Beranda Opini Pendidikan Aceh Saat Ini

Pendidikan Aceh Saat Ini

BERBAGI
Ilustrasi (Sumber: Google)

Opini | DETaK

Oleh Munawwar

Penulis begitu sedih melihat keadaan yang melanda pendidikan kita sekarang ini, penulis mengawali penulisan ini dengan suatu kisah yaitu kisah yang melanda Negara jepang beberapa saat setelah dijatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, yang mana pemimpin Jepang pada saat itu menanyakan berapa orang ilmuan yang masih tersisa tentunya ini bukanlah sebuah pertanyaan yang tanpa maknanya sama sekali melainkan memiliki makna yang besar, yang mana pemimpin tersebut sadar bahwa pentingnya suatu pendidikan untuk dapat membangun Negara yang sudah hancur seperti saat itu.

Berbicara suatu perubahan bangsa maka sudah barang tentu kita berbicara akan pendidikan yang ada pada suatu bangsa tersebut, sangat sulit bagi kita untuk mengatakan bahwa pendidikan ini tidak penting di dalam melakukan perubahan kepada suatu bangsa , bangsa yang sudah baik di dalam mengelola pendidikan maka bangsa tersebut baik secara cepat maupun lambat akan memperoleh perubahannya.

Bila kita mengacu kepada sejarah beberapa abad silam maka itu memang benar apa adanya, kita mulai pada masa keemasan Islam di Andalusia seperti yang telah kita ketahui bahwa Islam di Andalusia begitu gemerlang dalam hal ini berkaitan dengan pendidikan. Pada masa itu telah melahirkan seorang tokoh yang cukup terkenal yaitu Ibn Bajjah yang merupakan tokoh filsafat. Tidak hanya sampai disitu saja di Andalusia juga memiliki Universitas yang bernama Cordova. Ini artinya bahwa kemajuan yang digapai di Andalusia tidak lepas atas kemajuan di bidang pendidikannya.

Renaisans atau zaman pencerahan yang terjadi di Eropa ini tidak lepas daripada keinginan yang dimiliki oleh Negara Eropa pada saat itu yang menganggap diri tertinggal dari pada Negara yang lain (dalam hal ini Negara Islam) sehingga membuat mereka mengutus generasi mudanya untuk belajar kepada Negara maju (dalam hal adalusia) yang selanjutnya menjadikan Negara Eropa seperti sekarang ini yaitu hampir seluruh Negara Eropa tergolong kepada Negara yang maju.oleh kerenanya kemajuan yang dialami oleh Negara Eropa ini tidak terlepas atas dorongan untuk memperbaiki disektor pendidikannya.

Bila kita cermati secara seksama maka hal ini tidak hanya terjadi di Jepang dan Andalusia saja melainkan hampir semua Negara yang kita lihat sekarang ini menjadi Negara maju maka hal itu tidak terlepas daripada kemampanan di dalam mengelola disektor pendidikannya secara baik dan konsisten. Potret pendidikan Aceh sekarang ini, bila kita lihat sekarang ini maka pendidikan Aceh sangat terlihat ambruradul, makna ambruradul disini ialah ketidakjelasan didalam perbaikan, hal ini dapat kita lihat, dimana Aceh menduduki peringkat pertama sebagai provinsi dengan tingkat ketidaklulusan peserta Ujian Nasional (UN) tertinggi di Indonesia. tercatat 785 siswa SMA/sederajatnya di sana gagal UN tahun 2013/2014 atau terbanyak bila
dibandingkan 34 provinsi yang ada. (oke zone 2015/05/20) padahal sudah seyogianya pendidikan Aceh mengalami taraf peningkatan akan tetapi bila kita lihat bukti dilapangan maka yang terlihat malah sebaliknya.

Seharusnya Aceh sekarang bisa berbenah dengan gelotoran dana otsus yang melimpah dimana untuk dunia pendidikan memiliki plot sekitar 20% dari dana yang distribuskan oleh pusat. Apalagi sekarang ini jumlah dana Otsus untuk Aceh itu berkisar 2,4 Triliyun. Wah tentunya ini bukan jumlah yang sedikit. Dan bahkan setiap tahunnya otsus akan mengalami peningkatan secara berskala.

Di tambah lagi Aceh sekarang ini tidak dilanda konflik berkepanjangan seperti yang terjadi seperti dahulu, dimana bila kita mengacu kepada buku sejarah maka Aceh ini tidak pernah vakum dari konflik baik itu konflik dengan Belanda, Jepang maupun dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, apabila dunia pendidikan itu mengalami kemerosotan maka itu dapat dimaklumi karena hampir semua Negara yang dilanda konflik berkepanjangan maka pendidikannya mengalami kemerosotan hal ini dapat kita lihat, seperti yang melanda Negara Afgansitan yang mana Negara ini sejak rezim Taliban digulingkan maka tidak pernah berhenti dengan konflik atau dengan kata lain tidak pernah asing dengan perperangan yang terjadi.

Namun Aceh sekarang sangat berbeda sejak ditandatangani perjanjian Damai antara GAM dengan RI pada tahun 2005 maka sejak itulah konflik di Aceh sudah berakhir, bila kita hitung dengan jari-jari maka perjanjian damai itu sudah berjalan selama 11 tahun ,dimana angka tersebut tidaklah mengisyaratkan sedikit melainkan  begitu banyak dan apabila kita anologi dengan usia seorang manusia maka angka atau umur tersebut melambangkan usia berajak remaja maka artinya disini anak ini sudah mengerti yang baik dan buruk dan perubahan sikapnya sangat terasa begitupun dengan pendidikan usia damai sudah memasuki usia yang remaja maka sudah sepatutnya untuk pendidikan di Aceh menunju arah kemajuan atau perubahan bahkan apabila kita lihat lulusan SMA di Aceh ini sangat sendikit yang bisa tembus diperguruan yang ada di luar Aceh hal ini tentunya memperlihatkan penilaian  kita terhadap pendidikan yang ada di Aceh sadar ataupun tidak sadar bahwa memang seperti itu adanya.

Lantas Apa yang harus dilakukan agar pendidikan kita dapat berubah. Tentunya merubah sesuatu yang sudah mengakar bukalah perkara yang mudah akan tetapi percayalah apabila kita semua memiliki komitmen untuk merubah maka sudah barang tentu hal ini dapat terlaksana dengan baik, ada beberapa hal yang harus kita lakukan bersama untuk merubah pendidikan ini menjadi lebih baik, Yang pertama, pengajar memiliki kualitas yang baik, untuk yang pertama ini sangat berpengaruh di dalam menghasilkan kualitas siswa atau peserta didik yang baik, apabila yang pertama ada di seluruh sekolah di Aceh maka perubahan di sektor pendidikan hanya tinggal menunggu waktu saja, kita akan menyaksikan kelahiran seluruh Ilmuwan yang berasal dari Aceh.

Yang Kedua, Kurikulum yang selalu diperbarui dengan perkembangan zaman, kurikulum sangat penting untuk merumuskan arah pendidikan Aceh ini agar apa yang menjadi visi misi pendidikan Aceh bisa terlaksana dengan baik maka diperlukan kurikulum yang selalu diperbarui dengan mengikuti kebutuhan zaman. Yang ketiga, Fasilitas/pra sarana yang mendukung, kita tidak bisa memungkiri bahwa fasilitas itu memiliki peranan yang subtasial di dalam mewujudkan perubahan di sektor pendidikan, penulis memberikan suatu contoh misal seorang siswa itu belajar bahwa cara membawa mobil itu memengan setir dan memasuki gigi akan tetapi siswa ini hanya belajar teori saja tidak pernah melaksanakan prakter maka coba kita bayangkan apa yang terjadi terhadap siswa ini, hasilnya pun tidak maksimal.

Penulis memberikan sebuah analogi ada seseorang sangat ingin makan Burger tapi ia tidak pernah merasakan burger ini namun hanya sebatas melihat saja dan apa jadinya apabila sesorang membayangkan sesuatu hanya tampaknya saja tanpa memakan maka sudah barang tentu sangat berbeda itulah yang terjadi di dunia pendidikan Aceh kita hanya membayangkan sesuatu tanpa bisa melakukan maka hal ini akan membuat lulusan di Aceh sangat sulit bersaing dengan lulusan dari daerah lainnya yang memiliki fasilitas yang lengkap. Semoga sektor pendidikan segara berbenah ke arah kemajuan, semoga hal ini segera teralisasi dengan baik demi mewujudkan Aceh yang makmur dan sejahtera.[]

Penulis adalah Munawwar, Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Bergiat di Political Club Unsyiah.

Editor: Riska Iwantoni

Comments

comments