Beranda Terkini Memulai Merintis Usaha melalui Seminar Technopreneur

Memulai Merintis Usaha melalui Seminar Technopreneur

BERBAGI
Seminar Technopreneur oleh BPMTEKKOM: 14/04/2018 (Dhea [AM]/DETaK)

Dhea Ameliana [AM] | DETaK

Darussalam – Badan Pelaksana Mahasiswa Teknik Komputer (BPMTEKKOM) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengadakan seminar Technopreneur Berbasis ICT 2018 di Balee Keurukon, Fakultas Teknik, Unsyiah pada Sabtu, 14 April 2018.

Muhammad Kurnia Fandi selaku ketua panitia menyatakan bahwa kegiatan seminar dengan tema “How to Create and Build Startup from Zero to Hero with DILo Banda Aceh” ini bertujuan agar mahasiswa mampu membangun sebuah usaha rintisan (startup) dan tidak bergantung pada jenis pekerjaan seperti pegawai.

“Kalau bisa, kita jangan bergantung pada pekerjaan kayak pegawai. Kita bisa buka usaha sendiri melalui usaha rintisan, terus kita pekerjakan orang,” ungkapnya.

Melalui kegiatan seminar ini, Kurnia mengaku ingin membagi ilmu tentang usaha rintisan sekaligus meningkatkan akreditasi prodi Teknik Komputer yang berdiri pada tahun 2016.

“Kami ini prodi baru, jadi kami ingin membuat kegiatan-kegiatan bermanfaat supaya bisa meningkatkan akreditasi prodi ini,” ungkap Kurnia.

Seminar Technopreneur ini menghadirkan Putra Nasri Syawaldi, salah seorang pendiri Cetakin Aja. Dalam seminar ini, Putra membagi kisah dan tipsnya dalam membangun sebuah usaha rintisan miliknya. Menurut Putra, yang terpenting dalam membangun usaha rintisan adalah cara menjual nilai dari usaha itu sendiri.

“Kita udah buat usaha rintisan yang bagus, tapi kenapa nggak tepat sasaran? Nah itu kembali ke kita juga. Karena yang penting itu cara menjual usaha rintisan kita, bukan cara buatnya. Kalau teman-teman udah buat produknya tapi nggak tau cara menjualnya, sama aja,” ungkap Putra saat sesi tanya jawab.

Kegiatan seminar ini dibuka untuk umum. Peserta acara ini mulai dari mahasiswa Teknik Unsyiah, Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unsyiah, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, hingga mahasiswa Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI).[]

Editor: Herry Anugerah

Comments

comments