Beranda Terhangat Penayangan Film The Man From The Sea Hadirkan Pemain dan Eksekutif Produser

Penayangan Film The Man From The Sea Hadirkan Pemain dan Eksekutif Produser

BERBAGI
MC, Sekar Sari dan Willawati saat penayangan film. 23/02/19 (Zikrina | DETaK)

Zikrina Munawarah | DETaK

Banda Aceh – Pemutaran film The Man from the Sea hadirkan pemeran utama Ilma yang diperankan oleh Sekar Sari dan Eksekutif Produser Willawati di ACC Sultan Selim II pada Jumat, 23 Februari 2019, pukul 20.00 WIB.

Film ini merupakan ide dari Koji Fukada, seorang sutradara Jepang yang terkenal di dunia perfilman Internasional.

IKLAN
loading...


“Tiga tahun yang lalu kami bertemu dengan Koji Fukada, seorang yang humble dan punya ide yang sangat brilian. Saat saya diajak membuat film ini, saya langsung bilang iya. Karena alasan pribadi dan rasa cintanya kepada Aceh, Koji memilih tempatnya di Aceh,” ucap Willawati.

Film yang berlatar di Aceh ini merupakan hasil kerja sama Indonesia, Jepang, dan Prancis. Pasca produksinya pun banyak dibuat di Prancis. Dasar pembuatan cerita ini adalah karena Jepang dan Aceh sama-sama pernah terkena musibah tsunami.

“Koji saat itu menyampaikan Jepang dan Aceh pernah mengalami tsunami, dan ia tidak mau tsunami itu menjadi sesuatu yang sangat mencekam. Tapi saya bahasakan sebagai yang menyambungkan, silaturahmi gitu. Artinya menyambungkan Indonesia dan Jepang dengan sosok laut yang tidak menyeramkan,” jelasnya.

Cuplikan film saat shooting adegan di sebuah universitas di Aceh

Sedangkan bagi Sekar, menjadi pemeran utama sebagai perempuan Aceh memiliki tantangan tersendiri.

“Tantangannya itu ya bahasa, saya belajar bahasa Aceh sebulan sebelum shooting. Saat saya belajar bahasa Aceh, akhirnya terbuka proses eksplorasi yang lainnya juga. Jadi kelihatan dari bahasa, oh wanita Aceh cara bicaranya terlihat lugas, mungkin kalau di Jawa, wanita itu yang paling di belakang,” ucap pemeran Ilma ini.

Film bertajuk Laut ini juga mengilustrasikan hubungan manusia dengan alam yang indah.

“Salah satu yang ingin diilustrasikan film ini adalah yang namanya kematian dan kehidupan kita benar-benar berdampingan dengan alam. Alam itu punya drama dan misterinya sendiri. Dan kita harus hidup berdampingan,” pungkas sekar.[]

Editor : Dhea Ameliana A.