Beranda Opini Mahasiswa yang Tidak Tahu Rumah dan Fungsinya

Mahasiswa yang Tidak Tahu Rumah dan Fungsinya

Ilustrasi (Sumber: Google)
loading...

Opini | DETaK

Fenomena yang terjadi pada mahasiswa sekarang ialah: Ia tidak tahu lagi di mana rumah tempat ia seharusnya mengabdi, berkeluh kesah, mencari pengalaman, dan tempat pertama kali ia dididik menjadi seorang mahasiswa. Hal ini terlihat dari rekam jejak organisasi yang dimiliki oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa yang sudah diterima di organisasi yang jenjangnya lebih tinggi dan “keren”, merasa abai dan apatis terhadap organisasi internalnya (Himpunan, dan Jurusan) sendiri. Saat menjadi anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) misalnya, mahasiswa tersebut seakan-akan tidak mau lagi memperhatikan permasalahan yang terjadi di internal himpunannya. Bahkan, untuk melirik pun merasa “bodo amat”. Hal ini saya jumpai dalam beberapa kasus di himpunan sendiri. Mulai dari adik tingkat, teman seangkatan, bahkan permasalahan kakak tingkat yang tidak peduli dan tidak mengenal adik tingkatnya sendiri, dan sebaliknya. Ada beberapa contoh yang bisa menguatkan fakta akan hal ini.

Pertama, perihal adik tingkat yang baru saja diterima menjadi Kepala Bidang (Kabid) pada struktur organisasi BEM Fakultas. Sontak ini menjadi perbincangan hangat di kalangan Dewan Pengurus Harian (DPH), pasalnya ia tidak meminta izin dari Ketua himpunan. Padahal menurut saya, mahasiswa baru wajib untuk mendedikasikan dirinya di himpunan program studi, alih-alih menjelajah ke tingkatan organisasi yang lebih tinggi.

loading...

Kasus kedua justru datang dari teman-teman seangkatan yang bergabung dalam organisasi himpunan, menjadi Kepala Bidang (Kabid), hingga DPH. Namun, tidak bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk perkembangan himpunan. Hal itu terjadi karena kurangnya partisipasi, dan adanya ketidakpahaman terhadap fungsi dan peran dari tugas yang diemban. Akibatnya, beberapa nama hanya menjadi pajangan dalam Surat Keputusan (SK) tanpa memberikan dampak positif pada perkembangan dan eksistensi himpunan.

Ketiga, hal ini terjadi pada salah seorang senior saya, ia menjadi Ketua di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas. Dalam hal ini, ia tidak mau tahu lagi terhadap permasalahan himpunan. Terlepas dari adanya permasalahan pribadi atau internal di antara keduanya, menurut saya ia bahkan tak menganggap himpunan itu ada. Namun yang pasti, rumah pertama dan pendidikan pertama yang ia dapatkan adalah dari himpunan itu sendiri, sehingga ia bisa mengepakkan sayapnya ke ranah yang lebih tinggi semisal Ketua UKM.

Ketiga contoh kasus tersebut adalah contoh kecil dari permasalahan mahasiswa saat ini. Ia tidak tahu lagi rumah mana tempat ia pulang dan mengabdi. Betul jika seorang mahasiswa bebas untuk menentukan organisasi mana yang ingin ditekuni serta diikuti. Yang tentu saja sesuai dengan keinginan dan pengetahuan dasar yang telah didapat sebelumnya, entah di sekolah atau di mana pun itu. Akan tetapi, permasalahannya kembali lagi pada sifat abai dan tidak mau berpartisipasi pada himpunan. Dari pengalaman pribadi, saya menemukan kondisi tersebut ketika adanya kegiatan atau rapat yang dibuat himpunan. Banyak mahasiswa yang sudah aktif di berbagai lembaga kampus seperti UKM, BEM, maupun DPM tidak mau lagi berpartisipasi dan terlibat dalam acara yang diadakan himpunan. Bahkan terkadang, untuk rapat kerja saja tak mau dihadiri. Alasannya tidak diketahui, bisa jadi karena himpunan tak memberikan dampak positif bagi pengembangan bakat atau alasan lainnya.

Menjadi bahan renungan bagi kita semua, tidak terkhusus bagi mahasiswa. Dalam hal ini, dosen pun berperan memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang himpunan itu sendiri. Karena hal yang paling dimengerti dan dilakukan oleh mahasiwa sekarang adalah perintah langsung yang diberikan oleh sang dosen. Mungkin, inilah Alternatif yang lebih mudah untuk mengembalikan pemikiran mahasiswa untuk tetap berpartisipasi di himpunan. Hal itu perlu dilakukan dan didukung oleh semua pihak yang terlibat, agar tak ada mahasiwa yang dikatakan “mahasiswa yang tidak tahu rumah,” yang sudah besar di luar lupa akan rumah sendiri.

Perlu diketahui, kekosongan kader di himpunan juga memberikan dampak terhadap kampus. Rantai tersebut akan dimulai dari kekosongan kegiatan atau acara yang diselenggarakan himpunan, lalu berdampak pada akreditasi program studi, kemudian fakultas dan berakhir di universitas. Sehingga hal ini akan merambah pada eksitensi sebuah kampus dalam mencetak kaum akademisi yang intelektual, dan paham akan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Penulis bernama Muhammad Iqbal Fahimy, mahasiswa FKIP program studi Bahasa dan Sastra indonesia. Angkatan 2018.

Editor: Missanur Refasesa