Beranda Headline Peran Teknologi Pertanian dalam Menanggapi Isu Krisis Pangan dan Energi

Peran Teknologi Pertanian dalam Menanggapi Isu Krisis Pangan dan Energi

BERBAGI
Seminar nasional bertajuk “Peran Teknologi Pertanian dalam Menanggapi Isu Krisis Pangan dan Energi” di ruang MPR Fakultas Pertanian Unsyiah, Kamis (22/3/2012) (Foto: Bayu Septi/DETaK)
loading...

Sulistiono | DETaK

Seminar nasional bertajuk “Peran Teknologi Pertanian dalam Menanggapi Isu Krisis Pangan dan Energi” di ruang MPR Fakultas Pertanian Unsyiah, Kamis (22/3/2012) (Foto: Bayu Septi/DETaK)

Darussalam – Pengembangan teknologi pertanian harus memenuhi sifat-sifat inovasi seperti keuntungan relative, compatible, triabilitas, kompleksitas dan observabilitas. Demikian disampaikan kepala Balai Pengakajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, T. Iskandar dalam seminar nasional bertajuk “Peran Teknologi Pertanian dalam Menanggapi Isu Krisis Pangan dan Energi” di ruang MPR Fakultas Pertanian Unsyiah, Kamis (22/3/2012).

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian (Himateta) Unsyiah dan diikuti oleh Sekitar 100 orang mahasiswa teknik pertanian, termasuk 30 orang delegasi mahasiswa dari Universitas di Indonesia.

loading...

Pada seminar tersebut, panitia menghadirkan pemateri diantaranya, Ir. T. Iskandar, M,Si dari Balai Pengakajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh dan Prof. Dr. Edy Hartulistiyoso dari Masyarakat Ilmuwan Dan Teknologi Indonesia (MITI).

Kepala BPTP Aceh, T. Iskandar menambahkan tujuan pengembangan teknologi tentunya adalah untuk memudahkan petani dan meningkatkan produksi. Disetiap daerah di Indonesia memiliki keunggulan masing-masing di bidang pertanian dan yang menjadi tugas kita bagaimana memaksimal kan keunggulan ini, “Contohnya Negara Cina dengan menggunakan teknik Integrated Crop Management (ICM) dalam menanam padi, sehingga Cina mampu memenuhi kebutuhan beras sendiri bahkan mengekspor padahal penduduknya lebih dari 1 miliyar jiwa,” ujar Iskandar.

Pada sesi materi kedua, Edy Hartulistiyoso mengatakan ketika sekarang kita harus memproduksi pangan untuk penduduk dunia enam milyar, maka pada tahun 2050 dunia harus memproduksinya dua kalipat, “ Maka 85% penduduk dunia hidup di negara berkembang dan sudah ada satu milyar penduduk dunia yang mengalami kelaparan,” sebutnya.

Di Indonesia sendiri telah mengalami suatu kesalahan dengan menyeragamkan seluruh penduduk untuk makan nasi, misalnya orang yang makanan pokoknya sagu atau jagung harus makan nasi, sehingga sekarang yang terjadi ketergantungan terhadap nasi.

“Pada sumber karbohidrat banyak sekali tantangan kita seperti memodifikasinya menjadi sumber pangan sehari-hari,” tutup Edy.[]