Beranda Headline Nahma Ni Gayo, Lestarikan Sejarah Budaya Gayo

Nahma Ni Gayo, Lestarikan Sejarah Budaya Gayo

BERBAGI
Ilustrasi (Ist.)

Eureka Shittanadi | DETaK

Darussalam – Mahasiswa Peduli Sejarah Gayo (MAPESGA) dalam upaya melestarikan dan memperkenalkan sejarah dan budaya Gayo yang menjadi salah satu rangkaian Nahma Ni Gayo kepada khalayak ramai khususnya mahasiswa Gayo yang sedang mengenyam pendidikan di Banda Aceh dengan mendatangkan seorang penulis dan sastrawan, Salman Yoga S dan seorang dosen UIN Ar-Raniry, Sehat Ihsan Shadiqin, untuk memaparkan adat istiadat dan budaya Gayo di gedung Lab School Unsyiah, Selasa, 18 Oktober 2016.

Dalam pemaparannya, Sehat yang pernah melakukan penelitian langsung di Dataran Tinggi Gayo mengenai adat dan budaya Gayo menjelaskan bahwa sistem kepemimpinan adat Gayo terdiri atas reje (raja/pemimpin tertinggi), imam (berkedudukan setelah reje), dan rakyat.

IKLAN
loading...


Menurutnya, alasan mengapa anak muda sering melupakan adat istiadat mereka terutama unsur pemerintahan sesuai adat mereka yakni terletak pada aturan pemerintah, Undang-Undang (UU) Pemerintah Desa No.5 Tahun 1979 yang mengatur bahwa semua desa di Indonesia harus memiliki unsur pemerintahan yang sama dan kemudian peraturan tersebut tidak lagi dipakai sampai saat ini. Meski demikian, baik sengaja atau tidak, peraturan adat saat ini memiliki upaya acehisasi yaitu memasukkan berbagai unsur adat etnis Aceh dan hal tersebut dirasakannya sangat berbahaya untuk masa depan.

“Saya pernah dengar mengenai seorang anggota dewan yang saat didemo oleh mahasiswa ia mempertanyakan orang yang tinggal di Aceh namun tidak bisa berbahasa Aceh, itu saya kira sinting. Tolong dibedakan antara Aceh sebagai etnis dan Aceh sebagai provinsi. Ia tidak mengerti ada berapa banyak suku di Aceh,” sesalnya.

Sedangkan Salman lebih menekankan tentang sejarah dan budaya Gayo pada zaman dahulu, khususnya pada masa kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di Dataran Tinggi Gayo seperti kerajaan Linge dan kerajaan Pasa. Ada banyak bukti berupa catatan sejarah yang ditulis beberapa penjelajah mengenai keberadaan beberapa kerajaan Gayo serta adat budaya yang dianutnya pada masa itu.

“Setelah melihat pemaparanpara pemateri, saya merasa takjub. Peserta yang melebihi jumlah ekspektasi saya juga terlihat sangat antusias dalam mendengar,” ucap, Sahrizal, ketua panitia kepada detak-unsyiah.com.[]

Editor: Cut Meliana