Beranda Artikel Stop Body Shaming!

Stop Body Shaming!

BERBAGI
(Ilustrasi: Shahibah Alyani/DETaK)

Artikel | DETaK

Sampai hari ini, kasus body shaming masih banyak terjadi di kalangan kita. Bahkan seiring berkembangnya zaman peristiwa body shaming kerap terjadi di media sosial. Pada dasarnya body shaming dapat memberikan dampak negatif terhadap korbannya, yaitu dapat menimbulkan tekanan psikologis, resiko gangguan mental, serta kualitas hidup yang buruk, dan bahkan sampai pada tahap depresi yang akhirnya menyebabkan korban bunuh diri.

Istilah body shaming memang sudah tak asing dan bahkan sangat sering kita dengar. Namun, apakah kita sudah memahami apa itu body shaming, bagaimana bentuknya dan apa saja dampaknya ? Bahkan tanpa disadari mungkin kita juga termasuk kedalam pelaku body shaming.

IKLAN
loading...


Body shaming adalah pengalaman yang dialami individu ketika ada sesuatu kekurangan pada bagian tubuh yang dipandang sebagai suatu yang negatif oleh orang lain. Body shaming merupakan suatu perilaku bullying verbal yang dilakukan oleh individu terhadap orang lain, tidak menutup kemungkinan bahwa pelaku body shaming  juga akan menjadi korban. Body shaming ialah tindakan mengomentari bentuk fisik individu dengan memperolok atau menjelek-jelekkan. Baik dengan cara disengaja atau tidak, namun hal ini dapat berpengaruh terhadap masalah mental orang yang dikomentari.

Beberapa  perkataan yang termasuk kategori body shaming.

  1. “Makin langsing aja ya say” (kenyataannya teman kita gemukan)

Metabolisme tubuh setiap orang itu berbeda ya sobat millennial. Ada yang mudah gemuk, ada juga yang memang bawaannya tetap langsing.

  • “Lho, kok kamu makin kurusan!”

Bisa jadi kamu bermaksud empati terhadap teman dengan mengomentari tubuhnya yang mengalami perubahan. Namun kita tidak tahu, mungkin saat ini dia lagi sakit atau banyak pikiran sehingga berat badannya turun.

  • “Bro, Itu perut apa karung goni?”

Terkadang hanya bermaksud untuk bercanda. Namun, bisa jadi temanmu merasa sakit hati.

  • “Aduh, jerawat kamu kok makin banyak ya?”

Setiap orang pastinya menginginkan wajah yang mulus, pertanyaan seperti ini bisa saja membekas di benak seseorang yang dapat membuatnya insecure.

  • “Kamu uda iteman ya sekarang…”

Basa-basi seperti ini sering terjadi, dan membuat orang yang ditujukan menjadi tidak nyaman.

Body shaming telah menjadi perbincangan banyak orang sehubungan dengan maraknya kasus penghinaan di media sosial. Namun sayangnya, perilaku body shaming masih dianggap biasa dan disepelekan, sehingga menimbulkan banyak korban. Pada kenyataannya body shaming dapat dikategorikan sebagai suatu bentuk kekerasan verbal atau bullying. Karena body shaming dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi korban. Adapun dampak buruk yang ditimbulkan ialah:

  1. Berkurangnya rasa percaya diri

Candaan yang mengarah ke fisik bisa dikategorikan sebagai body shaming, karena hal ini bisa menyebabkan individu menjadi insecure dan tidak percaya diri.

2. Menutup diri

Individu yang tidak percaya diri akan menarik diri dari lingkungan sekitarnya dan cenderung menjadi pendiam atau tidak banyak berinteraksi dengan dunia luar.

3. Memperbaiki kondisi fisik dengan melakukan hal ekstrem

Korban memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan hal-hal ekstrem demi memperbaiki fisiknya yang dirasa kurang, seperti melakukan diet ketat dan hal ekstrim lainnya.

4. Meningkatkan risiko eating disorder

Dampak body shaming terhadap kesehatan mental dapat menyebabkan individu mengalami gangguan makan. Selain itu, anoreksia yang termasuk hal ekstrem untuk menurunkan berat badan karena perlakukan buruk terhadap tubuhnya.

5. Depresi

Korban dapat mudah mengalami masalah psikologis seperti depresi. Meski tidak ada hubungan langsung body shaming dengan bunuh diri, namun depresi yang ditimbulkan korban akan berkaitan, karena depresi merupakan salah satu penyebab utama individu bunuh diri.

 Jadi, berpikirlah sebelum berkata, karena bisa jadi candaanmu membekas dalam benak dan perasaan orang lain! Lebih baik diam daripada banyak berkata namun menyakitkan.[]

Penulis bernama Lizatul Amna, Mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Syiah Kuala (USK) angkatan 2018.

Editor: Cut Siti Raihan