Beranda Opini Antara Aceh dan Yogya

Antara Aceh dan Yogya

BERBAGI

Permasalahan ke-istimewa-an Yogyakarta yang “diributkan” oleh pemerintah Indonesia memang telah memancing emosi sebagian besar masyarakat disana.

Keistimewaan Yogya, merupakan sebuah keistimewaan yang telah lama diberikan. Namun ntah mengapa sekarang baru “diributkan”, khususnya dalam hal status pimpinan utama daerah atau gubernur.

Nah, ternyata, reaksi ini juga muncul di Aceh. Berbagai pendapat terlontar dari berbagai pojok.

Sayangnya, di Aceh, yang saya lihat justru masih menilai sejauh mana perbedaan keistimewaan Aceh dibanding Yogya.

Sangat aneh memang, bagaimana sebuah keistimewaan dinilai dan dibanding-bandingkan. Tulisan ini sendiri muncul dari sebuah opini berjudul Modal Indonesia..? YOGYA atau ACEH..!

Euforia yang berlebihan tentang keistimewaan Aceh masih saja diungkit-ungkit, khususnya dalam hal sejarah.

Untuk saat ini, saya justru melihat posisi Yogya jauh diatas Aceh dalam hal budaya, pengembangan dan naturalisasi budaya dalam berbagai bidang.

Lihat saja, bagaimana pemerintah setempat membuat sebuah program dalam hal pengembangan budaya. Hasilnya, kita bisa lihat, berapa banyak warga negara asing yang belajar di sana.

Bule-bule itu sengaja datang untuk mengenal sejarah dan budaya Yogya lebih dalam. mereka belajar menggunakan alat musik tradisional jawa, belajar bahasa (bukan hanya bahasa, akan tetapi juga sastra jawa), sehingga bule-bule tersebut bukan hanya mampu berbahasa jawa secara fasih, tapi dapat menulis dan membaca dalam bahasa jawa. Dan jangan heran, tidak sedikit bule disana yang bisa nembang (padahal nembang itu salah satu seni yg sulit) dan menjadi Dalang dalam sebuah pertunjukan wayang.

Selain itu, mereka juga mempelajari seni tari, makanan bahkan belajar bagaimana membuat batik secara tradisional.

Dan melihat “keaslian” culture yang masih terjaga itu, tidak sedikit pula universitas-universitas besar di dunia mengirimkan staf pengajarnya untuk mengikuti pendidikan tentang kebudayaan jawa dan beberapa daerah lainnya di Yogya.

Mari kita bandingkan dengan Aceh. Dimana kita bisa mencari sebuah lokasi yang masih “suci” culture budayanya sebagaimana Yogyakarta, sehingga orang asing mau berduyun-duyun belajar budaya dan bahasa Aceh?

Dimana kita bisa melihat kehidupan real kebudayaan yang masih ada di Aceh?

Nyaris tidak ada!

Bahkan, di Yogya, aktifitas hari besar disana (kegiatan ritual keraton dan lainnya), kini telah dijadikan sebagai ajang promosi wisata yang mendatangkan jutaan dollar.

Bagaimana dengan promosi wisata Aceh? adakah “menjual” sebagaimana yang dijual Yogya?

Mari kita bandingkan dua peninggalan sejarah keduanya, Candi Prambanan dan Benteng Indra Patra.
Candi ini merupakan salah satu produk yang dipromosikan dalam memperkenalkan kebudayaan Yogya sekaligus sebagai pemasukan daerah.

Sedangkan Benteng Indra Patra, kondisinya sangat memprihatinkan. Kerusakan yang tak pernah selesai diperbaiki, sampah yang berserakan, pamflet yang berkarat hingga kotoran ternak menjadi pemandangan umum.

Untuk saat ini, dalam hal budaya, saya melihat, Aceh kalah jauh.

Selain Yogya, masih ada Bali, Tanah Toraja dan Papua. Di Sumatera Utara, sastra Batak juga sudah menjadi sebuah program studi (Di Aceh?).

Dalam suatu kesempatan, bagaimana Discovery Channel menayangkan tentang suku batak yang masih menjaga adat istiadatnya secara baik. Baik dalam hal pakaian, rumah, ritual dan lainnya.

Bahkan, kopi di Simalungung, iklannya sudah bergentayangan di berbagai negara. Bandingkan saja dengan kopi Aceh? justru kopi Gayo dijadikan hak paten secara sepihak oleh salah satu negara.

Kita harus fair, melihat Aceh saat ini, pakaian kita, rumah kita, nyaris hilang ke-Acehannya. Jika pun ada, hanyaah warisan yang tak terurus.

Ada juga beberapa personal yang secara suka rela menjaga dan mengumpulkan, namun tak pernah mendapat perhatian. Bahkan, apa yang dikumpulkan itu sempat hilang karena di curi.

Karena itu, sebuah keistimewaan memang tidak bisa dinilai dengan angka. Kesitimewaan itu sangatlah unik. Kita tidak bisa mengklaim kita lebih istimewa dari yang lainnya.

Semuanya ada jasa, semuanya ada perjuangan dan pengorbanan. Perbedaan pengorbanan itulah yang membuat karakter (istimewa).

Pada masa Rasulullah saw, seluruh Sahabat ra.hum berjuang dan berkorban. Mereka juga beribadah dan berkhidmat kepada Rasul. Akan tetapi, karakter para sahabat yang berbeda, pengorbanan yang berbeda-beda, menjadikan para sahabat mulia.

Perbedaan karakter itulah mereka menjadi istimewa dibanding manusia lainnya. Semuanya mendapat pujian dari Rasulullah saw.

Satu saat, Rasulullah memuji sahabat yang satu, lain kala Rasulullah memuji sahabat yang lainnya lagi dan begitu seterusnya. Rasulullah mencintai dan menghargai seluruh pengorban para sahabatnya. Begitupun kita di Indonesia, kita memiliki pengorbanan yang sama untuk Indonesia.

Perjuangan setiap daerah itu berbeda dalam hal jenis dan bentuknya, semangatnya dan lain-lain.

Kita semua satu untuk satu, tapi perbedaan pengorbanananlah yang membuat satu wilayah atau seseorang itu menjadi istimewa.

Jadi, jika ditanya daerah mana paling berjasa dan memberi kekayaan Indonesia? Semuanya sama. Semua wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang luar biasa. Tak ada yang sama. Kekayaan alam, kekayaan bahasa, kekayaan adat istiadat, tidak ada yang lebih baik satu sama lainnya.

Jika ada yang lebih baik? SIAPA YANG MENILAI? APA INDIKATORNYA?, karena, sebuah perbedaan itu tidak dapat dinilai dengan standarisasi POIN yang sama.

untuk komentar — > KLIK DISINI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here