Beranda Buku Malam-Malam Terang, Bukan Malam Tanpa Bintang

Malam-Malam Terang, Bukan Malam Tanpa Bintang

BERBAGI

cover_mmtJudul : Malam-Malam Terang

Penulis : Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-032-454-8

Tebal : 245 Halaman

Cetakan : I, Desember 2015

Sebuah kegagalan dalam hidup sering kali membuat seseorang merasa lemah dan tidak berdaya. Seolah langit runtuh, dan bumi tempat ia berpijak menjadi rapuh, bahkan tak sanggup menahan bebannya seorang diri. Namun tanpa disadari, kejadian pahit itu merupakan sebuah awal baru, masa depan luar biasa, dan menjadi galah untuk menggapai impian yang bahkan belum terbayangkan sebelumnya.

Dalam kisah yang diceritakannya, Tasniem Fauzia, gadis yang akrab disapa Ninim ini, menemukan momok terburuk dalam hidupnya. Ketika ia harus gagal mencapai standar nilai untuk melanjutkan pendidikan ke SMA ungggulan di daerahnya. Gadis kelahiran Yogya ini mengutuk kegagalannya saat itu, betapa tidak adilnya dunia, bagaimana mungkin perjuangan tiga tahunnya berakhir dengan angka-angka yang tercetak pada lembar hasil ujian dalam beberapa hari tersebut?!.

Namun, berkat do’a dan keteguhan hati yang ia miliki, Ninim berusaha menjadi kuat. Ia berangkat mencari jalan keluar dari masalah yang ia hadapi. Akhirnya do’a gadis muda ini terdengar, melalui serentetan kejadian dan nasehat mbahnya, Tuhan memberikan petunjuk apa yang harus ia lakukan setelahnya. Berbekal tekad yang kuat, Ninim berkeinginan melanjutkan pendisikannya ke Singapura, United World College of Shouth East Asia tepatnya. Sebuah lembaga pendidikan yang bercampur baur di dalamnya seluruh kebudayaan dunia.

Tak lantas semua berjalan mudah, dalam usia yang masih cukup muda, Ninim yang jauh dari keluarganya jelas saja merasakan rindu bukan kepalang. Beberapa kejadian pahit membuatnya hilang arah dan menjadi goyah, namun sekali lagi keinginanya untuk pulang berhasil ia tangguhkan atas dorongan yang diberikan keluarga, rasa percaya dan kasih sayang ibu dan bapak tanpa henti mengalir dalam dirinya.

Perlahan ia lalui dengan sabar dan semangat yang kuat perjalanan yang akan di tempuhnya selama tiga tahun itu. Berkaca dari masa lalu, ia yakinkan dirinya untuk tidak mengulang kejadian sebelumnya.

Kisah menarik Ninim dimulai dalam masa-masa perjuangannya, saat ia dipertemukan oleh tiga orang teman yang kemudian menjadi sahabatnya, Cecilia, Aarin, dan Angelina yang ketiganya berasal dari tempat berbeda, dengan budaya, bahasa, juga agama yang tentunya tidak serupa. Persahabatan mereka seperti gambaran kecil dunia dalam kedamaian.

Pembaca disuguhkan dengan kisah muda yang bergelora, membakar semangat dan pantang menyerah!. Pecahan mozaik-mozaik peristiwa dalam kehidupan Ninim di Singapura menumbuhkannya menjadi pribadi luar biasa, seperti kisahnya yang rela berkorban demi sahabatnya, untuk membantu Aarin bertemu dengan ayahnya yang telah lama berpisah. Ninim rela menahan kemauannya untuk pulang ke kampung halaman setelah bekerja keras dengan mencari uang di liburan musim panasnya yang berharga. Tidak lepas dari kejadian penuh tantangan yang memaksanya membuat keputusan singkat kala itu.

Tiga tahun bekerja keras, bukanlah sesuatu yang mudah, namun jelas saja itu bukan sesuatu yang sia-sia baginya.‘Big Ten’, sebuah prestasi luar biasa yang menempatkannya menjadi siswa terbaik di sekolah. Ninim berhasil bangkit dari keterpurukan bahkan menjadi lebih dari yang ia mampu harapkan, menggapai sukses yang tidak biasa.

Kisah Tasniem yang ia tulis bersama suaminya ini mampu membuat pembaca tersedu bahkan haru akan perjuangan Ninim membahagiakan orangtuanya. Sebagai contoh kerja keras nyata yang tidak akan pernah sia-sia. Meski buku ini bercerita tentang perjuangan gadis remaja menuju kedewasaanya, kisah ini tidak hanya cocok bagi kalangan gadis remaja saja, karena penulis mampu membawa pembaca seolah menjadi seorang teman yang menyaksikan kisahnya kala itu, tuturnya yang lembut dan ringan mengusik ingatan para pembaca tentang kisah mereka masing-masing, tentang masa-masa yang pernah atau akan mereka lalui nantinya.

Tak lengkap tanpa rasa, kepiawaiannya Tasniem dalam memberikan bumbu-bumbu penyegar seperti selingan bibit kisah cinta antara ia dan Ridho, menyegarkan mata pembaca dari rasa bosan akan kisah perjuangan yang monoton. Dengan penutup kisah akhir sederhana namun menyayat hati, penulis seolah ingin pembaca mengimajinasikan sendiri akan kisah Ninim dan Ridho yang indah di jalurnya hingga akhir.

Namun sangat disayangkan kisah akhir yang dapat diimajinasikan oleh pembaca tersebut tidak seluruhnya ditafsirkan demikian, bisa jadi pembaca menilai bagian menarik ini sebagai kekuragan penulis dalam menyelesaikan kisah akhir mereka. Sebab cara melihat dan menilai baik buruk karya bergantung pada pembaca dan penulis yang saling memahami kisah mereka.[]

Peresensi adalah Dinda Triani, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Syiah Kuala. Tercatat aktif di UKM Pers DETaK sejak tahun 2014.

Editor: Riska Iwantoni

Comments

comments