Friday June 25th 2010

Telah Terbit

Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

Unsyiah dan Mahasiswa Internasional

“Untuk dapat belajar ke luar negeri melalui program beasiswa, tentunya dambaan seluruh mahasiswa. Apalagi bagi mereka yang mempunyai keinginan serius untuk melanjutkan pendidikan. Namun, ada terobosan lain bagi mahasiswa yang masih berstatus sebagai mahasiswa untuk dapat pergi ke luar negeri melalui program international exchange student.

Berbicara tentang beasiswa pertukaran mahasiswa antar universitas di dunia, tentunya kemudian yang menjadi pusat perhatian adalah Biro Rektor, wajar saja karena informasi tentang pertukaran mahasiswa ada di Biro Rektor.

International student exchange adalah pertukaran mahasiswa antar universitas yang ada di dunia, dimana satu universitas dengan universitas yang lain saling mengirimkan mahasiswa. “Boleh berbentuk penelitian, boleh mengambil mata kuliah satu semester dan ini sangat fleksibel,” kata Pembantu Rektor IV. Prof. Dr.Darusman.

Kendati pun demikian, tidak mudah untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Beberapa universitas meminta nilai TOEFL (Test of English as a Foreign Language) mahasiswa baik. Seperti Taiwan, nilai TOEFL minimum yang harus dimiliki untuk dapat pergi ke Taiwan sebesar 500, belum lagi negara-negera Eropa yang tentunya meminta nilai TOEFL melebihi angka tersebut.

Beberapa tahun terakhir Unsyiah memang sering menerima mahasiswa luar untuk masuk ke Unsyiah, namun jumlahnya sangat minim. “Kira-kira sekitar lima belas orang mahasiswa asing yang ada di Unsyiah ditambah yang dari Turki,” kata Humas International Program Office Biro Rektor Unsyiah, Monalisa, Sp, M.Si.

Selain itu belum ada timbal balik yang diberikan Unsyiah kepada universitas yang mengirimkan. “Kita bahkan sudah kewalahan menerima mahasiswa luar yang ingin masuk ke Unsyiah sedangkan kita jarang yang keluar,” tambah Darusman.

Namun, di sisi lain, ada beberapa fakultas yang telah membuka international class masih diisi oleh mahasiswa-mahasiswa pribumi. Fakultas Hukum salah satunya, fakultas yang baru membuka kelas internasional ini belum mempunyai seorang pun mahasiswa asing. “Di Fakultas Hukum sendiri belum ada mahasiswa dari luar negeri yang kuliah di kelas kami,” kata Husna, mahasiswi kelas internasional di Fakultas Hukum saat dihunggi via SMS.

Mengutip tulisan Otto Syamsuddin Ishak. “Unsyiah hendak dijadikan badan usaha dan Universitas Internasional, untuk tingkat akreditasi nasional saja Unsyiah mendapat nilai C.” Keberadaan mahasiswa asing merupakan salah satu kategori penilaian dalam menetapkan akreditasi.

Menurut Monalisa, Sp, M.Si ada beberapa sebab yang mempengaruhi rendahnya tingkat ketertarikan mahasiswa luar negeri untuk kuliah di Universitas syiah Kuala.

Pertama, Rendahnya tingkat kehadiran dosen di ruang kelas juga menjadi indikator lemahnya ketertarikan mahasiswa luar untuk belajar di unsyiah. Selain itu, hal lain yang menjadi fakor penentu masuknya mahasiswa asing ke Unsyiah, yakni masih lemahnya kemampuan dosen dalam mengajarkan materi kulaih dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Kedua, belum adanya nilai jual yang kita tawarkan kepada mahasiswa asing. Sejauh ini kita masih melihat program apa yang menjadi daya tarik mahasiswa asing untuk masuk ke Unsyiah.

Rendahnya tingkat mahasiswa asing belajar di Unsyiah juga ‘diimbangi’ oleh rendahnya tingkat mahaiswa Unsyiah yang pergi ke luar negeri. Rendahnya keterlibatan mahasiswa dalam program international student exchange tentunya bukan hanya sekedar isu yang segaja disebar-sebarkan di kalangan mahasiswa. Ada beberapa penjelasan yang menarik tentang rendahnya keterlibatan langsung mahasiswa mengikuti program pertukaran mahasiswa antar universitas di dunia.

Lemahnya sistem informasi di Unsyiah menjadi hambatan penyampaian informasi kepada mahasiswa, ada beberapa mahasiswa yang mengaku belum pernah melihat pengumuman secara tertulis tentang program pertukaran mahasiswa antar universitas di dunia. Rahmadianto misalnya, mahasiswa Fakultas Pertanian ini mengaku belum pernah mendengar informasi tentang beasiswa pertukaran mahasiswa antar universitas di fakultasnya.

Peryataan ini ditepis oleh Biro rektorat. “ Sekarangkan era reformasi, tidak ada yang kita tutup-tutupi dalam informasi beasiswa,”ungkap Monalisa.

Menilik penyebab lain, tingkat kemampuan Bahasa Inggris yang masih lemah di kalangan mahasiswa merupakan salah satu penyebabanya,”Motivasi mahasiswa sekarang untuk berjuang lebih keras masih kurang, ketika kita melihat banyak orang asing masuk ke Aceh, kita seharusnya dapat menggunakan Bahasa Inggris,” tambah Monalisa.

Masih rendahnya animo mahasiswa Usnyiah untuk belajar bahasa menjadi salah satu sebab mengapa Universitas Syiah Kuala yang disebut-sebut sebagai unversitas tersbesar di Aceh masih jauh tertinggal dengan universitas lain di Indonesia. Dari situs www.acehforum.or.id, Unsyiah tidak termasuk ke dalam 10 universitas terbaik di Indonesia.

Oleh Iwan Aramiko

Leave a Reply



UA-15933840-2