Beranda Cerpen Dia Bukan Menghilang, Tapi Memang Tak Pernah Ada

Dia Bukan Menghilang, Tapi Memang Tak Pernah Ada

BERBAGI
Ilustrasi. (Badriatul Istiqomah/DETaK)

Cerpen | DETaK

Aku melihat keindahan diseberang jalan, ya kamu Rovert, orang yang kutemui di 2020. Dia sederhana, pintar dan juga rajin, mungkin agak sedikit nakal,ckck. Kejadian tadi sangat sekilas karena aku harus bergegas pergi ke kelas.
.
.
Awal 2020
“Rani, kamu sudah siap laporan statistika belum? Aku boleh minta formatnya gak? soalnya aku gak nyatet kemarin,” tanya Rovert.

“Nanti deh aku kirimin, soanya lagi gak bawa catatan nihh, see you,” ucapku sambil berlari pulang.

IKLAN
loading...


Ku hempaskan rasa lelah ke atas kasur sambilan membalas satu persatu pesan di hp-ku. Tidak perlu waktu yang lama, aku bersiap untuk menyelesaikan tugas dan laporan minggu ini, eee 30%, ntah kenapa deadline lebih mengesankan.

Saat aku sedang berseluncur di sosial media, muncul notifikasi dari Rovert. “ran, format laporan yang kamu kirim ke aku salah. Nih, ikutin format file ini aja ya” begitulah isi chat dari Rovert. “Ya ampun ini mah sama aja buat ulang dari awal” keluhku pada diri sendiri.

Jam menunjukkan pukul 03:00 am, huftt akhirnya selesai juga laporanku, aku pun tidur dan tak lupa membuat alaram untuk subuh. “Sial, aku kesiangan! Selalu saja begini, aku sangat menyesal setiap tidur usai shalat subuh” Waktu menunjukkan pukul 08:30 dan aku baru saja tiba di kampus. “Huaaa telat 30 menittt” ucapku sambil berlari di koridor kelas. Untung saja dosen yang masuk pagi ini tidak mempersalahkan keterlambatan.

Seusai kelas, aku pergi menjumpai Rovert untuk mengevaluasi kesalahan di laporanku. Rovert melihat dengan teliti. “Laporannya udah bagus ran , hanya saja marginnya perlu di perbaiki, oiya btw aku duluan ya, masih ada jam kelas lain nih, bye” Ucap Rovert sambil berlari.
“Makasih Rovert” ucapku dan dijawab dengan lambaian tangan Rovert yang mulai menghilang.
.
.
Suatu ketika terdengar kabar tentang penyakit menular yang masuk ke Indonesia, hal ini membuat seluruh kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara online. Jujur, aku sangat gaptek, apalagi diharuskan untuk mendownload aplikasi meeting online. Untungnya ada Rovert, dia yang membantuku untuk menginstal dan mengajarkan cara menggunakan aplikasi yang diperlukan untuk belajar online.
.
.
Awalnya berjalan seperti biasa, semakin hari, aku dan Rovert semakin dekat. Kami membahas tentang tugas, laporan, dan webinar yang hendak diikuti, perbincangan ini terus berlanjut hingga libur semester tiba.

“6 bulan tak dapat kabar lagi dari Rovert, tak ada pesan, tak ada kata pisah, tak ada petunjuk apapun” ucap Rani dalam hatinya.

“Ada apa ini? Rasanya dadaku sangat sesak! Aku tak bisa melihat apapun, semuanya gelap,” bruk, rani jatuh pingsan.

Saat Rani membuka matanya, ia melihat sekeliling ruangan. Dia berada dikamarnya dengan saluran infus ditangannya. Ia melihat ibunya sedang duduk di sampingnya. “Ibu, apakah ada pesan masuk dari Rovert selama aku sakit?” tanya Rani, “Tidak ada Rani” jawab ibunya sambil menahan tangis.

Sebenarnya Rovert hanyalah orang yang terbentuk dari halusinasi Rani. Sebenarnya Rovert tak pernah pergi, Rovert juga tak pernah hilang, hanya saja Rovert tak pernah ada.

Rani mengidap penyakit Skizofrenia, sebuah gangguan mental yang membuat orang berhalusinasi yang mempengaruhi pikiran, bicara, dan perilaku.

Penulis adalah Rifdah Afifah Bardan. Ia merupakan anggota aktif di UKM Pers DETaK Universitas Syiah Kuala.

Editor: Della Novia Sandra