Beranda Artikel Cara Mengelola Emosi untuk Hidup yang Lebih Damai

Cara Mengelola Emosi untuk Hidup yang Lebih Damai

BERBAGI
Ilustrasi. (Shahibah Alyani/DETaK)

Artikel | DETaK

Siapa di sini yang masih mengartikan emosi sebagai amarah? Ngga seperti itu ya guys! Emosi itu diartikan sebagai perasaan-perasaan yang dirasakan oleh manusia yang muncul karena suatu sebab, emosi ngga hanya terdiri dari marah tetapi juga emosi bahagia, sedih, jijik, takut dan terkejut yang biasanya diekspresikan ke dalam bentuk perasaaan. Misalnya ketika sedang sedih, kamu mengekspresikannya dengan menangis atau ketika kamu memenangkan sebuah give away yang sudah lama kamu nanti-nantikan, emosi yang kamu rasakan adalah bahagia yang diekspresikan dengan rasa senang dan gembira. Gimana? Sudah mulai paham belum?

Kalau secara teori, emosi diartikan sebagai reaksi akan stimulus atau rangsangan dari luar dan dalam diri yang gunanya untuk bertindak. Dalam beberapa penelitian menyebutkan bahwa emosi juga dapat memengaruhi kamu dalam berperilaku.

IKLAN
loading...


Tetapi pernah ngga sih kamu ngga paham dengan apa yang kamu rasakan? tiba-tiba sedih atau bahkan marah tanpa sebab atau justru kamu seringkali bias terhadap emosi yang sedang kamu rasakan misalnya ketika kamu baru putus dengan pacarmu, kamu cenderung menolak merasakan sedih. Kamu menekan emosi sedihmu supaya ngga muncul sehingga kenangan putus dengan pacarmu menjadi kenangan buruk yang pernah kamu rasakan. Tapi kamu tau ngga kalau hal itu berbahaya loh bagi kesehatan mental, apalagi jika dilakukannya dalam jangka panjang (sering).

Lalu gimana sih cara kita mengenali serta mengelola emosi? Kali ini kita bahas satu-satu, yuk! simak caranya di bawah ini ya.

1. Menyadari Emosi yang Sedang Dirasakan

Terkadang, kita tuh ya sulit menyadari emosi yang kita rasakan dan ngga jarang kita jadi kebingungan sehingga muncul konflik di dalam diri sendiri. Tenang, Hal itu bisa diatasi kok guys! Untuk menyadari atau mengenali emosi apa yang dirasakan, kamu hanya perlu memberi tanda untuk emosi itu, kamu bisa kok menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Misalnya ketika kamu merusak jam atau barang kesayanganmu tanpa sengaja, kamu perlu tau dan sadar apa yang kamu rasakan saat itu merasa sedih atau marah kalau sulit, kamu bisa saja menuangkan perasaanmu dalam tulisan seperti, “Aku merasa sedih dan menyalahkan diri sendiri karena ceroboh”. Dengan melakukan ini, kamu jadi tau emosi apa yang kamu rasakan serta penyebabnya.

2. Menerima Segala Emosi

Kita kaitkan dengan contoh yang di atas ya, kalau barang kesayangan kamu rusak tapi kamu menolak merasakan sedih dan ngga terima kalau yang sedang kamu rasakan adalah emosi sedih. Hal itu justru jadi boomerang buat kamu Seharusnya, yang kamu lakukan adalah menerima emosi apa yang muncul. Karena semua emosi berperan penting loh bagi kehidupan kita termasuk emosi sedih. Emosi ada dan diciptakan untuk dirasakan dan justru dengan adanya emosi membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya dan harus kamu ketahui juga, emosi itu bersifat netral. Untuk itu, kamu harus menerima segala emosi yang ada baik itu positif atau negatif.

3. Merefleksi Diri

Setelah kamu kenal dan terima emosi itu, yang harus kamu lakukan adalah merefleksikannya ke diri sendiri dengan bertanya kenapa kamu merasakan emosi itu serta alasan-alasan lainnya. Dengan berefleksi maka kamu akan menemukan perspektif atau sudut pandang lain yang bisa menenangkan diri kamu. Hal tersebut dilakukan bertujuan agar kamu mampu mengambil tindakan yang ngga ngerugiin diri kamu sendiri serta orang lain. Karena yang bisa kamu kontrol adalah tindakan bukan emosi.

Nah tiga hal di atas bisa banget kamu praktekkan secara langsung di kehidupan sehari-hari ya. Tapi jika kamu masih kesusahan dan merasa sulit jangan ragu untuk mengikuti pelatihan-pelatihan tentang regulasi emosi atau jika kamu rasa hal ini sudah mengganggu aktivitas kamu sehari-hari jangan sungkan untuk mencari bantuan professional ya! Kamu ngga sendiri, kamu layak merasakan segala jenis emosi karena kamu manusia. []

Penulis bernama Laura Agitya Almira, Mahasiswi Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Syiah Kuala (USK) angkatan 2018.

Editor: Della Novia Sandra