Beranda Cerbung Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan-Episode 14: Kehidupan Baru

Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan-Episode 14: Kehidupan Baru

BERBAGI
Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan. (Wendi Amiria/DETaK)

Cerbung | DETaK

-Kisah seorang gadis yang berusaha meriah impiannya ditengah carut marut dunia-

Di alun-alun kastil, Luna langsung melihat para pelayan, perempuan maupun laki-laki, berlalu lalang dengan cepat sambil memasang wajah datar. Sebagian mereka ada yang membawa setumpuk apel, sekarung coklat, atau satu ikatan kayu bakar. Beberapa prajurit ada yang sedang berlatih pedang, mengasah pedang, dan mengelus-elus kudanya di kandang. Dilihatnya ke sudut kanan alun-alun, berdiri sebuah Guillotine kusam dipenuhi warna kelam. Tak ada yang bersinar dari benda itu kecuali pisau putih berukuran besar. Luna langsung teringat cerita Jacob Gifford ketika di sekolah kuil tahun lalu.

IKLAN
loading...


Terdengar langkah kaki kuda mendekat. Oh tidak! Orang yang paling tidak ingin dia temui di kastil justru melihatnya pertama kali. Tormund, si rambut mangkok, bersama seorang prajurit di atas kuda menghampiri Luna. Kuda mereka mengelilingi Luna yang terjebak di tengah.

“Apa yang kamu lakukan di kastil ini, pencuri?!” bentak Tormund. Luna mematung. Salah bicara sedikit, dia bisa dicambuk lagi.

“Luna!” suara panggilan itu menghentikan langkah kuda. Sarah sedang berlari ke arahnya dengan gembira.

“Pergi sana, bocah nakal! Dia akan tinggal di kastil mulai hari ini,” usir Sarah sambil menggerakkan tangan menyapu udara.

“Ternyata benar kata Ayah, kamu membawa seorang Lafitters ke kastil. Kakakku benar-benar sudah gila. Ayo! Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang gila.”

Tormund segera menjauh bersama prajurit, pergi keluar gerbang kastil. “Anak itu tidak pernah dewasa,” gerutu Sarah.

Tangan Sarah memegang bahu Luna,“Aku sempat berpikir kamu tak akan datang, hahaha. Ayo! Mari kita temui kepala pelayan.”

Luna memandang komplek kastil yang membentuk persegi; bagian depan adalah bangunan utama tempat para bangsawan tinggal, punya empat lantai. Bangunan sisi kiri dan kanan punya tiga lantai, para pelayan dan prajurit beristirahat disana. Bangunan paling belakang berlantai satu dan memiliki tiga corong asap, tampilannya lebih kusam dari tiga bangunan lain.

Di tengah-tengah bangunan itu, ada sebuah taman yang dipenuhi bunga Eldeweiss. Bunga-bunga putih ini menunjukan kemegahan kastil keluarga Alaska, sebuah manifestasi keindahan salju dalam bentuk materi lain di dunia. Di dekatnya, terdapat sebuah gazebo yang dibuat sangat presisi, rapi, dari potongan-potongan kayu terpilih dan mengkilap.

Mereka masuk ke bangunan sebelah kiri, lalu melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri dengan tangan dilipat ke belakang. Wanita itu sedang menerangkan sesuatu kepada tiga perempuan yang menggunakan pakaian sama; dress hitam dan celemek putih.

“Merry!” Sarah melambaikan tangan.

Wanita paruh baya itu menoleh, lalu menyuruh ketiga orang di depannya bubar. Dia menghampir Sarah dan menunduk, “Ada yang bisa saya bantu, Nona?”

“Ini Luna Sawtell, teman yang kuceritakan akan bekerja di kastil.”

“Oohh.. Selamat datang Luna. Aku sudah mempersiapkan tempat untukmu. Ayo ikuti aku.” Ketiganya menuju ke bangunan belakang yang punya tiga corong.

Luna dapat melihat di ujung kiri komplek kastil, ada sebuah bangunan batu terpisah berukuran kecil, berbentuk setengah bola yang menutup tanah. Ukurannya sebesar sebuah rumah Lafitters. Ada sebuah pintu kayu berbentuk bundar di depannya.

“Rumah apa itu?” tanya Luna.

“Itu Ice House,” jawab Merry. “Di dalamnya terdapat es yang dapat bertahan selama satu tahun. kita biasanya menyimpan daging-daging di sana agar tetap dingin. Ketika musim dingin, para pelayan laki-laki mengambil bongkahan es dari sungai dan meletakkannya di sana.”

Luna dan rombongan kecilnya terus melangkah melewati koridor kastil yang serba putih hingga sampai di depan bangunan kusam yang memiliki tiga pintu masuk.

“Disini ada tiga dapur; dapur pertama untuk pengolahan bir, mentega, lemak babi, dan roti. Dapur kedua untuk memasak makanan dan penyimpan sayuran dan buah-buahan. Dapur ketiga untuk tambahan tempat memasak,” jelas Merry sambil menunjuk ketiga pintu yang ada di bangunan ini.

Mereka membuka pintu tengah, terlihat di dalamnya, orang-orang berseragam pelayan sibuk melakukan aktivitasnya dengan cepat; ada yang menjaga ukuran api, mengaduk masakan, memotong kubis dan wortel. Asap-asap dari api terbang melewati corong di atap bangunan. Luna melihat sekeliling, dia merasa ukuran ruangan ini bisa menjadi tempat belajar teman-teman sekolah kuilnya, bahkan mereka bisa main petak umpet disini.

Ada seorang wanita berwajah oriental sedang berdiri di atas kotak kayu, terlihat seakan mengapung di atas lautan para pelayan yang berlalu lalang cepat. Dia berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke berbagai arah. Mata sipitnya sibuk menjelajahi ruangan.

Nyonya Merry? Wanita sipit itu berbisik untuk diri sendiri. Kemudian dia turun dari kotak kayu dan berjalan ke arah mereka. “Nona Sarah,” sapanya dengan suara serak sambil menunduk.

“Ini pelayan baru yang akan bekerja di dapurmu.” Merry menunjuk pada Luna.

“Perkenalkan, aku Xionglue, dari desa Pendaki, di bawah perlindungan keluarga Alaska.”

“Aku Luna Sawtell, hmm.. seorang Lafitters.”

“Ooo…Seorang Lafitters ya,” lirikan mata sipit Xionglue berubah sinis, pupilnya bergerak dari atas ke bawah, mengamati penampilan Luna dari ujung rambut hingga ujung sandal. Sejak bekerja di kastil ini, Xionglue sering mendengarkan kisah kelicikan kaum Lafitters dari pelayan senior. Mereka juga diperingati untuk tidak banyak berbicara dengan kaum itu.

Dengan nada menghela, Merry berkata, “Sayang sekali Luna, semua ranjang di kamar tidur pelayan telah penuh. Kamu akan tinggal di dapur ini. Xionglue akan menunjukan padamu.”
Sebenarnya masih banyak ranjang kosong, namun Sedler meminta Merry memastikan teman Lafitters putrinya untuk tidur jauh dari ruangan keluarga bangsawan.

“Kalau begitu, saya mohon izin untuk mengerjakan urusan lain, nona Sarah,” pamit Merry sambil menunduk, lalu pergi ke luar dapur.

Xionglue mengantarkan mereka menyusuri dapur untuk melihat kamar Luna. Sambil melangkah, Luna melihat seorang pelayan keluar dari pintu bawah tanah. Dia membawa keranjang berisi stroberi, apel, dan plum. Luna juga melihat beberapa pelayan memandangnya masam sambil saling berbisik.

Sampailah mereka pada sebuah pintu kayu yang sudah menunjukan beberapa tanda rekat. Xionglue membuka pintu itu, lalu memperlihatkan sebuah kamar tanpa jendela, hanya ada sedikit sorotan cahaya dari lubang ventilasi udara.

Satu-satunya benda bewarna di ruangan murung dan dingin ini adalah kasur tipis berwarna putih di lantai.
“Apa kamu bercanda!” protes Sarah.

“Maaf Nona, hanya ini yang kita punya.” Jawab Xionglue sambil tersenyum terpaksa.

“Tidak apa-apa. Ini sudah cukup. Ruangan ini bahkan tiga kali lebih besar dari kamarku,” ujar Luna.

“Tentu saja, dasar Lafitters!” gumang Xionglue yang kemudian langsung menutup rapat mulutnya saat dilirik Sarah.

Luna langsung meletakkan tasnya, lalu mengeluarkan dua baju, meletakkan dengan rapi di samping tempat tidur.

Dia mengeluarkan selimut yang sudah kusut, melipatnya dan meletakkannya di atas tempat tidur.

“Luna akan bekerja besok. Hari ini Aku ingin menunjukan padanya lingkungan kastil,” ucap Sarah.

“Baik, Nona,” sahut Xionglue.

Sarah membawa Luna pergi ke sebuah menara kastil, menaiki tangga melengkung menuju ke puncak. Sesampai di atas, Sarah membuka pintu sebuah ruangan, lalu menemukan dua prajurit di dalamnya; satu orang sedang duduk di sebuah ranjang sambil mengiris kayu berbentuk patung prajurit, satu lagi sedang mengamati kondisi kastil di salah satu dari enam jendela yang ada di puncak menara.

“Nona Sarah,” sapa mereka serentak ketika Sarah dan Luna memasuki ruangan.
Sarah mengajak Luna melakukan kegemarannya, yaitu menjulurkan wajah mereka ke luar jendela menara. Tiupan angin di atas sana begitu kencang, membuat rambut mereka bergelombang dan mata mereka menyipit seperti punya Xionglue.

“Seperti sedang terbang, kan!” teriak Sarah diantara suara riuh angin.

“Iya,” balas Luna sambil tertawa.

Setelah selesai menikmati angin, Luna melihat sekeliling ruangan dan menemukan sebuah sangkar burung yang terisi. “Kenapa burung camar itu dikurung disini?” tanyanya.

“Ooh… dia juga merupakan bagian dari petugas kastil. Camar adalah pengantar surat bagi para bangsawan di Heaven Kingdom.”

Sarah menunjuk pada sebuah bola berwarna coklat berukuran satu telapak tangan manusia. Bola itu dimasukan dalam sebuah jaring yang bergantung di salah satu jendela menara. “kamu lihat benda yang bergantung disana, itu disebut bola Busola. Benda itu terbuat dari campuran tanah liat dan darah manusia.”

“Darah manusia?!” Tubuh Luna langsung menegang saat mendengarkan kata itu.

“Tenang saja, darahnya hanya seukuran botol kecil. Tujuannya untuk membuat bola itu punya bau khas yang berbeda dari bola Busola lain.”

“Lihat!” tunjuk Sarah pada sebuah dinding. Disana bergantung beberapa kalung bermata koin dengan simbol berbeda.

“Itu adalah koin Busola milik keluarga bangsawan yang berhubungan dengan ayahku. Ketika camar dikirim ke suatu tempat, dia akan dikalungi koin Busola itu agar mempermudahnya untuk menemukan lokasi bola Busola.”

Tiba-tiba seekor burung camar hinggap pada salah satu jendela menara. Lehernya mengenakan kalung busola bersimbol kristal salju. Kedua cakarnya memegang sebuah gulungan kertas kuning berstempel merah dengan simbol seorang wanita yang memegang gandum. Prajurit yang memandang ke luar jendela tadi mengambil gulungan itu dan meletakkan setumpuk biji-bijian dan mangkok kecil di atas jendela.

“Ada surat dari kota Sisila.” Ucap prajurit itu sambil menggoyangkan gulungan surat pada temannya yang duduk di ranjang. Lalu dia menunduk ke arah Sarah sejenak dan turun dari menara.

Burung camar tadi makan dengan lahap, lalu terbang kembali ke luar menara.

“Dia kembali ke Sisila,” ucap Sarah sambil memandang si camar yang semakin mengecil di langit.

“Tak perlu kalung Busola untuk menuntunnya pulang?” tanya Luna.

Sarah tersenyum, “Camar-camar ini selalu mengingat rumah mereka.”

Kemudian kedua gadis ini turun dari menara, menuju gazebo di taman yang berada di tengah komplek kastil.

“Huh! Lelah juga ya naik turun menara,” keluh Sarah sambil duduk di samping Luna yang sedang menghirup nafas pelan, menikmati bau harum dari bunga edelweis yang mekar.

“Aku senang kamu disini, Luna. Aku bosan sendirian di kastil. Tak ada gadis yang sebaya denganku.”

“Senang bisa bersamamu, Nona,” balas Luna, tersimpul senyum manis di bibirnya. Kemudian Luna diam sesaat, mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niat yang telah dipikirkan dari pertama kali masuk kastil.

“Nona, bolehkah Aku minta tolong sesuatu padamu?”

“Tentu!” Sarah merasa senang sekali.

Luna tak melepaskan tatapannya dari mata Sarah. “Aku ingin belajar membaca…Maukah anda mengajarkanku?,” ucap gadis itu.

Bibir Sarah melebar dan matanya menyipit, “Aku sangat mau!” Sarah langsung berapi-api, dia tak sabar menjadi seorang guru untuk pertama kali.

“Merry bilang padaku waktu kosong yang dimiliki oleh seorang pelayan adalah ketika selesai sarapan pagi dan sore hari. Mungkin kita bisa belajar di waktu pagi dan pergi bermain di waktu sore,” ungkap Sarah.

Luna mengangguk, kemudian atas inisiasi Sarah, dua gadis ini mengaitkan kelingking, diikuti matahari yang mulai tenggelam di garis horizontal sebelah barat, meninggalkan cahaya merah di dinding putih kastil. Hari-hari Luna sebagai seorang pelayan kastil putih akan segera dimulai.

-Bersambung-

Note: Project ini adalah bagian dari project novel yang sedang digarap oleh penulis. Bagi teman-teman yang tertarik ingin berdiskusi mengenai cerita lebih lanjut, bisa hubungi penulis lewat email: [email protected]