Friday June 25th 2010

Telah Terbit

Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

Yosakoi Sohran ala Putroe Phang

Peluh membasahi tubuh Ikue Kurotaki. Kulit putihnya berubah merah karena panasnya udara. Namun, kondisi itu tidak mengendurkan niatnya untuk terus bergerak. Ayunan langkah kaki sinergis bersama alunan musik. Mereka membentuk barisan segitiga seperti mata panah yang siap dilepaskan.

Dokkoiso…… Dokkoiso….
Sooran…… Sooran……

Gerakan sinergis itu terlihat indah dari tubuh Ikue. Suara nyaringnya seolah menyemangati 18 anggota yang ada di belakangnya. Ikut bergerak bersama Ikue. Mengenakan kaus berwarna hitam dan ikat kepala berwarna putih, mereka bergerak indah memainkan tarian khas Jepang.

Itulah puncak kegiatan Ikue Kurotaki di Unsyiah, memainkan tarian khas Jepang asal negaranya. Bersama belasan siswa dan mahasiswa di Banda Aceh plus tiga rekannya dari Jepang, tarian itu menarik perhatian mahasiswa yang hadir di Gelanggang Mahasiswa untuk menyaksikan tarian tersebut, Sabtu 30 Januari 2010.

Yosakoi Sohran, begitu nama tarian yang mereka mainkan. Sebuah tarian yang menceritakan tentang semangat nelayan di Hokaido yang sedang menangkap ikan, seperti cumi-cumi dan tuna. Selain itu, tarian ini juga menggambarkan keperkasaan seorang nelayan Jepang dalam menangkap ikan.

Bukan hanya itu, tarian ini juga mengajarkan bagaimana pentingnya kekompakkan dan kerjasama dalam melakukan hal apapun, sebagaimana gerakan yang dilakukan Kuma bersama 18 penari lainnya tadi..
Ikue Kurotaki atau Kuma, begitu ia disapa, mengatakan. Tarian ini tidak hanya dimainkan oleh delapan belas orang saja. Semakin banyak pemainnya, maka semakin menarik untuk dilihat.

Kuma (20) adalah warga Negara Jepang. Bersama kedua rekannya, Takayuki Sakata dan Atsuko Iwasaki, mereka datang ke Aceh untuk memperkenalkan budaya dan bahasa Jepang. “Kami hampir setahun disini,” kata Kuma sambil menghapus keringat yang membasahi wajahnya.

Keberadaan mereka di Aceh ternyata tidak disia-siakan. Kini, bersama kedua rekannya tadi, Kuma sudah bisa berbahasa Indonesia. “Kami belajar bahasa Indonesia tiga bulan disini,” sambung rekan Kuma, Takayuki Sakata atau Taka.

Belajar bahasa Indonesia memang dianggap penting bagi ketiga mahasiswa Jepang ini. Maklum, saat pertama menginjakkan kaki ke Aceh, mereka sempat grogi karena tidak bisa berbahasa Indonesia. Dan untuk mengerti bahasa Indonesia, mereka membutuhkan waktu waktu tiga bulan.

Mereka datang atas nama Ashinaga Youth Foundation, yaitu sebuah lembaga di Jepang yang memfokuskan perhatian untuk membantu anak-anak yang telah kehilangan orang tuanya. Sejak duduk di SMA hingga perguruan tinggi, Kuma dan kedua temannya telah mendapatkan beasiswa dari Ashinaga ini.

“Sampai saat ini ada sekitar delapan puluh ribu anak yatim piatu yang telah mendapatkan beasiswa Ashinaga,” ungkap Taka.
Selain itu, tambah Taka, anak-anak korban gempa bumi, tsunami, kecelakaan, perang, bunuh diri dan bahkan anak yang memiliki orang tua tetapi tidak dapat bekerja karena sakit juga dapat memperoleh beasiswa.

Selain memberikan beasiswa kepada anak yatim piatu, lembaga ini juga mengirimkan volunteer-volunteer ke berbagai negara di dunia, sebagaimana yang dilakukan Kuma dan Taka. Mereka berhasil mendapatkan kesempatan untuk datang ke Aceh sebagai bagian dari volunteer dari lembaga Ashinaga.

Sebelumnya mereka akan diberangkatkan ke Uganda, akan tetapi, karena keterikatannya dengan anak Aceh korban Tsunami yang pernah datang ke Jepang beberapa tahun lalu, akhinya mereka memutuskan untuk memilih Aceh sebagai tujuan.

Namun begitu, tidak mudah bagi Kuma dan Taka untuk datang ke Aceh. Karena, mereka harus benar-benar siap dengan lingkungan yang jauh berbeda dengan tempat asalnya, tentu bukan perkara yang mudah bagi Kuma dan Taka. Selain bahasa dan budaya, makanan juga akan menjadi tantangan. Menariknya, sebagaimana pengakuan Kuma kepada DETaK, untuk bisa ke Aceh, ketiga mahasiswa ini diharuskan berjalan sejauh 100 km di seputaran kota Tokyo sebagai tes kelayakan fisik.

Setelah semua persyaratan dipenuhi, akhirnya, pada tanggal 20 April 2009, Kuma dan kedua rekannya itu menginjakkan kakinya di Aceh. Sesaat tiba di Aceh, kesan pertama yang Kuma lihat tentang Aceh adalah lingkungan yang kurang bersih. “Disini masih banyak yang kurang bersih,” kata Kuma berterus terang sambil tersenyum.

Mahasiswa yang suka mengenakan kaos bola ini juga menyukai berbagai kebudayaan yang ada di Aceh. Hampir semua tarian khas Aceh disukainya. Apalagi saat Kuma melihat acara perkawinanan adat Aceh yang menurutnya sangat menarik dan unik, karena masih memakai pakaian adat.

“Dulu setiap tahunnya dari tahun 2005 sampai tahun 2007 Ashinaga youth Foundatian menggadakan Summer Camps yang diikuti oleh anak-anak dari berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia. Saat itu kami bertemu dengan anak Aceh korban tsunami, karena itulah kami ingin bertemu mereka kembali di Aceh,” ungkap Kuma.

“Ada seribu seratus anak yang telah kehilanggan orang tuanya menggikuti Summer Camps, dari Jepang ada seribu orang dan dari luar ada seratus orang, kalau dari Aceh saat itu ada tiga puluh orang,” tambah Taka.

Summer camps sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk pemulihan mental anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana. Agar tidak terjadi dampak berkelanjutan bagi sang anak di masa yang akan datang, perlu suatu penyuluhan yang dapat membuat mereka lebih berpikir positif.

“Kami memberikan penyuluhan kepada anak-anak yatim piatu supaya nanti tidak ada dampak yang ditimbulkan. Ada sebahagian dari mereka ketika mati lampu, mereka masih ada yang ketakutan. jadi kita harus bisa memahami anak,” kenang Kuma.

Selain memberikan pengobatan mental, Ashinaga Youth Foundation juga membantu anak-anak dari berbagai Negara yang telah kehilanggan orang tua untuk dapat melanjutkan pendididkan di Jepang.

Saat DETaK menanyakan kondisi Unsyiah, dalam pandangan mereka masih banyak yang harus ditingkatkan dalam hal fasilitas. Menurutnya, di Unsyiah harus memiliki communication centre yang dapat menjebatani mahasiswa-mahasiswa menguasai bahasa asing dan terbuka bagi seluruh lapisan mahasiswa, tidak hanya terpaku kepada satu bahasa saja, namun berbagai bahasa yang ada di dunia.

Selain itu, bagunan-bagunan di Unsyiah seperti gelanggang mahasiswa, atapnya ada yang bocor. Hal ini bisa mengganggu aktivitas mahasiswa yang berlatih disana. Untuk itu perlu diperbaiki, ujar Taka.

Sayangnya, Kuma dan teman-temannya tidak bisa tinggal lama di Aceh. Mereka harus kembali ke Jepang awal bulan maret ini.
Biasanya, setiap tahun ada yang mengantikan. Akan tetapi untuk tahun ini ke Aceh tidak ada yang datang. Belum adanya kerja sama antara pihak Ashinaga dengan beberapa perguruan tinggi di Aceh menjadi hambatan bagi mereka untuk dapat datang kembali ke Aceh.

“Kita belum ada hubungan dengan IAIN dan Unsyiah sehingga tidak bisa mendapatkan visa KITAS. Kalau pun ada untuk mendapatkan visa KITAS sangat mahal, mungkin sekitar enam sampai sepuluh juta,” keluh Taka.

Untuk itu, harap Kuma dan kedua temannya, Unsyiah perlu melakukan hubungan kerjasama, sehingga pertukaran mahasiswa ini akan bisa berlanjut pada tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana Unsyiah??

DETaK | Iwan Aramiko

Leave a Reply



UA-15933840-2