Beranda Cerbung Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan-Episode 13: Langkah Menuju Masa Depan

Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan-Episode 13: Langkah Menuju Masa Depan

BERBAGI
Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan (Wendi Amiria/DETaK)

Cerbung | DETaK

–Kisah seorang gadis yang berusaha untuk meraih impiannya di tengah carut marut dunia–

Waktu berlalu, Sarah dan Luna telah berusia 13 tahun

Ibu memeluk Luna erat-erat, lama tak dilepas. Sesekali terdengar isakan tangis dari mulutnya. Tak sanggup dia membiarkan putrinya pergi ke kastil putih, terutama setelah melihat anaknya dihukum secara langsung oleh Tuan Tormund. Sudah jauh-jauh hari ibunya mengerahkan segala upaya untuk membuat Luna membatalkan rencananya, mulai dari terus memarahinya, mendiaminya, hingga mogok makan. Usaha ibunya itu hampir membuat Luna goyah. Keyakinan Luna menjadi kuat kembali ketika ayahnya justru mendorongnya ke kastil.

Ibunya kemudian melepaskan pelukan eratnya dari Luna, mundur dan berdiri di samping suaminya yang berperawakan kurus dengan pipi iris, memakai baju longgar, berkumis dan berjenggot tipis, sudah terlihat jelas tiga garis keriput pada dahinya. Celana kusam besar suaminya dipegangi oleh sebuah tangan mungil milik bocah laki-laki berusia 5 tahun yang menatap kakaknya dengan kebingungan.

Ayah Luna adalah orang yang aneh, ketika Lafitters lain menyuruh anaknya untuk lebih banyak menghabiskan waktu di perkebunan agar mereka telaten dalam bekerja, dia malah  menyuruh Luna untuk lebih lama berada di kuil kota.

Mata seorang ayah yang dipenuhi harapan bertemu dengan mata polos Luna. Bibir kering ayahnya mengeluarkan suara serak pelan, “Ketahuilah, aku menyayangimu. Ketika aku melihatmu tersenyum, semua lelahku hilang.”

“Banyak keluarga klan Sawtell memarahiku, menyebutku gila karena telah mengusir gadisnya sendiri dari rumah untuk tinggal di tempat yang tak menerima kaumnya. Mereka berkata otak naifku telah mengisi pikiranmu dengan harapan palsu yang akan mengarahkan pada malapetaka.”

“…Hati Ayah mana yang tak tergores membiarkan anak gadisnya yang dibesarkan dengan sepenuh hati, diobati ketika luka, dipegang ketika berjalan, dan digendong ketika menangis, sekarang harus dilepas pada sebuah tempat yang penuh ancaman dan tak bisa dijangkau olehnya.”

“Mungkin orang-orang Sawtell benar, aku adalah orang gila. Bagaimana mungkin aku menyuruh cahaya hidupku ini meninggalkanku?!”

“Tapi itu harus tetap kulakukan. Kenapa? Karena kamu bisa melihat banyak hal baru di dalam kastil. Bukan hanya sekedar prajurit atau Lafitters, kamu akan bertemu para pelayan dari berbagai desa di wilayah utara, berlatih keterampilan seperti mereka, dan yang paling penting, kamu bisa belajar dari Nona Sarah.”

Ayahnya tersenyum dengan bibir rapat, mata pilunya menatap Luna, kemudian berkata, “Maafkan aku telah memberikanmu darah Lafitters yang terkutuk. Gara-gara darah ini, ternak yang telah kita rawat, sayuran yang telah kita panen, dan emas yang telah kita gali, semuanya direnggut.”

“Ingat anakku! seorang Lafitters mungkin tidak punya harta yang bisa diwariskan, atau sisilah keluarga yang layak dibanggakan. Tapi kita punya ini.” Jari telunjuk ayahnya menyentuh dahi Luna.

“Belajarlah! karena ilmu pengetahuan adalah kekuatan, karena tidak ada yang bisa mengambilnya darimu, karena itu dapat kamu wariskan kepada anak-anakmu…. Karena itu dapat memuliakan jiwamu.”

Setelah meraba celananya, ayah Luna memberikan kalung yang dihiasi sebuah batu giok bewarna hijau cerah, dia menemukan batu itu dalam perjalanan pulang dari tambang. 

Luna menatap batu hijau yang memantulkan bayangan matanya. Lalu Luna menatap wajah ayahnya dengan heran. Tapi pria itu malah tersenyum lebar sambil berkata, “Jika mereka tetap memanggil Ayah orang gila… tak masalah, tunjukan apa yang bisa dilakukan oleh anak dari orang gila ini!” 

***

Ketika para Lafitters lain pergi ke timur menuju sawah, kebun, tempat ternak, atau  tambang, ada seorang gadis yang berjalan sendirian, menantang ketidakmungkinan kaumnya, menuju ke barat. Dua kepangan rambutnya bergoyang-goyang mengikuti hentakan kaki di balik tunik abu-abu. Tangannya memegang sebuah tas hasil jahitan ibunya yang berisi dua pasang pakaian dan satu selimut. Hanya ada satu kata di setiap Laffiters yang melihat gadis itu menuju ke kastil dengan wajah seoptimis itu…GILA!

Ketika dia sampai di depan gerbang portcullis kastil, seorang prajurit yang berdiri di antara merlon–petakan-petakan di atas dinding tirai kastil–melihatnya dan berkata, “Apa yang kamu lakukan di sini , Nona?”

“Nona Sarah mengundangku untuk tinggal di kastil. Dia mengangkatku menjadi seorang pelayan,” teriak Luna sambil mengadah, kalau tidak, suaranya pasti tak akan kedengaran.

“Tunggu sebentar!” Prajurit itu lalu pergi ke sebuah Bartizans, yaitu bangunan berbentuk seperti ujung menara yang menyatu dengan dinding tirai, terletak di setiap sudut siku-siku dinding tirai. Fungsinya sebagai tempat pengawasan daerah sekitar kastil. Kadang para prajurit yang berjaga juga menggunakannya untuk beristirahat.

Sambil menunggu prajurit itu berbicara dengan orang yang ada di dalam Bartizans, Luna membalikan badan, memandang deretan rumah panggung Laffiters yang disekat dengan pagar-pagar bambu. Kawasan itu sepi, orang-orang sudah pergi bekerja. Tinggal beberapa anak kecil yang sedang bermain. Ada tiga anak kecil sedang menunjuk ke tanaman putri malu liar yang tumbuh di samping jalan. Salah seorang anak itu menyentuh daunnya, seketika daun itu menutup. Ketiganya menarik badan ke belakang karena terkejut, lalu mendekati tanaman itu lagi untuk melihat lebih dekat dengan mata berbinar dan mulut ternganga.

Luna tersenyum geli melihat adegan itu, teringat dirinya ketika masih sekitar lima tahun, tidak henti-hentinya mengoceh pada ayahnya tentang hal-hal luar biasa yang dia lihat setiap hari. Hmm, dia merindukan masa-masa itu, ketika pikirannya masih dipenuhi rasa ingin tahu untuk mengelilingi kota, tidak risau terhadap masa depan, dan belum sadar tentang realita kehidupan.

Tiba-tiba pipi gadis ini mengembang karena tersenyum sendiri, mengenang saat dirinya masih takut berada di serambi rumah di malam hari sendirian, lalu bersikeras meminta ayahnya untuk menemaninya karena ingin tidur di luar sambil melihat aurora di langit. Ayahnya pasti sudah lelah bekerja di tambang, namun tetap menuruti kemauannya. Rasanya dia ingin kembali pada masa itu dan menjewer telinga Luna kecil, dasar! Menyusahkan Ayah saja.

“Hai, Nona!” teriak prajurit dari atas dinding tadi. Luna berbalik, mengadahkan matanya ke atas.

“Kamu boleh masuk,” ucap si prajurit.

Gerbang portcullis mulai bergerak ke atas. Ketika suara putaran katrol terdengar, Luna kembali menoleh ke belakang, merekam seluruh pemadangan rumah panggung dan anak kecil yang sedang bermain untuk terakhir kali. Kemudian Luna melihat ke depan, tangannya mencekam tas erat-erat, hatinya mantap. Dia melangkah dengan pasti, siap menghadapi masa depan yang telah menunggu.

-Bersambung-

Note: Cerita ini adalah bagian dari project novel yang sedang digarap oleh penulis. Bagi teman-teman yang tertarik ingin berdiskusi mengenai cerita lebih lanjut, bisa hubungi penulis lewat email: [email protected].