Beranda Cerbung My Extrovert Twin Part 3

My Extrovert Twin Part 3

BERBAGI
My Ekstrovert Twin (Wendi Amiria/DETaK)

Cerbung | DETaK

Saat hendak pulang, dari kejauhan aku melihat ada beberapa orang yang hendak masuk ke rumah. Sepertinya mereka teman Sherly. Karena mengetahui hal itu, aku pun tidak jadi melangkah untuk pulang ke rumah. Aku takut kejadian seperti tadi terjadi. Bagaimana aku bisa menjelaskan ke mereka. Selain itu, aku juga malu menghadapi teman-teman Sherly, apalagi dengan penampilan ku yang sangat berbeda dengan Sherly. Akhirnya aku memutar arah dan langsung pergi meski tidak tau akan pergi ke mana.

Di perjalanan aku kembali bertemu dengan Sherly dan Andre dengan arah yang berlawanan. Sepertinya mereka hendak kembali ke rumah Sherly.

IKLAN
loading...


“Kak, mau kemana? Gak pulang?” Sherly yang melihatku spontan bertanya.

“Hmmppp, mau ke mini market, ” spontan aku menjawab. Entah kenapa hanya tempat itu yang tiba-tiba terlintas di pikiranku.

Tiba-tiba nada dering ponsel Sherly berbunyi dan langsung memutus percakapan kami. Setelah mengangkat ponselnya, Sherly dan Andre buru-buru pergi. Aku menebak mungkin saja itu panggilan dari teman-teman Sherly yang datang ke rumah tadi. Aku pun langsung melanjutkan langkahku. Sherly sepertinya memang anak yang sangat ramah dan punya banyak teman, tak seperti aku yang sulit berbaur dengan banyak orang. Di tengah lamunanku tentang Sherly, entah kenapa kali ini langkah kakiku benar-benar membawaku ke sebuah mini market. Aku pun masuk dan membeli es krim.

Aku berniat kembali ke taman karena bisa saja teman-teman Sherly belum pulang. Aku membuka es krim yang baru kubeli dan memakannya sambil berjlan. Tapi tiba-tiba aku tidak sengaja menabrak seseorang di jalan, dan es krim yang ku pegang tumpah di kemeja orang tersebut. Spontan aku langsung meminta maaf.

“Maaf, saya tidak sengaja.” Aku bahkan tidak berani untuk menatap orang tersebut. Aku menyadari orang itu adalah laki-laki dan lebih tinggi dariku. Aku hanya menunduk dan berusaha untuk mengeluarkan sapu tangan yang selalu kubawa-bawa kemanapun dan memberikannya kepada orang tersebut agar orang itu bisa membersihkan noda di pakaiannya, pikirku.

“Iya, tidak apa-apa.” Kata-kata itu akhirnya keluar dan dia mengambil sapu tangan di tanganku. kemudian barulah aku memberanikan diri untuk melihat orang tersebut yang ternyata berkulit putih dan berkacamata.

“Iqbal….” Tiba-tiba suara itu spontan membuat orang itu menoleh ke belakang. Dari kejauhan ada sosok laki-laki berjalan menuju orang tersebut. Sepertinya ada temannya yang memanggilnya. Aku malah berjalan pergi meninggalkan orang yang kutabrak barusan karena tak sanggup untuk berhadapan dengan mereka nantinya. Meski aku tau orang itu tidak terlalu mempermasalahkan aku yang menabraknya, tapi aku masih belum nyaman untuk berinteraksi dengan anak Jakarta.

Tiba-tiba laki-laki yang baru datang itu langsung memanggil saat aku pergi, ia memanggilku dengan sebutan Sherly. Aku tak yakin apa dia memanggil atau hanya mengatakan nama Sherly. Sepertinya dia mengira aku adalah Sherly dan mungkin saja mereka adalah teman Sherly atau mereka mengenal Sherly. Aku pun semakin bingung hari ini, sebenarnya berapa banyak kenalan dan teman Sherly?

***

Malam harinya, di meja makan kami berempat sudah menyelesaikan makan malam. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Bu Anindha, aku mulai menebak-nebak dari raut wajah Bu Anindha dan Sherly.

“Saya mau mengatakan sesuatu. Sebenarnya ini juga saya sudah pertimbangkan kalau Sherly ingin kuliah di Jakarta, dia akan membatalkan keberangkatannya ke Australia. Sebenarnya ini sangat disayangkan tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa kalau Sherly ingin begitu,” ucap Bu Anindha di depan kami berdua.

Aku kembali teringat dengan perkataan Andre. Apakah ini benar ada kaitannya dengan itu aku masih belum tau. Aku tidak ingin jauh mencampuri urusan Sherly tapi aku tetap ingin yang terbaik untuk saudaraku.

“Sherly mohon maaf. Sherly rasa akan lebih baik Tasya di sini saja, dan akan lebih baik juga kalau Mama dan Tasya juga di sini dan Tasya bisa kuliah dengan Sherly,” Sherly berkata dengan nada yang sangat datar, tidak seperti biasanya.

“Tidak Sherly, Mama dan Kakakmu tetap akan kembali ke Medan dan Kakakmu akan tetap berkuliah di Medan.” Mama menjawab Sherly dengan kata-kata yang lembut. Tapi entah apa yang ada dalam hati Sherly, dia kemudian meninggalkan kami di meja makan dan menuju ke kamarnya.

Aku pun mengikutinya. Aku pun membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak dikunci. Aku tidak berani masuk, hanya memperhatikannya dari kejauhan, dan dia tampak menangis sendiri di kamar.

Setelah melihat Sherly menangis aku langsung mencari Mama di lantai yang sama karena kupikir Mama pasti sudah di kamar juga. Dan benar saja aku mendapati Mama di kamar juga sedang menangis. Aku langsung memeluk Mama.

“Mama jangan nangis, Sherly betul, ada baiknya kalau kita benar-benar tinggal di sini.” Aku melepas pelukan mama.

“Tapi Tasya, Mama tidak bisa harus tinggal dengan harta Papa kamu. Mama masih bisa biayain kamu di Medan,” sahut Mama yang terlihat sangat sedih.

“Tasya tau, Ma. Tapi ini semua udah jadi hak Tasya dan hak Mama juga. Jadi gak papa, dan yang paling penting kasian Sherly, Ma, anak Mama bukan cuma Tasya tapi Sherly juga. Dia pasti bahagia karena baru bertemu kita, tapi kita harus berpisah dengannya kalau kembali ke Medan.” Aku pun sedikit demi sedikit menguatkan dan menjelaskan kepada Mama.

“Tadi Mama nangis karena Sherly kan? Tasya juga sedih, Ma. Sherly itu anak-nya sangat ceria, apalagi semua serba berkecukupan dalam hidupnya. Dari kecil dia tidak kurang apapun, ada Ibu Anindha yang menjaganya. Tapi tadi dia menangis tersedu-sedu karena perkataan Mama, dia pasti sangat sayang pada kita seperti kita menyayangi dia, Ma.” Aku kembali menambahkan agar Mama benar-benar bisa memberi keputusan yang bijak atas kehidupan kami selanjutnya.

“Mama tidak ingin jauh dari kalian berdua, tapi semua hal yang sudah Mama bangun di Medan juga berat Mama tinggalkan, apalagi di sini hanya bergantung tumpuan harta Papa kamu,” sahut Mama padaku.

“Tapi, Ma, keadaan sekarang sudah beda, ada Sherly yang juga akan sangat sedih nantinya. Kita tidak mungkin membawanya hidup dengan kita di Medan,” sambungku pada Mama.

“Kamu benar Tasya, harusnya Mama tidak egois. Sekarang terserah kamu, apakah kamu benar mau tinggal di sini dan kuliah di sini? Apa kamu yakin nyaman tinggal di Jakarta?” tanya Mama kepadaku

“Alhamdulillah, InsyaAllah Tasya senang di sini bisa dekat dengan Sherly,” jawabku pada Mama dan kemudian aku kembali memeluk Mama.

Sebenarnya aku juga tidak terlalu nyaman tinggal di Jakarta dengan suasana baru dan orang baru yang jauh dari kehidupanku sebelumya, tapi kali ini aku benar-benar tidak sanggup melihat Sherly bersedih dan aku pun lebih senang kalau bisa tinggal bersama Sherly.

Tentu saja kabar itu langsung aku sampaikan ke Bu Anindha. Ibu Anindha pun ikut senang dan akan menyampaikan ke Sherly. Dalam beberapa minggu ke depan aku akan disibukkan dengan mengurus berkas untuk masuk universitas dan menentukan jurusan yang akan aku pilih di universitas yang ada di Jakarta.

Bersambung ke part 4

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Unsyiah angkatan 2018 bernama Nana Dahliati. Ia juga anggota aktif di UKM Pers DETaK Unsyiah