Beranda Film 27 Steps of May, Ini Tentang Luka dan Trauma

27 Steps of May, Ini Tentang Luka dan Trauma

BERBAGI
27 Step of May. (Ist)

Resensi | DETaK

Identitas Film
Judul : 27 Steps of May
Sutradara : Ravi Bharwani
Produser :   Ravi L. Bharwani ,  Rayya Makarim ,  Wilza Lubis
Penulis Skenario : Rayya Makarim
Produksi : Green Glow Pictures in association with Go Studio
Pemeran : Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu, Ario Bayu, Verdi Solaiman
Tahun Rilis : 2019
Durasi : 112 menit
Negara : Indonesia
Bahasa : Indonesia

Film ini mengisahkan seorang gadis bernama May (Raihaanun) yang pernah menjadi korban pemerkosaan dari segerombolan laki-laki yang ia tidak kenal dan seorang ayah (Lukman Sardi) yang terus merasa bingung serta menyesal akan hal yang menimpa putri terkasihnya.

IKLAN
loading...


Awal kisahnya dimulai ketika May yang berumur 14 tahun ini pergi ke salah satu pasar malam dengan masih dibaluti baju seragam sekolahnya. May remaja terlihat sangat antusias dengan salah satu tangannya yang masih memegang permen gulali berwarna merah muda itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanannya menyelusuri gang-gang sempit, ia berhenti karena benda bercahaya di pinggir jalan. May dengan niat ingin melihat benda tersebut ia malah disergap melalui belakang oleh segerombolan preman, dan itulah awal luka dan trauma yang ia toreh selama 8 tahun ke depannya.

May hancur tidak karuan, untuk menangis di perjalanan pulang saja sudah tidak bisa lagi, air matanya kering. Ayahnya yang sedang menata kebun kesayangannya pun merasa terkejut dengan penampilan anaknya yang sudah tidak karuan itu. Seragam yang kotor dan robek, rambut yang yang berantakkan, dan mata yang kosong. Saat itu hidup May dan ayahnya berubah.

Tahun pun berganti, sudah 8 tahun May menutup diri dan tidak pernah keluar dari rumah bahkan saat rumahnya nyaris terlahap oleh api. Untuk pergi ke ruang depan saja ia tidak mampu. Hidupnya sebatas ruang kamar berwarna putih yang nyaris penuh. Kehidupan May berubah, mulai dari penampilan sampai makanan yang ia makan. Dikarenakan kejadian malam itu, May bahkan memutuskan hanya memakan makanan yang tidak dibumbui dan itu tidak pernah berubah selama 8 tahun.

Ayahnya sedari awal selalu mencoba mencari tahu apa yang menimpa anak perempuan semata wayangnya ini, namun May tak pernah memberinya jawaban dan ayahnya makin merasa gagal dan bersalah.

Di antara dua tokoh utama ini, Ravi selaku sutradara turut menyuguhkan karakter pesulap yang dimainkan dengan apik oleh Ario Bayu yang tinggal di sebelah rumah May. Karakter pesulap ini seolah menjadi gambaran penting dalam film “27 Steps of May”. Pesulap inilah yang menjadi obat serta pintu keluar bagi May dari luka dan trauma yang tidak berpenghujung. Interaksi antara May dan pesulap ini pun cukup unik. Interaksi mereka dibangun melalui celah kecil pada tembok kamar May yang menghubungkan pada ruang pesulap tersebut melatih atraksinya, dan di sanalah May perlahan memiliki keberanian untuk membuka diri dan mencoba hal baru, sulap.

Film ini memiliki nilai yang sangat kaya. Walau jumlah dialog pada film ini dapat dihitung oleh jari, namun dalam sunyinya film ini seakan mengajak para penonton untuk berbincang melalui kecakapan permainan peran aktor-aktor yang ada. Film ini juga tidak hanya menggambarkan kesedihan, namun film ini dengan apiknya membangun suasana bangkit untuk pemain serta penonton.

Selain berhasil membangun perasaan penonton dengan sangat baik dan intens, sinematografi dari film ini terasa hangat dan tidak dingin. Film ini terasa damai walau isinya penuh dengan kesedihan, pengalaman traumatis, dan luka. Film ini digarap cukup baik.

Namun, di balik sinematografi serta pembangunan cerita yang baik, film ini juga menampilkan kegiatan yang cukup memicu penonton. Misal, saat May merasa tertekan atau terancam, May akan dengan cukup jelas melukai dirinya dengan menyayat tangannya berulang kali.

Secara keseluruhan, film “27 Steps of May” dinilai menjadi film yang penting dan patut disaksikan lebih luas bagi para penonton. Film yang sempat masuk nominasi dan penghargaan di Festival Film Indonesia 2019 ini dinilai menyuguhkan sarat makna dalam proses yang dimainkan dengan apik oleh pemain-pemain dalam film ini. Film “27 Steps of May” yang dinilai memiliki skenario naskah yang apik dan pintar ini menjadi salah satu film yang patut ditonton dan direnungkan bagi para penonton.

Peresensi bernama Gina Tsabitha, mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan salah satu anggota magang di UKM Pers DETaK.

Editor: Teuku Muhammad Ridha