Beranda Opini Demonstrasi Mahasiswa: Benarkah Suara Mahasiswa Tak Terdengar Lagi Bagi Rakyat?

Demonstrasi Mahasiswa: Benarkah Suara Mahasiswa Tak Terdengar Lagi Bagi Rakyat?

BERBAGI
(Foto: Ist.)

Opini | DETaK

Buang-buang waktu saja kalian,” kata tukang becak pada massa aksi.

Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian masyarakat tidak mengerti apa yang menjadi suara mahasiswa. Namun, mereka bukan membuang waktu, tetapi menyumbangkan waktunya untuk bersuara dalam memperjuangkan hak-hak yang dirasa tidak adanya keadilan.

Amien Rais, di dalam bukunya berjudul Agenda-Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia! mengatakan salah satu pengalaman penting dalam hidupnya adalah ketika menggerakkan reformasi 1998-1999 bersama mahasiswa Indonesia.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa sekarang? Mahasiswa tetap mahasiswa sebagaimana mempunyai tanggung jawab terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi. Mahasiswa adalah Agent of Change maka dunia pendidikan dianggap penting untuk menggali segala ilmu yang diminati, mahasiswa akan mempunyai kredibilitas tinggi dalam menuntut ilmu, sehingga mahasiswa mampu dipercaya untuk mengatasnamakan kepentingan rakyat. Mahasiswa sebagai kaum intelektual untuk mengunggulkan kepentingan bangsa, mengukir jati diri mereka serta menjadi penggerak hukum dan keadilan.

Pada masa pemerintahan Soekarno dan Soeharto, terlihat jelas bahwa para pemuda bergerak turun ke jalan untuk menyuarakan penderitaan rakyat sampai akhirnya rezim Soekarno jatuh karena presiden Soekarno mengabaikan kepentingan rakyat dan cenderung mengarah ke diktator. Setelah itu pemuda kembali bersatu yang tergolong dari berbagai organisasi-organisasi kemahasiswaan dan kemasyarakatan mendesak Presiden Soeharto untuk turun dari jabatannya setelah berkuasa kurang lebih selama 32 tahun lamanya.

“Bagaimanapun juga generasi muda hari ini akan memiliki zamannya sendiri. Generasi muda hari ini akan memiliki tantangannya sendiri. Mereka akan memiliki musuhnya sendiri, biarkan mereka menghadapi itu,” pekik seorang politikus, Adian Napitupulu saat diundang di salah satu Program TV Indonesia pada 17 Januari 2019.

Politikus tersebut sejenak sudah memberikan semangat bagi para mahasiswa untuk kesejahteraan rakyat guna melanjutkan pewarisan perjuangan bangsa kepada generasi muda serta melakukan kebijakan untuk menegakkan demokrasi yang bisa memberikan fakta-fakta sehingga memperjelas segala perbuatan yang melenceng dan merugikan masyarakat.

Golongan yang mewakili sebagian besar rakyat yaitu kaum-kaum muda telah memberikan saham terbesar untuk sebuah perubahan. Karenanya dalam setiap revolusi sudah pasti beberapa mahasiswa juga ikut memerankan peran penting dalam politik Indonesia.

Namun pada tahun 1970-an, saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus, sikap kritis mahasiswa terancam karena mahasiswa tidak bisa lagi melakukan kegiatan bernuansa politik di kampus.

Apabila dilihat dari konteksnya, pada tahun 1966 dan 1998 dua gerakan mahasiswa didukung penuh oleh masyarakat karena masyarakat pro dengan mahasiswa. Suara mahasiswa sangat didukung oleh masyarakat.

Lantas bagaimana dengan demonstrasi mahasiswa sekarang?

Jika dilihat aksi yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa masih dilakukan sampai saat ini dan akan terus dilakukan. Terlihat ketika kaum pemuda terpelajar dalam mengedepankan persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat. Semangat mereka tidak bisa direnyuk begitu saja. Ini terjadi saat mahasiswa mendemo Malik Mahmud Wali Nanggroe Aceh pada 31 Januari 2019 lalu yang terdiri dari puluhan Gerakan Mahasiswa Pemuda Aceh (Gempa) dan lintas organisasi, dan yang baru-baru ini pada tanggal 5 Maret 2019 sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Korps Barisan Pemuda Aceh menggelar aksi cangkul menolak PT EMM di depan Kantor Gubernur Aceh.

Sudah jelas bahwa kehadiran melakukan aksi sebagai penyambung lidah rakyat, namun jangan sampai membawa isu yang minim dengan data yang jelas kajian akademisnya. Jangan hanya berorasi tanpa memberikan solusi dan mengganggu aktivitas masyarakat umum.

Budi Risantu salah satu mahasiswa Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah mengatakan era saat ini masih diperlukan demonstrasi mahasiswa namun kita harus mengkaji terlebih dahulu isu yang akan dijadikan demo, mengingat pada zaman ini aktivis itu tidak hanya aktivis kampus dan aktivis masyarakat yang berbaur dengan mahasiswa tetapi juga banyak aktivis-aktivis partai yang berlagak seperti aktivis mahasiswa.

Kita sebagai mahasiswa sudah seharusnya sadar untuk menyampaikan segala keluhan yang disampaikan oleh masyarakat dan kita beritahukan kepada penguasa bahwa keadaan rakyat “menggodot hati” dalam keadaan ketidakadilan ini.

Sudah seharusnya kita sebagai mahasiswa yang berpegang teguh pada keadilan ini melakukan demonstrasi yang dapat membuka mata si penguasa yaitu “pemerintah”, dan jangan sampai berperilaku seperti demostrasi yang dilakukan oleh sejumlah preman bayaran.

Orasi boleh, lantas jangan membuat masyarakat umum menjadi rugi apalagi turun ke jalan dan merusak properti dan mencampakkan sampah di lingkungan massa aksi.

Bagi para mahasiswa, mari sama-sama kita tegakkan idealisme yang mampu memberikan dampak nyata kepada mata masyarakat. Saatnya pemuda yang progresif, jangan sampai konservatif. Seperti halnya perkataan Pramoedya Ananta Toer, “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”. []

Penulis bernama Agika Putri. Ia merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala.

Editor: Herry A.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here