karena menonton TV atau serial drama, 58%  pengaruh sosial media, 46% tidur, dan 36% teleponan sama teman.

Lalu, mengapa saat mepet deadline kita jadi semangat dan berpikir jernih?

Mengerjakan tugas saat mepet deadline namun merasa lebih bersemangat dan berpikir jernih dikarenakan individu sedang mengalami situasi yang disebut dengan adrenaline rush. Di dalam tubuh terdapat organ ginjal dan di atas organ ini ada sebuah kelenjar bernama kelenjar adrenal yang akan mengeluarkan adrenaline. Adapun yang menjadi tugas dari adrenaline ini ialah meningkatkan detak jantung sehingga secara psikis semangat akan jadi semakin naik dan menjadi menggebu-gebu. Namun, jika individu berada dalam adrenaline rush yang begitu lama maka akan menimbulkan efek negatif, seperti stres, perasaan bersalah dan meragukan diri sendiri, kecemasan, serta depresi. Kondisi stressfull saat mengerjakan tugas dalam waktu yang mepet deadline juga dapat menimbulkan keinginan untuk menyerah dengan tugas yang dikerjakan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wibowo (2016) menemukan bahwa regulasi emosi berpengaruh pada perilaku prokrastinasi. Individu yang menunda-nunda pekerjaan atau prokrastinator mengalami masalah dalam emotional management atau regulasi emosi. Saat mendapatkan tugas, individu sering berspekulasi bahwa tugas tersebut terlalu berat dan merasa tidak mampu untuk mengerjakannya. Kondisi ini menimbulkan perasaan malas hingga akhirnya menunda-nunda untuk mengerjakan tugas dan memilih pekerjaan lain yang tidak terlalu penting, seperti membuka sosial media, bermain game, dll.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menunda pekerjaan hanya akan membuat kita menyia-nyiakan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mencapai tugas dengan hasil yang lebih maksimal. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi prokrastinasi:

  1. Mengubah mindset bahwa tugas harus dikerjakan dari sekarang. Tidak harus langsung selesai. Tapi boleh dikerjakan sedikit demi sedikit.
  2. Memonitor emosi secara efektif. Kita hanya bisa bekerja maksimal ketika perasaan tenang, maka sangat penting mampu untuk mengendalikan emosi.
  3. Membuat jadwal dan deadline. Coba uraikan tugas, tulislah, kemudian pilih tugas yang menjadi prioritas untuk dikerjakan lebih dulu agar lebih mudah dikerjakan dan membuat yakin bahwa kita mampu menyelesaikan tugas.
  4. Menjauhkan diri dari hal-hal yang mendistraksi (hp, sosmed, dll).
  5. Memberikan reward pada diri sendiri agar tetap semangat untuk mengerjakan tugas. []

Penulis bernama Ulya Layyina, mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Syiah Kuala angkatan 2018.

Editor: Sahida Purnama