Beranda Headline Unsyiah Wajibkan Mahasiswa Cetak Skripsi di Percetakan Kampus

Unsyiah Wajibkan Mahasiswa Cetak Skripsi di Percetakan Kampus

BERBAGI
Gedung UPT Unsyiah Press. Sri Elmanita S./DETaK

Nurul Hasanah | DETaK

Darussalam- Semenjak diberlakukan wajib mencetak skripsi melalui aplikasi ETD (Electronic Thesis and Dissertations) di Unsyiah Press pada 20 Januari 2019, hal tersebut menuai pro kontra di kalangan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Kepala UPT Percetakan Unsyiah, Taufiq Abdul Gani memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai alasan diberlakukan wajib cetak skripsi di percetakan Unsyiah kepada tim detak-unsyiah.com saat dihubungi via WhatsApp pada 19 Januari 2019.

Saat ditanyai tujuan dari pemberlakuan hal tersebut, Taufiq mengatakan tujuannya adalah untuk mengoptimalkan sumber daya internal untuk peningkatan efisensi dan mutu Unsyiah.

“Skripsi dan mahasiswa adalah sumber daya internal di samping prodi, unit kerja, dosen dan lainnya. Indikatornya yaitu efisiensi,” ungkapnya.

Perihal mahasiswa yang tidak setuju akan pemberlakuan ini, Taufiq menanggapi bahwa hal tersebut dikarenakan wacana cetak skripsi di percetakan Unsyiah merupakan suatu program baru di Unsyiah. Ia mengatakan sejauh ini sosialisasi sudah dilakukan, walaupun mungkin tidak menjangkau seluruh mahasiswa. Selain itu, yang wajib cetak di percetakan Unsyiah Press hanyalah skripsi.

“Sementara untuk keperluan seminar, proposal, progress, atau ujian kan bisa pakai printer sendiri. Sementara cetak final baru yang kualitas premium,” tuturnya.

Ia juga menambahkan alasan lainnya adalah agar mahasiswa mendapatkan jilid skripsi yang berkualitas melalui penjilidan di Unsyiah Press.

“Mahasiswa saya rasa masih perlu printer pribadi yang tentunya kualitas ndak high resolution, tapi untuk skripsi, sebagai bukti jerih payah kenang-kenangan harus kualitas bagus lah cetakannya,” ungkapnya.

Selanjutnya, Taufiq mengatakan proses mencetak dan menjilid skripsi tak membutuhkan waktu lama.

“Pagi kasih, besok siang bisa ambil untuk cetak dan jilid,” pungkasnya. [*]

Editor: Sri Elmanita S.