Beranda Opini Budaya ‘Nongkrong’ pada Remaja, Baik atau Buruk?

Budaya ‘Nongkrong’ pada Remaja, Baik atau Buruk?

BERBAGI
(Foto: Ist.)

Opini | DETaK

Nongkrong sudah seperti salah satu pemenuh kebutuhan sosial agar kita tidak terlalu berkutat dalam pekerjaan namun menyempatkan diri untuk rileks. Sebagai makhluk sosial, manusia pasti butuh berinteraksi dengan orang lain. Nongkrong sudah menjadi salah satu budaya orang Indonesia, tak terkecuali di Banda Aceh. Di setiap sudut dapat kita temukan tempat-tempat tongkrongan anak muda sekarang.

Istilah nongkrong dipakai ketika sekumpulan anak muda maupun dewasa melakukan kegiatan di suatu tempat untuk duduk, berbicara bahkan terkadang tidak melakukan hal apapun. Umumnya, kegiatan ini dilakukan di warung kopi (warkop) hingga kafe-kafe populer atau hits yang kian banyak bermunculan sekarang.

Nongkrong Sebagai Lifestyle

Budaya nongkrong kerap terlihat pada generasi millennial (kelahiran 1980-an hingga tahun 1995) dan generasi platinum (kelahiran 1996 hingga sekarang). Hal ini disebabkan mereka lahir bersamaan gejolak modernisasi di tengah pusaran globalisasi.

Dahulu di masa orang tua kita, memang sudah ada budaya nongkrong. Namun, orang yang melakukan kegiatan ini hanyalah para orang tua yang duduk di warung kopi. Hari ini, nongkrong sudah seperti agenda wajib dan menjadi tren di kalangan remaja masa kini. Apalagi sekarang sudah ada aplikasi Instagram yang di dalamnya mempunyai fitur instastory, Fitur ini menarik banyak remaja untuk selalu update Instagram ketika duduk di suatu kafe.

Hebatnya, pengaruh westernisasi yang makin meradang membuat generasi muda mulai berpikir bahwa minum kopi atau sekedar bersantai di cafe itu terlihat berkelas. Dari sinilah kegiatan nongkrong di kafe pun jadi bagian gaya hidup atau lifestyle. Kecenderungan ini ada pada remaja. Di masa sekarang,  mereka ingin dipandang eksis dan diterima oleh kelompok pergaulannya. Karena itulah, mereka menyesuaikan diri dalam segi penampilan dan gaya hidup.

Evolusi Warung Kopi dan Kafe Kekinian

Saat membayangkan warung kopi, hal yang terlintas dalam pikiran kita adalah kenyamanan dan juga desain dengan konsep menarik sehingga membuat pengunjung tak hanya menikmati kopi, namun juga menjadi satu dengan suasana yang melingkupinya. Fasilitas seperti kipas angin dan Wi-Fi juga membuat kita betah duduk berlama-lama di dalamnya.

Dulunya, warung kopi tidak seperti warung kopi yang ada sekarang—desainnya tidak menarik, belum ada fasilitas Wi-Fi, serta hanya kalangan lelaki yang duduk di sana. Starbucks merupakan salah satu contoh fenomena di industri kopi yang telah menginspirasi lahirnya warung kopi dan kafe modern masa kini.

Banyak kafe sekarang yang memiliki tempat swafoto atau spot selfie yang membuat remaja pun betah berada di kafe. Tidak hanya tempat swafoto, banyak juga kafe yang di desain dengan tema-tema khusus. Makanan dan minuman yang ditawarkan juga semakin bervariasi dan unik, bahkan ada kafe yang mempunyai menu andalan tersendiri yang berbeda dengan kafe lain.

Stigma Masyarakat Terhadap Budaya Nongkrong

Pandangan terhadap nongkrong biasanya negatif karena dinilai membuang waktu percuma dengan melakukan hal-hal yang tidak produktif. Masyarakat khawatir dengan aktivitas nongkrong mahasiswa yang tak bermanfaat, padahal mahasiswa sendiri merupakan agent of change—agen pembawa perubahan.

Faktanya, banyak hal positif yang dapat kita peroleh dari nongkrong, misalnya berinteraksi dengan orang lain, menambah wawasan kita tentang dunia luar dan memperluas koneksi kita. Bagi orang yang memiliki suatu usaha, budaya nongkrong dapat mempromosikan usaha mereka, sehingga pendapatan pun bertambah. Pelajar-pelajar yang mempunyai suatu proyek dan butuh diskusi, tetapi tidak ingin suasananya tegang juga dapat nongkrong di tempat yang nyaman.

Masyarakat Indonesia biasanya menyelesaikan masalah dengan musyawarah, hal ini juga dapat dilakukan dengan nongkrong. Tidak ada salahnya juga ketika kita merasa penat dengan rutinitas sehari-hari lalu menyegarkan pikiran dengan nongkrong bersama teman di suatu tempat, membahas kehidupan sehari-hari, dan berita-berita yang sedang hangat sekarang.

Disamping itu, aktivitas nongkrong ini mengharuskan kita berhati-hati dalam memilih teman dan tempat. Tak jarang pelaku kriminal memanfaatkan kegiatan ini untuk mencari mangsa baru. Nongkrong dapat dinilai negatif ketika kita malah menggunakannya sebagai ajang pamer, bergosip, merencanakan sesuatu yang berbau kriminal, serta lalai dan tidak ingat waktu.

Menghabiskan waktu berjam-jam hingga sering pulang malam juga tidak baik, apalagi bagi perempuan. Nongkrong larut malam juga dapat menimbulkan insomnia dan mengganggu kesehatan karena kurang tidur. Sering duduk di kafe juga dapat menimbulkan perilaku konsumtif, mengingat harga makanan dan minuman yang ditawarkan tidak selalu ramah di kantong pelajar yang uang sakunya masih berasal dari orang tua.[]

Penulis bernama Annisa Maghfirah. Ia merupakan mahasiswi jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Editor: Mohammad Adzannie Bessania

Comments

comments