Basyir

Oleh Ramajani Sinaga

(Ilustrasi)

Basyir duduk melamun dengan badan menjorok di tepi laut. Wajahnya keriput terlihat murung. Matanya terus memandangi lautan biru yang luas tak ada habisnya, matanya merah seakan menahan tumpahan air mata. Entah masalah apa yang sedang merasuki pikirannya. Yang jelas, sejak kedatangan orang-orang berbadan tinggi dan bertubuh tegap ke kampungnya, Basyir lebih banyak melamun dan terlihat murung di tepi pantai menghadap air laut.

Basyir hidup sebatang kara, istri dan anaknya tertelan ombak tsunami tujuh tahun lalu. “Tujuh tahun sudah mereka pergi dipanggil Ilahi, seandainya mereka ada di sampingku. Pasti, mereka akan lebih mengerti kegalauan hatiku,” gumamnya pelan, suaranya tidak terdengar karena suara deburan ombak biru di bibir pantai.

Basyir tinggal di sebuah gubuk reot, tidak jauh dari pantai. Kedatangan orang-orang berbadan tinggi dan berbadan tegap ke kampungnya membuat Basyir semakin risau. Mereka sedang mengincar tanah milik orang-orang yang berlokasi di pinggiran pantai, termasuk tanah Basyir. Mereka akan membuat fasilitas pariwisata yang konon memberikan kehidupan yang layak bagi orang-orang di kampung.

“Kami akan membangun objek wisata di sini, seluruh warga kampung akan makmur. Para turis dari luar negeri akan sering bertandang ke pantai kita yang indah ini,” kata orang-orang berbadan tinggi. Mendengar kalimat itu, Basyir bukan berbangga hati seperti warga kampung lainnya, Basyir malah tampak sedih dan terlihat murung sepanjang hari.

“Aku tak akan memberikan tanahku buat mereka. Aku takut dosa dan murka Allah. Apabila aku menjual tanahku di pantai, pasti akan dibangun tempat pariwisata mewah di pantai. Dan tentu, para turis-turis itu akan menjemurkan tubuhnya dengan bertelanjang di bawah sinar matahari di pantai. Lalu, mereka akan bertingkah sesuka hatinya. Aku tak sudi. Ini Aceh, tanah rencong bergelar Serambi Mekkah yang terkenal kuat akan nilai-nilai agama islam. Aku tak sudi,” pikir Basyir dalam hati sambil sibuk menatap riakan air laut.

Seluruh warga kampung telah menjualkan tanahnya kepada orang-orang berbadan tinggi itu. Kini, hanya Basyir yang belum menjualkan tanahnya. Ia tak sudi. Beberapa hari lalu Geuchik bertandang ke rumah Basyir.

“Sudahlah Basyir, jual saja tanahmu. Setelah kau jual tanahmu, kau bisa membeli tanah yang tidak dekat pantai. Kita menjual tanah yang dekat pantai supaya kampung kita ini makmur. Setelah kampung kita terkenal menjadi pariwisata ternama di dunia, kau pun tak perlu takut hidup melarat,” kata Geuchik pada Basyir mencoba merayu.

“Apa kau rela melihat turis-turis itu bertelanjang di kampung kita? Bukankah kita sedang menuju jalan yang salah dan dimurkai Allah,” jawab Basyir.

“Sudahlah, kau jangan terlalu kolot. Tahun saja telah berganti, sementara pikiranmu belum berubah, masih seperti pemikiran orang-orang zaman dahulu”

“Jadi kamu rela? Kau tak malu pada Allah? Apa kau juga tak malu menjual pantai demi kenistaan? Bila kau rela, Berarti sama saja kita telah kembali ke zaman jahiliah terbaru,” kata Basyir.

“Jaga ucapanmu Basyir!!” bentak Geuchik. Hingga siang itu, terdengar Geuchik bertengkar hebat dengan Basyir. Seluruh warga kampung tahu, tapi mereka juga diam. Warga kampung menghormati Geuchik sebagai pemimpin di kampung, pun mereka juga menghargai Basyir yang terkenal taat akan nilai agama.

“Bila kau tidak mau menjual tanahmu, maka akan kusuruh orang-orang berbadan tinggi itu langsung menemuimu, Basyir!” Geuchik mengancam.

***

Matahari berlalu di ufuk barat. Angin masih meniup pohon kelapa di pantai. Sementara, Basyir masih duduk melamun. Tatapannya menerawang. Kosong, matanya terus memandangi air laut, ia terlihat ingin menjatuhkan tubuhnya ke dalam air laut.

“Untuk apa aku bunuh diri, bila aku bunuh diri berarti aku telah kalah dan menyerah,” pikirnya. Basyir melangkah menuju gubuknya dan meninggalkan pantai. Kakinya menginjak pasir putih yang mulai dingin karena malam hampir tiba. Ia berjalan lunglai menuju gubuk reotnya.

Tatkala sampailah tubuh Basyir tepat dihadapan gubuk reotnya itu. Mulutnya menganga dan matanya hendak menangis memandangi rumahnya. Dilihat rumahnya telah porak poranda. Hancur dan berserakan.

Beberapa helai baju terbakar, barang-barang milik Basyir berserakan di sana-sini. “Ada orang yang sengaja melakukan ini.” gumam Basyir.

Tiba-tiba matanya terpicing melihat sebuah potongan kardus yang bertuliskan seuntai kalimat;
“Jika kau tidak menjual tanahmu wahai orang kolot! Kami bisa melakukan hal lebih dari pada ini, matilah kau!”

Sementara Basyir masih berdiri dalam diam, mulutnya menganga membaca tulisan itu. Matanya tetap menahan tumpahan air mata. Ia teringat pesan istrinya dahulu, bahwa ia tak boleh menjual tanah itu, karena tanah itu warisan leluhur yang harus dijaga.

“Sekalipun leherku ini dipenggal, aku tak akan menjual tanah itu,” pikirnya.

Sementara matahari sudah berlalu di ufuk barat, sebagai tanda malam akan tiba. Menghabiskan cahaya matahari yang mengendap-endap.[]

Ramajani Sinaga, lahir di Raot Bosi, 5 Oktober 1993. Tercatat sebagai mahasiswa semester dua PBSI FKIP Unsyiah angkatan 2011.

VN:F [1.9.14_1148]
Rating: 10.0/10 (1 vote cast)
VN:F [1.9.14_1148]
Rating: +5 (from 5 votes)
Basyir, 10.0 out of 10 based on 1 rating

Short URL: https://detak-unsyiah.com/?p=5376

Posted by on May 28 2012. Filed under CERPEN. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Follow @UKMPersDETaK

Photo Gallery

Sekretariat :

Gedung Gelangang Mahasiswa Unsyiah, Lantai 2 Ruang 02.01

Kampus Darussalam, Banda Aceh – 23111

Email : [email protected]

Switch to our mobile site