Beranda Sastra Sang Penjual Bakso Goreng

Sang Penjual Bakso Goreng

BERBAGI

Humaira Anwar
Matahari sudah semakin tinggi seiring mengalirnya keringatku dari pelipis. Mungkin suhu bumi sudah naik sekian derajat sejak tahun aku dilahirkan dulu. Apa tidak ada yang sadar bahwa pemanasan global itu bukan perkara main-main? Manusia terus saja mengoperasikan mesin-mesin penyumbang karbondioksida yang akan memerangkapkan gelombang radiasi infra merah sinar matahari sehingga terjadilah efek rumah kaca. Dengan begitu suhu bumi akan terus meningkat dan jangan heran jika suatu hari akan banyak orang yang terserang heat stroke. Banjir, kekeringan, dan badai tentu akan senantiasa menghiasi berita di televisi atau di koran-koran.
Sejak pagi aku sudah terduduk di atas motor bututku. Dudukku tidak leluasa karena jok belakangnya sudah kutempeli pencari nafkahku. Aku mulai berdagang bakso goreng sejak tiga hari yang lalu tapi sepertinya tidak ada kabar baik. Sudah dua malam aku dan anak-anakku yang menghabiskan bakso-bakso itu. Apa karena tampilan tempat berjualanku yang tidak terlihat meyakinkan? Atau karena rasa, atau karena baksonya terlalu kecil ….
Fiuh!

Aku terlalu banyak menduga-duga mungkin. Tapi sebenarnya aku sendiri juga tidak merasa optimis dengan pilihan pekerjaanku sekarang. Aku memang tidak begitu suka berdagang. Tidak suka berbicara dengan ekonomi dengan segala kalkulasi untung ruginya. Namun terus bekerja di pelabuhan juga tidak membuatku nyaman.

Kalau tidak mengingat anak pertamaku yang sudah sewajarnya masuk TK, anak keduaku yang juga perlu asupan gizi dari susu formula, dan ibu mereka yang semakin hari semakin kurus karena hanya memakan telur atau ikan teri padahal dia menyusui, tentu aku akan membaca buku di perpustakaan.

Aku ingin bekerja di “dunia”-ku. Bukan sebagai penjual bakso goreng yang menunggu pelanggan ketiga untuk hari ini saja susahnya bukan main, padahal lapangan tugu ini ramai. Aku juga ingin memberi makan anak-anakku dengan makanan-makanan penuh gizi. Aku ingin membawa istriku berlibur. Akan kuajak dia menginap di hotel mewah bintang lima yang restorannya menyajikan makanan enak kelas dunia, yang kamarnya cukup luas untuk anak-anakku berlari-larian, yang tempat tidurnya empuk lagi lebar.

Namun, titel sarjana tidak cukup membuatku mendapatkan pekerjaan besar dan bergengsi. Semua angan-anganku tetap menjadi sebuah angan-angan.

Aku kembali menunggu pembeli. Sesekali kubujuk mahasiswa-mahasiswa yang melewatiku untuk membeli daganganku. Lalu akan melengos lagi ketika mereka menggelengkan kepalanya, menolak bujukanku. Aku menangis di dalam hati. Hari ini sepertinya aku dan anak-anakkulah yang menghabiskan dagangan sisa. Membuat bakso-bakso itu sebagai pengganti makan malam.
“Salman.” panggil seseorang dari belakangku.
Aku menoleh dan melihat Jafar turun dari sepeda motornya lalu menghampiriku.
“Kiban haba, ngön? Trép that hana meurumpok geutanyoe? Kerja apa sekarang?” sapa Jafar setelah menepuk bahuku. Jafar adalah teman satu angkatanku di kampus dulu. Aku pangling melihatnya sekarang. Dulu dia merupakan mahasiswa lusuh yang sepertinya tidak punya niat untuk kuliah. Dia jarang menyelesaikan tugas kuliah dengan sempurna. Kalaupun sempurna, patut dipertanyakan siapa yang membuat tugasnya. Jika jaman ujian dimulai, dia akan memilih posisi tempat duduk di dekat teman-teman yang dianggapnya pintar. Tak jarang dia duduk di sampingku.

Aku sedikit malu menunjukkan peralatan menggoreng bakso di jok belakangku untuk menjawab pertanyaannya yang terakhir.
Dia tampak prihatin. kemudian—tanpa memedulikan minatku akan pembicaraan ini—dia mulai menceritakan karirnya yang bagus sekali. Pendapatannya per bulan bisa mencapai lima juta rupiah.
“Padahal kerjanya nggak susah-susah ‘kali. Cuma duduk di depan komputer t’rus nelpon sini, nelpon sana. Uang masuk lagi.” pamernya sumringah.
Sungguh untung dia. Apa ada pekerjaan semudah itu?
“Eh, Salman. Sayang lon kalön droeneuh. Apa mau gabung kerja di tempat aku?”
Tawaran yang sungguh-sungguh tak diduga.
“Droenuh keun kaleuh neutulong lon sewatèe kuliah jameun. Ini giliran aku yang nolong. Mau nggak kerja sama aku? Aku kasih kerjaan yang cocok untuk kamu. Gimana?”
Aku mulai berpikir serius. Jika kulihat Jafar sendiri, dia bukan tipe orang yang tidak bisa dipercaya. Dia pun cukup pemurah, apalagi pada orang yang dia anggap punya hutang budi. Lagipula janjinya untuk mencarikan kerjaan yang cocok denganku. Apakah aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepada bakso goreng dan ikan-ikan di pelabuhan?
“Memangnya kamu punya pekerjaan apa untuk aku?” tanyaku memastikan.
Jafar tersenyum. Mengajak berkonspirasi. Dengan isyarat tangannya, dia mengajak kepalaku mendekat.
“Kalo untuk kamu aku kasi pekerjaan cocok. Buat skripsi orang. Satu skripsi dapat lima juta. Gimana?”
Aku mengernyit, memandang Jafar tajam, “Itu pekerjaannya?”
“Iya. Hei, hei, jangan memandang aku seperti itu. Itu pekerjaan bagus. Bayangkan, kau akan menjadi semakin pintar seiring dengan banyaknya skripsi atau tesis yang kau selesaikan. Selain itu, coba pikirkan upahnya. Mengenai pelanggan, serahkan saja padaku. Aku pastikan setiap bulan kau dapat proyek. Ini menjanjikan, Salman.”
Aku lalu berpikir lagi. Pendapatan. Jangan ditanya berapa uang yang kudapat dari menjual bakso goreng. Sudah tiga hari saja, modal yang tidak seberapa itu tidak kudapatkan kembali. Lagi pula sudah tiga hari ini tidak ada perubahan yang signifikan dari pekerjaanku. Sementara anak-anakku terus menangis di tengah malam karena kelaparan. Istriku semakin kurus….
“Berapalah uang yang kamu dapat dari dagangan-dagangan ini? Lihat, sudah siang begini, pancinya masih penuh. Tidak begitu laris ya, Sal?” suara Jafar merecokiku.
Aku termenung sebentar. Hampir saja kujawab “Iya” ketika wajah Jafar menunjukkan raut ketakutan. Matanya memandang liar ke arah dua orang laki-laki muda yang baru saja memarkirkan motornya tak jauh dari tempat kami. Mereka sedang berbicara ringan. Kemudian salah satu laki-laki itu mengedarkan pandangannya sampai akhirnya memandang curiga laki-laki yang berusaha menutupi tubuhnya dengan tubuhku. Jafar.
“Woi, Jafar nyan!” panggil laki-laki yang menyadari keberadaan Jafar. Laki-laki satunya ikut menoleh dan meneriaki Jafar pula. Berbarengan mereka mengejar Jafar.
Jafar tak tinggal diam. Cepat-cepat dia mengambil motor yang sebelumnya diparkir di sebelah motorku lalu menjalankannya dengan kecepatan tinggi. Melihat itu, dua laki-laki tadi pun kembali menghampiri motor mereka dan segera mengejar Jafar.
“Hei, jangan lari! Peu balek peng kee!” serapah laki-laki yang mengejar Jafar.
Tinggal aku terbengong-bengong sendiri. Melihat jafar yang lari ketakutan dan dua orang itu mengejarnya, pasti ada yang tidak beres. Lagipula kalimat laki-laki yang mengejar Jafar itu, Apakah Jafar sudah membawa lari uang mereka? Apa karena pekerjaannya?
Aku melengos. Huh, mana mungkin aku menerima pekerjaan yang membuatku dikejar-kejar orang suatu hari nanti. Aku bersyukur karena aku tidak sempat mengiyakan bujukan Jafar. Lagipula, setelah kupikir-pikir, pekerjaan seperti itu bukan pekerjaan yang baik. Ya ampun, mengapa aku sampai begitu susah membedakan pekerjaan baik dan pekerjaan buruk. Dasar jaman sudah edan, baik dan buruk saja begitu sulit dibedakan.
“Bang, bakso gorengnya lima ribu ya.” panggil seorang mahasiswi. Aku lalu menggoreng enam tusuk bakso.

Penulis, Mahasiswa Gemasastrin Unsyiah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here