Beranda Feature Lembar Lama untuk Lembar Baru PII Aceh Tengah

Lembar Lama untuk Lembar Baru PII Aceh Tengah

BERBAGI

KESUNYIAN malam masih terasa seusai magrib, 25 September 2009 di kediaman Wakil Bupati Aceh Tengah, Djauhar Ali. Bunyi knalpot kendaraan roda dua yang sering terdengar saat melintas di depan rumah Djauhar. Hanya dua anggota Polisi Pamong Praja yang terlihat berlalu lalang di sekitar rumah yang dihiasi tiga mobil mewah itu.

Beberapa saat kemudian terlihat pemuda berpakaian rapi menjaga pintu gerbang rumah itu, salah satu dari mereka memakai jas berwarna kuning muda bertulisan PII, ia mengajak masuk kami yang hendak menghadiri acara silaturrahmi Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia.

“ Dek ayoo masuk dek…” unjar Win Noto, ketua umum PII Aceh Tengah.

Saat malam mulai menjelang, rumah Djauhar semakin didatanggi sesepuh PII dari tahun 50an sampai 90an. Salah satunya Mahmud Ibrahim, pria yang selalu berpakaian serba putih ini terlihat mulai mencicipi suguhan dari Djauhar Ali selaku tuan rumah. Tak hanya Mahmud Ibrahim saja yang datang pada malam itu, Irsyadudin, M. Taib WA, Ibnu Hajar Lot Tawar, Ishak, Zainal Abidin Mude, Halimatul SA’diah, Surapati, Abdul Aziz, Ibnu Sabil dan beberapa anggota Pengurus Daerah PII Aceh tengah turut berhadir dalam diskusi malam itu.

Diskusi yang dimoderatori oleh Radiah Amna berlangsung alot semenjak pukul delapan sampai dengan pukul sebelas malam.

“ Setiap priode kepengurusan PII mempunyai tantangan yang berbeda-beda sesuai dengan masanya, pada masa kepengurusan Ayahanda Mahmud Ibrahim mungkin tantangannya adalah PKI sedangkan pada masa kepengurusan saya adalah Azaz Tunggal dan pada masa sekarang tantangannya adalah kemampuan pribadi, keteladanan dan IPTEK dari kader itu sendiri. Sekarang jadilah PII yang menjadi warna, bukan menjadi air, PII yang memberikan warna di dalam air, bukan PII yang diwarnai.” ungkap Ibnu Hajar saat mengawali diskusi malam itu.

Selain itu, Ibnu Hajar juga menegaskan betapa pentingnya melesatarikan bahasa daerah, khususnya bahasa Gayo. Menurut survei yang dilakukan bahwa rumah tangga yang memakai bahasa melayu maka keluarga mereka akan tidak sempurna. Pentinganya bahasa Gayo dalam kehidupan kita adalah dengan mengunakan bahasa Gayo berarti kita sudah ikut mendukung melestarikan bahasa kita sendiri. Apabila ada satu juta penduduk yang tidak menggunakan bahasa Gayo, maka tidak tertutup kemungkinan bahasa Gayo akan hilang dari zaman.

Saat Djauhar Ali meyampaikan sambutannya, ia menyampaikan kekecewaannya terhadap pengurus daerah sekarang yang krisis keilmuan Islam. “ Pelajar Islam Indonesia. Islam yang kalian pegang, maka sangatlah penting untuk menguasai pokok-pokok Islam itu, salah satunya adalah Tauhid dan Aqidah. Aqidah Islam haruslah dijaga karena kita adalah Pelajar Islam, untuk itu saya menawarkan sebuah program yang bekerjasama dengan MUI dan Baitul Mal dalam proses pembenahan Ilmu Islam.” ungkap Djauhar.

Menjawab keluhan Pengurus Daerah yang tidak mempunyai seketariat tetap, Djauhar menegaskan bahwasanya Pelajar Islam Indonesia adalah milik umat, dan PII itu sendiri tidak boleh jauh dari masjid. “Djauhar juga berharap besar bahwa PII dapat mendukung Pemerintah Daerah dalam pembangunan daerah.

” Menutup sambutannya malam itu. Mantan SEKDA Bener Meriah, Ishak juga menambahakan bahwasanya dalam membumikan PII di Aceh Tengah haruslah melakukan sosialisasi yang mendasar kepada setiap lapisan. “ Masayarakat, Pelajar dan Kepala Seolah adalah sasaran yang paling utama untuk melaukan sosialisasi,” ungkap Ishak.

“ 70% pikiran kita haruslah keislaman dan baru 30% lagi untuk sosial, misalkan untuk berpikir ke arah regional, nasional dan daerah, “ tegas Ishak.

Kita juga mempunyai suatu kesempatan dalam membantu anak yatim khususnya, karena sekarang Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran sebesar 180 Milyar khusus kepada anak yatim, jika Pelajar Islam Indonesia mempunyai kegiatan positif untuk membantu anak yatim, maka cobalah untuk meraih ini, tambah Ishak.

Desus angin yang masuk melalui pintu sudut belakang tidak menguranggi semangat suasana malam itu, rangkaian hidangan segelas teh menambah hangatnya suasana ketika Zainal Abidin Mude menyampaikan kesannya kepada PII-PII yang hadir dalam acara tersebut. Kerut wajah yang dihiasi jenggot putih dengan dibalut syal hijau menjadi pelengakap attribut Zainal. “ ngoken aku wan penjere, daripada ko wen, kebue mu wan jeroh, ( lebih baik saya masuk dalam penjara, apabila yang kamu kerjakan itu baik,“ tegas Zainal dalam bahasa Gayo.

Umat islam sekarang bukanlah umat islam yang sesungguhnya, malam takbiran kemarin cobalah kita saksikan bersama apa yang dikerjakan oleh anak muda, mereka saling berpelukan menggikuti iringan-iringan pawai takbiran, siapa yang tidak kecewa. ungkap Zainal.

Pentingnya manajemen islam yang baik merupakan modal utama dalam memperbaiki kehidupan sekarang, mulailah dari memanajemen rukun Islam. Itulah yang seharusnya ada dalam hidup kita. Menghadapi globalisasi sekarang, kita harus mampu mengimbangginya. PII haruslah lebih unggul dalam hal ini, karena selama ini 88% yang menjadi pemimpin dalam PII akan menjadi pejabat di dalam kepemerintahan. Sekarang untuk mengapai itu semua haruslah dibutuhkan suatu manajemen yang sangat baik. Tambah Mahmud Ibrahim mengawal penutupan malam itu.

“ PII haruslah mempunyai attribut yang jelas, untuk memperjelas identitas diri PII itu sendiri. Selain itu untuk membangkitkan PII di Aceh Tengah, buatlah suatu buku yang menggambarkan sejarah PII di Aceh Tengah. Dalam hal ini adik-adik PII dapat langsung berkonsultasi dengan Adinda Ibnu Hajar Lot Tawar,” tambah Mahmud Ibrahim.

By : Iwan Aramiko

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here