Beranda Artikel Mencatat Modern vs Mencatat Konvensional, Mana yang lebih baik?

Mencatat Modern vs Mencatat Konvensional, Mana yang lebih baik?

BERBAGI
loading...

Artikel | DETaK

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang juga merupakan lingkungan belajar bagi peserta didik untuk menerima proses pembelajaran. Sekolah diharapkan mampu memberikan hasil yang terbaik berupa pencapaian hasil belajar yang optimal oleh peserta didik dengan berbagai strategi yang efektif dan efisien. Walau demikian, permasalahan demi permasalahan masih sering ditemukan dalam usaha mewujudkan hal tersebut.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belajar mempunyai arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Usaha untuk memperoleh hasil dalam pembelajaran, individu mempunyai gaya belajar tersendiri untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal.  Hood dalam Tjundjing (2003) menjelaskan bahwa setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda, khususnya dalam menerima dan mengelola informasi yang menurut individu  nyaman (Wulandari, 2009).

IKLAN
loading...


Penggunaan gaya belajar yang tepat dan sesuai dengan kemampuan individu, akan memberi peningkatan dalam hal kemampuan memori. Pengetahuan individu akan semakin bertambah ketika individu mempelajari suatu materi baru dan ingatan bereperan penting dalam proses penyimpanan informasi. Penelitian yang dilakukan oleh (Rostikawati, 2009) menyatakan salah satu usaha untuk meningkatkan daya ingat adalah dengan melakukan pencatatan pada saat mengikuti proses pembelajaran di sekolah. Menurut Soemanto, mencatat sebagai bagian dari proses belajar adalah bila mencatat yang disertai dengan kesadaran, kebutuhan dan tujuan pencapaian belajar (Zainuddin, 2011).

Dinamika permasalahan mengenai ingatan sudah menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pada tahun 2012, World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa di seluruh dunia diperkirakan 35,6 juta orang hidup dengan demensia atau pikun. Jumlah ini diperkirakan menjadi dua kali lipat pada tahun 2030 dan tiga kali lipat atau sekitar 115 juta orang pada tahun 2050. Bahaya yang lebih besar adalah bahwa sering lupa ini tidak hanya menyerang orang-orang pada usia lanjut usia saja. Banyak orang berusia muda, tapi sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pikun (Lesmana, 2015). Menurut Murdock kelemahan ingatan juga terjadi ketika kata-kata secara verbal yang lebih banyak digunakan daripada huruf-huruf yang ditulis (Slavin, 2009).

Perkembangan teknologi memberikan kemudahan dalam proses belajar mengajar. Canggihnya teknologi membuat metode belajar mengajar lebih modern. Alat yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar adalah proyektor. Contoh lain, hadirnya E-book menggantikan buku cetak karena E-book lebih mudah diakses dan sederhana. Individu mulai  merubah gaya belajar dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Seperti halnya individu tidak harus menggunakan kertas dan pulpen sebagai alat untuk menyimpan materi, dengan membuka Handphone (HP) atau laptop individu sudah bisa mendapatkan fitur alat tulis digital dan alat rekam yang memudahkan proses belajar mengajar. Albion dalam (Climenhaga, 2011) menyatakan penggunaan catatan sudah mulai ditinggalkan dan lebih dari 80% siswa tidak menggunakan catatan dalam proses belajar.

Fenomena lain seperti individu mengambil gambar (foto) bahan materi yang terdapat di buku atau di papan tulis sudah mulai diterapkan karena mudah dilakukan tanpa harus menulis di buku tulis. Perilaku tersebut menurunkan kegiatan tulis menulis di buku secara manual. Fenomena tersebut terjadi akibat berkembangnya teknologi yang semakin memudahkan individu untuk memenuhi kebutuhan proses belajar. Namun hal itu  berbanding terbalik dengan hasil penelitian oleh Mueller dan Oppenheimer.

Penelitian Mueller dan Oppenheimer yang meneliti tentang efek menulis catatan pada mahasiswa. Peneliti menguji dua kelompok mahasiswa diminta untuk mendengarkan materi kuliah dari dosen yang sama. Dalam penelitian tersebut mereka diperbolehkan menggunakan semua strategi untuk menyimpan hal-hal penting di perkuliahan.

Hasil studi menunjukkan, bahwa mahasiswa yang menggunakan laptop cenderung “miskin” soal ide. Mahasiswa yang menggunakan laptop cenderung lebih banyak menghasilkan catatan, tapi lebih berupa menyalin persis kata demi kata (verbatim). Hal ini yang menghilangkan manfaat dari mencatat. Sementara itu, mahasiswa yang menulis  dengan tangan jauh lebih baik dalam kualitas belajar. Penelitian itu menunjukkan bahwa menulis merupakan strategi yang lebih baik untuk menyimpan dan mengendapkan ide dalam kurun waktu lama dibandingkan dengan mengetik.

Studi sejenis yang dipublikasikan Intech menemukan bahwa menulis dengan tangan memberikan kesempatan kepada otak untuk menerima umpan balik. Tetapi  hal tersebut tidak terjadi jika orang menulis dengan menggunakan papan ketik (keyboard).  Pergerakan saat menulis dengan tangan “meninggalkan memori (daya ingat) pada bagian sensor motor otak” yang membantu orang mengenal huruf dan membangun hubungan antara membaca dan menulis.

Uraian studi di atas membuktikan bahwa  menulis secara manual lebih baik dibandingkan dengan menulis dengan  metode yang modern seperti menulis di papan ketik (keyboard). Hasil tersebut menyimpulkan bahwa tidak semua perkembangan teknologi yang kita terima selalu baik untuk kita. Tetapi akan terus ada sisi negatif yang harus kita sadari  dan kita kontrol. Perkembangan teknologi tidak bisa kita hindari, tetapi sebagai masyarakat yang cerdas penggunaan teknologi yang bijak merupakan salah satu cara terbaik untuk menjawab fenomena yang kita hadapi ini. []

Artikel ini ditulis oleh Firman Firdaus Nuzula, salah satu mahasiswa jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala, angkatan 2014.

Editor: Novita Sary Saputri