Beranda Terkini Mahasiswa Ikuti Upacara Hari Sumpah Pemuda, Nasionalisme atau Alasan Lain?

Mahasiswa Ikuti Upacara Hari Sumpah Pemuda, Nasionalisme atau Alasan Lain?

BERBAGI
Suasana upacara hari Sumpah Pemuda di barisan belakang. 28/10/17 (Rizky Filiyanda [AM] | DETaK)
loading...

Rizky Filiyanda Lhokitasari [AM] | DETaK

Darussalam – Ribuan mahasiswa mengikuti Upacara Sumpah Pemuda di Lapangan Tugu Darussalam pada Sabtu, 28 Oktober 2017 dalam rangka memperingati 89 tahun sejak Sumpah Pemuda diikrarkan. Upacara ini kemudian dilanjutkan dengan Kuliah Akbar Kebangsaan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Rizal.

Sayangnya, tekad suci nasionalisme dinodai dengan bumbu-bumbu Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Mahasiswa diiming-imingi dengan sertifikat bernilai 10 poin tersebut. Beberapa mahasiswa yang hadir mengaku bahwa alasannya hadir dalam upacara ini karena ingin mendapatkan sertifikat SKPI. Fenomena tersebut dapat dilihat dari ketidakseriusan mahasiwa dalam mengikuti upacara.

loading...

Salah satunya Ulfa Mahera, mahasiswa Fakultas Pertanian ini mengaku bahwa alasannya hadir dalam upacara bukan seutuhnya murni bentuk pengabdiannya sebagai pemuda Indonesia, namun juga karena adanya sertifikat SKPI.

“Jadi sebagai seorang pemuda saya ingin hadir dalam upacara, ya meskipun panas dan saya tidak mengikutinya dengan benar, alasan lain ya karna SKPI,” ungkapnya.

Namun, mahasiswa lain yang hadir juga tidak hanya semata-mata untuk mendapatkan setifikat SKPI, ada pula yang hadir karena tugas pengganti mata kuliah sehingga mereka diwajibkan untuk hadir mengikuti upacara hingga kuliah akbar yang diselenggarakan.

Redha Apriliya Rusli, mahasiswi Fakultas Keperawatan (FKEP) mengaku bahwa ia hadir dengan inisiatif sebagai pemuda yang berbakti kepada bangsa, meski di sisi lain mengaku partisipasinya juga sebagai pengganti nilai Ujian Tengah Semester (UTS).

“Saya memiliki tekad untuk menjadi pemuda yang memiliki inisiatif yang berbakti kepada bangsa, setidaknya bisa hadir dalam upacara walaupun tidak bisa berbuat banyak. Tapi sejujurnya selain karena sikap nasionalisme yang sangat tinggi, saya diwajibkan dalam MKU (Mata Kuliah Umum) PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), ini sebagai pengganti nilai UTS saya,” ujarnya.

Editor: Fazrina Nabillah