Beranda Lipsus Mahasiswa Jalankan Program KKN Pakai Dana Pribadi

Mahasiswa Jalankan Program KKN Pakai Dana Pribadi

BERBAGI
Karikatur Liputan Khusus Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unsyiah. (Muhammad Chalid Isra/DETaK)

Dinda Triani | DETaK

Darussalam – KKN periode X yang berlokasi di daerah Pidie, Januari 2016 lalu menyisakan kekecewaan mendalam yang dirasakan oleh mahasiswa. Rahmat Hidayat salah seorang peserta KKN periode ke X mengaku merasa kecewa sebab ketiadaan dana yang disediakan oleh pihak Biro Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) seperti periode sebelumnya, berita tersebut diumumkan pihak Badan Pelaksana (Bapel) seminggu sebelum pelepasan mahasiswa KKN.

Ia juga menjelaskan perihal kesulitan yang dihadapi secara pribadi dan kelompoknya sebab ketiadaan dana tersebut. Rahmad dan seratusan kelompok KKN periode X lainnya harus rela merogoh kocek pribadi lebih dalam untuk membiayai program KKN serta uang makan selama di sana.

IKLAN
loading...


“Kami kembali harus mengubah ulang program kelompok, yang sebelumnya telah direncanakan matang, untuk mengurangi pengeluaran dana yang besar. Sebab itu tiap anggota mengumpulkan Rp 200.000 setelah dibagi rata untuk kegiatan kelompok. Dan itu kucup memberatkan. Belum lagi biaya dan dana pribadi dan lain-lain yang harus dikeluarkan.” Papar Rahmat, kepada detak-unsyiah.com  Senin, 29 Februari 2016.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kelompok mereka tetap menjalankan KKN semaksimal mungkin, meski sempat ada teman-teman seperjuangannya yang berinisiatif untuk meninggalkan desa setelah 22 hari melaksanakan kegiatan KKN.

Mahasiswa Ekonomi anggota kelompok P28 tersebut mengharapkan, ke depannya pihak Bapel tidak memberitahukan keputusan dalam waktu singkat, sehingga mahasiswa merasa terkejut dan sangat terbebani.

“Ya harapan saya kedepan pihak Bapel dapat memberikan informasi secepat mungkin agar mahasiswa dapat mempersiapkan diri dalam segala keadaan, dan kepada adik-adik nantinya yang akan mengikuti KKN harus menanyakan kejelasan dana maupun hal lainnya ke Bapel, sehingga tidak merasakan kekecewaan seperti kami,” ucapnya mengakhiri wawancara.[*]

Editor: M. Fajarli Iqbal