Beranda Cerbung Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan-Episode 12: Sebuah Janji

Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan-Episode 12: Sebuah Janji

BERBAGI
Heaven Kingdom dan Realita Kehidupan (Wendi Amiria/DETaK)

Cerbung | DETaK

–Kisah seorang gadis yang berusaha untuk meraih impiannya di tengah carut-marut dunia–

Di balkon lantai tiga bangunan utama kastil putih, Adipati Sedler bersama Nyonya Sophie sedang memandang para prajurit dan pelayan yang lalu lalang mengerjakan tugas mereka di alun-alun. Di belakang keduanya, Sarah berdiri dengan wajah merah menyala.

IKLAN
loading...


“Kenapa Ayah begitu benci dengan Lafitters?!” Protes Sarah. 

Kesabaran Sedler benar-benar diuji oleh Sarah, bahkan sejak anak ini lahir. Bagaimana cara membuat gadis bodoh ini mengerti. Sedler melihat seorang pelayan laki-laki yang sedang memotong kayu dengan kapak. Patahan kayu itu memicu emosi Sedler karena teringat kejadian di hutan. Itu dia! 

“Saat itu Aku terjatuh di tanah, masih menjadi bocah bodoh yang ingin menjelajahi hutan Okigahara,” ucap Sedler, memulai kisah lama. “Ada seekor serigala berbulu putih sedang mendekatiku. Dia menatap dengan mata picik hitam menyala sambil menggeram mulut yang menumpahi air liur kental.”

“Ketika si serigala hendak menerkam, sebuah batu mengenai kepalanya. Dia langsung mengalihkan pandangan ke arah asal batu. Seorang bocah laki-laki seumuranku memasang postur bersiap melempar batu lain. ‘Pergi! Pergi!’ teriak anak itu. Kebuasan serigala itu segera menghilang, hanya tersisa mental penakut dan sebuah kepala yang menunduk. Lalu si keparat berbulu itu lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan.”

Sedler membalikan badan, memandang putrinya dan membuka sebuah rahasia, “Bocah itu seorang Lafitters.”

Kedua alis Sarah langsung bergerak ke atas.

“Mulai hari itu kami berteman dan Aku sering mengunjungi pemukimannya untuk bermain.”

“Ketika Aku diangkat menggantikan ayahku sebagai adipati kota Gazastan, Aku membuat keputusan yang belum pernah dilakukan oleh leluhur kita sebelumnya, memilih seorang Lafitters menjadi tangan kananku untuk mengurus urusan internal kota, yaitu temanku itu. Semua keluarga Alaska menentangnya, tapi Aku yang dulu seperti Kamu yang sekarang, benar-benar keras kepala.”

“Dia mendampingiku dalam rapat, berdiskusi bersama jajaran pengurus kota, tinggal di kastil putih, berjalan dan menggunakan fasilitas dengan bebas. Hanya ada satu tempat yang Aku minta padanya untuk tidak dimasuki, yaitu ruang kerja adipati, sama seperti yang lainnya. Bahkan keluarga Alaska sendiri tidak diizinkan untuk masuk ke dalamnya. Begitulah aturan leluhur keluarga kita yang terus diwariskan.”

Dua kaki Sedler melangkah mendekati Sarah, matanya memandang putrinya yang sedang mengadah. “Suatu hari, diam-diam dia masuk ke ruangan itu, mencuri barang-barang berharga peninggalan nenek moyang kita, lalu pergi meninggalkan kastil. Kakekmu yang sangat terkejut mengetahui peristiwa itu akhirnya mati.” 

Sedler kembali memalingkan wajahnya, melangkah ke pinggir pagar balkon, memandang penghuni kastil yang sedang beraktivitas di alun-alun. “Semua orang menyalahkanku….dan aku mengakuinya.”

Wajah itu kembali melihat Sarah, menunjukan tatapan mata menyala dan dahi berurat, sebuah ekspresi yang sering Sarah pandang.

“Aku bela dia! Memberikan kehidupan nyaman untuknya! Mencoba memperbaiki nasib kaumnya! Tapi apa yang dia balas?! Pengkhianatan!” teriak Sedler.

Jenggot Sedler bergetar, giginya dirapatkan, “Lafitters itu licik, mereka suka menipu. ketika kamu selesai dipakai, mereka akan meninggalkanmu. Aku tidak akan membiarkan anakku melakukan kesalahan yang sama.”

Tak ada jawaban apapun dari Sarah, dia masih mencoba menerka keaslian dari cerita itu.  Tak pernah terpikirkan bahwa Ayahnya pernah punya pengalaman baik dengan Lafitters. Maka cerita itu tampak seperti sebuah dongeng saja. Namun, Ayahnya tak pandai berbohong. Kemarahan yang ditunjukan wajahnya lebih berarti dari pada kata-kata yang dilontarkan mulut.

Tapi Sarah juga benar-benar yakin dirinya tidak sedang dikelabui Luna. Faktanya justru Sarah yang mengajak Luna untuk tinggal di kastil. Jika dia tidak membiarkan Luna bekerja di kastil, Luna pasti akan menghabiskan waktunya di kebun. Mereka tidak akan sering berjumpa. Sarah butuh seorang teman di sini, dia tidak punya teman perempuan sebaya di kastil. Para pelayan tidak benar-benar bersikap lepas ketika bersamanya, mereka lebih terlihat seperti sedang bekerja dibandingkan bermain.

Namun Luna yang baru dua kali ditemui itu, dirasa berbeda. Setiap perkataannya tulus, tak disembunyikan. Luna tak terlihat takut pada Sarah, justru dia terlihat merasa nyaman. Sarah berharap agar terus punya kesempatan untuk memberikan kenyamanan itu padanya. Itu membuat hatinya lebih tenang dan rasa bersalah dalam dirinya karena menjadi bagian dari keluarga Alaska bisa menghilang.

“Aku berjanji akan pergi ke Sekolah Lady Tiara jika Ayah mengizinkan Luna tinggal di kastil putih.”

Nyonya Sophie yang dari tadi hanya memperhatikan mereka berdua tiba-tiba terbelalak setelah mendengar kalimat itu. Reaksi itu bukan apa-apa dibandingkan Sedler yang hampir saja melompat andai saja tak menyadari posisinya sebagai adipati dan ayah bagi gadis di depannya. 

“Apa?” Sedler ingin memastikan bahwa kata-kata itu bukan hanya sekedar imajinasinya saja.

Sarah mulai sedikit menyesal karena melontarkan kalimat barusan. Tapi dia mencoba meneguhkan pendiriannya dengan kembali berkata lebih jelas dan lantang. 

“Aku, Sarah Alaska, berjanji, ketika telah sampai di usia 15 tahun akan pergi ke sekolah Lady Tiara untuk belajar menjadi seorang wanita bangsawan yang baik, tapi dengan satu syarat! Ayah mengizinkan Luna tinggal disini.”

Bibir adipati melebar, berusaha menahan tawa ria. Sebelumnya dia sudah putus asa untuk membujuk anaknya pergi kesana. Padahal itu menjadi kesempatan bagi putrinya untuk bertemu dengan pangeran mahkota Heaven Kingdom.

Selama ini adipati terus menjaga hubungan baik dengan keluarga Robertson, bahkan memberikan hadiah-hadiah melebihi empat keluarga besar lainnya, itu semua dia lakukan agar bisa memenuhi hasratnya melihat keturunannya duduk di singgasana Heaven Kingdom. Hasrat ini bisa dia capai lewat menikahkan putrinya dengan pangeran mahkota kerajaan, dan sekolah Lady Tiara adalah batu pijakan pertama untuk mencapai tujuan itu.

Mengizinkan seorang Lafitters tinggal di kastil bukanlah masalah jika dibandingkan tujuan besarnya itu. Toh, akan dia jadikan Lafitters itu pelayan di dapur, jauh dari bangunan utama. Jka macam-macam, dengan mudah prajurit menangkapnya seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Lagi pula, apasih yang bisa dilakukan oleh seorang gadis kecil?

-Bersambung-

Note: Cerita ini adalah bagian dari project novel yang sedang digarap oleh penulis. Bagi teman-teman yang tertarik ingin berdiskusi mengenai cerita lebih lanjut, bisa hubungi penulis lewat email: [email protected]