Beranda Headline Panelis Sayangkan Keterlambatan Calon Ketua BEM dalam Debat Kandidat

Panelis Sayangkan Keterlambatan Calon Ketua BEM dalam Debat Kandidat

BERBAGI
Debat Kandidat Ketua BEM Unsyiah 2017. 14/12/17. (Mohammad Adzannie Bessania | DETak)

Mohammad Adzannie Bessania | DETaK

Darussalam – Kandidat calon ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah dinilai tidak tepat waktu saat menghadiri Debat Kandidat Calon Ketua BEM Unsyiah di Lapangan Tugu Darussalam. Kamis, 14 Desember 2017.

Salah seorang panelis debat, Effendy Hasan, menegaskan hal tersebut saat memberikan pertanyaan kepada kandidat calon pada sesi kedua debat.

IKLAN
loading...


Efendy mengaku, acara debat seharusnya dimulai pukul 08.30 dan panelis sudah berada di lokasi. Namun, ia menyayangkan keterlambatan kelima calon ketua BEM saat hadir di lokasi debat, sehingga acara baru dimulai sekitar pukul 10.00.

“Kami (panelis) datang pukul 08.30. Kalian merupakan calon ketua BEM dan itu harus menjadi teladan bagi mahasiswa Unsyiah. Hari ini tergambarkan bagaimana kalian menjadi contoh teladan ketika panelis harus menunggu kalian,” ujarnya.

Effendy mengajukan pertanyaan ‘dasar’ kepada calon mengenai bagaimana cara meyakinkan mahasiswa Unsyiah untuk memilih calon tersebut. Pertanyaan tersebut dijawab oleh masing-masing calon, yaitu Ikhsan, Sakti Arya Duta, Rijalul Fahri, Muhammad Yasir, dan Agam Riski.

Sakti Arya Duta menyebut bahwa ia menghadiri debat tepat waktu. Mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) ini juga meng-klaim memiliki kontribusi besar terhadap mahasiswa Unsyiah.

“Saya memiliki komitmen. Awalnya saya datang pukul 08.30, tetapi tidak ada orang. Jadi, saya berkeliling sebentar. Saya sudah mengabdi di Unsyiah cukup lama dan sudah banyak kontribusi saya kepada mahasiswa sehingga mahasiswa bisa merasakan saat ini,” ujar Sakti yang merupakan kandidat nomor urut 2.

Kandidat nomor urut 5, Agam Rizky melontarkan permohonan maaf dan mengaku atas keterlambatan yang ia lakukan. Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) ini mengaku mampu menjaga akreditasi Unsyiah apabila terpilih.

“Saya mengucapkan maaf atas keterlambatan saya tadi. Mengenai akreditasi A Unsyiah, untuk jurusan saya (Peternakan Unsyiah), kami berjuang tahun lalu untuk mendapat akreditasi A. Dengan susah payah, akhirnya jurusan kami mendapat akreditasi A,” kata Agus yang masih menjabat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Peternakan (Himapet) Unsyiah.

Rijalul Fahri mengaku siap menghadiri debat kandidat dengan tepat waktu dan memiliki peran dan tanggung jawab untuk berkontribusi di Unsyiah.

“Saya yakini bahwa pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang menghargai waktu. Sejak tadi pagi, saya siap berhadir tetap waktu dan saya siap mengikuti debat kandidat. Saya punya motivasi untuk memberikan kontribusi yang lebih kepada orang lain. Sebagai mahasiswa, saya punya peran dan tanggung untuk berkontribusi,” ujar kandidat nomor urut 3 yang berasal dari Fakultas Keperawatan ini.

Kandidat nomor urut 1 yang berasal dari jurusan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Ikhsan, telah memantapkan diri sebagai ketua BEM selama satu periode.

“Salah satu perubahan yang terpenting adalah menjaga waktu. Dengan menjaga waktu, kita berkomitmen untuk menjalankan perubahan kedepan. Perubahan dimulai dari sendiri. Saya sudah memantapkan diri saya untuk Unsyiah kedepan selama satu periode,” jelasnya yang juga menjabat sebagai ketua English Student Association (ESA).

Muhammad Yasir, kandidat nomor urut 4 yang berasal dari jurusan Teknik Geologi, FT ini juga melontarkan permohonan maaf mengenai keterlambatan saat menghadiri debat. Ia juga optimis dapat berkontribusi di BEM dengan pengalaman organisasi yang pernah digeluti.

“Sebelumnya saya minta maaf karena terlambat. Saya berkomitmen untuk membangun Unsyiah lebih baik. Dengan pengalaman dan organisasi yang saya ikuti di Unsyiah, saya yakin dapat berkontribusi lebih di BEM Unsyiah,” tuturnya.

Sesi kedua debat kandidat merupakan sesi dimana panelis memberi pertanyaan yang akan dijawab oleh seluruh kandidat. Jawaban yang dilontarkan oleh kandidat kemudian  ditanggapi oleh panelis.

Komisi Pemilihan Raya (KPR) Unsyiah, selaku penyelenggara debat kandidat, menghadirkan tiga panelis, yaitu Alfiansyiah Yulianur, Effendy Hasan, dan Saifuddin Bantasyam. [*]

Editor: Dinda Triani