Beranda Opini Pentingnya Peran Mahasiswa Memberi Kontribusi Nyata untuk Membantu Masyarakat Terdampak Wabah Covid-19

Pentingnya Peran Mahasiswa Memberi Kontribusi Nyata untuk Membantu Masyarakat Terdampak Wabah Covid-19

Ilustrasi: Wendi Amiria/DETaK
loading...

Opini | DETaK

Sudah beberapa pekan ini kita harus mengasingkan diri dari hiruk pikuk ramainya aktivitas sehari-hari untuk menekan penyebaran wabah Covid-19. Pemberlakuan social distancing ini pun berhasil menekan angka penyebaran pandemi Covid-19 yang meneror seantero belahan dunia sehingga banyak nyawa yang terselamatkan. Hal ini membuktikan bahwa langkah mitigasi selalu lebih baik daripada menunggu lebih banyak korban berjatuhan. Di sisi lain, pandemi Covid-19 ini tidak hanya memberikan dampak buruk tetapi juga telah menghadirkan dampak baik bagi kondisi bumi hari ini. Cody Hill seorang peneliti United States Environmental Protection Agency (EPA) mengatakan bahwa sepanjang bulan Maret ini kualitas udara dunia mulai membaik. Berdasarkan pernyataan tersebut, tentu saja hal ini juga akan berdampak kepada siklus kesehatan lainnya secara positif.

Sementara itu, bagi peradaban manusia wabah ini merupakan sebuah petaka yang mengancam kehidupan. Terlebih dalam kondisi seperti ini segmen masyarakat ekonomi menengah ke bawah paling terkena dampak, pemberlakuan rekayasa sosial social distancing ini tentu membuat masyarakat pekerja harian lepas yang menggantungkan diri pada gaji harian menjadi kebingungan untuk mencari solusi atas persoalan ini, padahal kebutuhan pangan hariannya barangkali digantungkan pada penghasilannya perhari. Keaadaan tersebut kerapkali luput dari perhatian kita di tengah lazimnya terjadi miskoordinasi secara top-down antara pemerintah sebagai pelindung masyarakat dan masyarakat sebagai majikan yang harus dilindungi. Kita harus melihat dengan mata dan hati untuk terbuka atas keadaan ini.

Saya menilai hanya duduk di rumah saja tidak akan memberikan solusi terhadap persoalan di atas, terus terang saya pribadi bisa duduk di rumah seharian dengan telepon cerdas juga makanan yang sudah disediakan setiap hari oleh orang tua, tapi acap kali terfikir bahwa ada yang salah apabila kita hanya terpenjara oleh slogan “di rumah aja”. Apalagi belakangan ini kita perhatikan, momentum krisis global ini justru menjadi sasaran empuk untuk membuat konten positif oleh beberapa individu dan kelompok di sosial media.

Sebagian besar konten yang lalu-lalang di beranda sosial media saya adalah sebagai upaya normatif dalam menggiatkan edukasi analitis seputar perkembangan wabah Covid-19 dan imbasnya pada segmentasi tertentu, munculnya diskusi-diskusi online di tengah pandemi dengan berbagai tema yang menggelitik itu sangat baik karena mampu meningkatkan wawasan seseorang. Namun, saya berdiri pada kontras yang berbeda, saya berpendapat alangkah lebih baik jika konten-konten yang dibuat dibarengi dengan reaksi yang nyata, ada persoalan yang lebih penting dan jelas di depan mata kita yang masih mampu kita jangkau dengan tangan terbuka, tidak hanya mengeksploitasi keadaan untuk eksistensi dan output normatif semata. Untuk itu, sebagai bentuk solusi nyata terhadap hal ini juga melihat adanya peluang untuk membantu saudara-saudara kita yang berkeadaan ekonomi prasejahtera di sekitar Banda Aceh apalagi saat akan menyambut bulan suci Ramadan, saya dan beberapa rekan-rekan seperjuangan menggagas suatu gerakan bernama “Relawan Peduli Covid-19 Banda Aceh”. Dari gerakan tersebut saya berharap semoga buah dari usaha ini dapat dinikmati langsung oleh saudara-saudara kita.

Akhirnya poin yang ingin saya sampaikan adalah masing-masing kita punya kekuatan untuk memberikan perbedaan, rangkul lah teman-teman seperjuangan kita untuk bergerak membantu masyarakat terdampak wabah ini. Selama kita bisa mengikuti protokol kesehatan yang ada, pasti ada jalan untuk membuat keadaan lebih baik. Diskusi, kuliah, seminar dan segala macam kegiatan yang dilakukan secara daring sebagai upaya menekan penyebaran wabah ini sekaligus tetap meningkatkan wawasan walaupun hanya di rumah tentu saja sangatlah baik. Namun, terjun langsung dan menyentuh kegundahan saudara kita yang membutuhkan adalah soal melatih rasa, dan saat ini dunia tidak kekurangan orang yang cukup akal, tetapi kita kekurangan orang yang cukup rasa.

Penulis adalah Ridho Brilian Laksamana mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

Editor: Nurul Hasanah