Beranda Artikel Jangan Samakan Gila dengan Skizofrenia

Jangan Samakan Gila dengan Skizofrenia

BERBAGI
Ilustrasi (Sumber: Google)

Artikel | DETaK

Oleh Rifki Anshory Hendri

Apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar kata skizofrenia?

Kebanyakan dari kita belum paham atau bahkan belum pernah mendengar nama gangguan jiwa yang diderita oleh 1 sampai 2 orang dari 1000 orang di Indonesia ini (Riskesdas 2013). Padahal, gangguan jiwa ini adalah yang paling sulit ditangani. Orang dengan skizofrenia (ODS) juga membutuhkan terapi yang intens untuk bisa hidup dengan “normal”.

Skizofrenia adalah istilah yang berkenaan dengan keadaan yang ditandai dengan halusinasi, delusi, dan gangguan berpikir (Carr, 2001). Istilah skizofrenia diperkenalkan oleh psikiater asal Swiss bernama Eugen Bleuler pada tahun 1911.

Secara harfiah, skizofrenia berarti “pikiran yang terbagi” (Passer & Smith, 2008). Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (2013), setidaknya harus ada dua dari lima gejala yang muncul selama minimal enam bulan untuk menandai skizofrenia. Kelima gejala itu adalah delusi, halusinasi, bicara yang tidak teratur, perilaku katatonik, dan gejala negatif (jangkauan emosi yang terbatas). Skizofrenia terklasifikasi atas beberapa bagian menurut pola gejalanya, diantaranya simple schizophrenia, hebefrenik, paranoid schizophrenia, undifferentiated schizophrenia, dan katatonik. Penyebab skizofrenia bermacam-macam, bisa ditinjau dari sisi biologis, kognitif, psikososial, maupun lingkungan. Satu penyebab dapat dipengaruhi atau dikembangkan oleh penyebab lain (Kisker, 1982).

Kebanyakan penderita skizofrenia berakhir ditelantarkan di rumah sakit jiwa atau dalam kasus yang lebih menyedihkan, mereka dipasung oleh kerabat terdekat mereka sendiri. Mengapa demikian? Masyarakat tidak memahami apa yang terjadi pada si penderita dan menganggap perilaku penderita yang abnormal sebagai sebuah penyakit spiritual, bukan penyakit mental. Apakah ditelantarkan dan dipasung itu adalah hal yang pantas bagi penderita skizofrenia? Tentu tidak. Mereka membutuhkan bantuan akan pemahaman dari orang lain.

Saya tidak pernah mengobservasi ODS secara langsung atau mengenal ODS dalam kehidupan saya. Tetapi terimakasih kepada media massa yang telah menyediakan saya banyak informasi mengenai skizofrenia, baik dalam bentuk ilmiah seperti artikel dan jurnal, ataupun dalam bentuk hiburan seperti cerita fiksi dan film. Berbagai kasus ODS pernah saya baca atau tonton, dan melalui hal tersebut, saya membangun pendapat saya sendiri terhadap ODS.

Saya pikir sungguh luar biasa apabila ODS dapat bertahan hidup dengan bahagia. Menjadi ODS tidak mungkin mudah. Misalnya, dari faktor internal ODS. Mengetahui bahwa mereka memiliki penyakit mental akan membuat mereka merasa kurang percaya diri, malu, takut akan tekanan sosial, dan berbagai emosi negatif lainnya yang seringkali berujung pada depresi. Mereka terperangkap dalam dunia yang membingungkan.

Faktor lingkungan sosial juga akan berpengaruh pada ODS. Tekanan sosial tak mungkin dapat dielakkan terhadap ODS. Label gila atau sakit jiwa dari orang lain pasti pernah terpajang pada diri mereka. Belum lagi, dengan menurunnya performa mereka dalam pekerjaan, prestasi, maupun sosialisasi akan perlahan-lahan membuat mereka terasingkan dari lingkungan sosialnya. Mari posisikan diri kita sebagai ODS. Pernahkah kita ingin selamanya tidak mengerti tentang isi kepala kita? Atau pernahkah terlintas di pikiran kita untuk dikucilkan orang-orang di sekitar kita karena kita dianggap “berbeda”, sementara selama ini kita merasa bahwa kita “normal”?

ODS bukan orang yang patut dikucilkan, diasingkan, atau ditakuti. Meskipun skizofrenia tidak bisa disembuhkan dengan total, namun gejalanya dapat diminimalisir dengan terapi psikologis dan medis. Mereka berhak mendapatkan perlakuan yang baik sebagaimana kita semua ingin diperlakukan. Mereka juga berhak menjalankan kehidupan layaknya manusia normal. Mereka adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Lalu, bagaimana agar ODS bisa diterima di masyarakat?

Pertama, dari ODS sendiri. Jika mereka memiliki motivasi untuk “normal”, maka langkah pertama yang ODS bisa lakukan adalah dengan memahami apa itu skizofrenia, kemudian mencari bantuan untuk treatment melalui orang terdekat. Pada situasi ini, peran keluarga dan kerabat ODS sangat penting sebagai emotional support. Kerabat mereka seharusnya mengarahkan ODS kepada psikiater, bukan menelantarkan mereka begitu saja.

Kita sebagai orang awam bisa mulai mencari tahu seluk beluk skizofrenia. Dengan memahami apa itu skizofrenia dan akibatnya, kita dapat ikut memahami apa yang dirasakan oleh ODS dan cara menyikapi ODS. Diakui dan dimengerti oleh orang terdekatnya akan membantu meringankan beban emosional ODS. Percayalah, seumur hidupnya, ODS tak pernah berkeinginan untuk berurusan dengan skizofrenia.

Pengembangan komunitas untuk para ODS atau orang yang peduli dengan ODS juga merupakan langkah yang tepat. Dari sana, ODS maupun non-ODS bisa mendapat edukasi mengenai skizofrenia, cara menanganinya, dan juga support baik secara moral maupun materi. Penyaluran bakat dan minat para ODS yang biasanya memiliki kreativitas tinggi juga merupakan salah satu langkah yang bisa kita ambil.

Masih ingin mengucilkan ODS? Saya tidak.

Daftar Sitasi

American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition: DSM-5. American Psychiatric Publishing. Arlington.

Carr, Alan. 2001. Abnormal Psychology. Psychology Press. East Sussex.

Kisker, George W., 1982. The Disorganized Personality. McGraw-Hill Publisher. New York.

Passer, Michael W. & Smith, Ronald E., 2008. Psychology : The Science of Mind and Behavior. McGraw-Hill Publisher. New York.

Penulis adalah Rifki Anshory Hendry, Mahasiswa Farmasi Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, angkatan 2015.[]

Editor: Riska Iwantoni

Comments

comments