Beranda Headline PKM, Jalan Kreatif yang Tersendat Informasi

[Infografik] PKM, Jalan Kreatif yang Tersendat Informasi

BERBAGI
Infografik tanggapan mahasiswa Unsyiah terkait PKM

Tim Riset & Data | DETaK

Darussalam– Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan suatu wadah yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia untuk memfasilitasi potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa/i Indonesia. Potensi tersebut mencakup mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu serta teknologi yang telah didapatkan di bangku perkuliahan. Proposal PKM memiliki lima sub-program yaitu PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Penulisan Artikel Ilmiah (PKM-I). Banyak mahasiswa dari berbagai universitas mengikuti kegiatan ini, begitu pula dari mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Permasalahan yang dihadapi saat ini, beberapa mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) masih belum sepenuhnya mengetahui dan mengerti tata cara pembuatan proposal PKM, padahal pihak kampus sudah melakukan sosialisasi terkait PKM. Oleh karena itu, Tim Riset dan Data UKM Pers DETaK melakukan riset terkait pemahaman mahasiswa tentang PKM. Riset dilakukan terhadap 12 fakultas yang ada di Unsyiah melalui penyebaran kuesioner. Dari masing-masing fakultas dipilih 5 responden secara acak sehingga total responden sebanyak 60 mahasiswa. Riset dilakukan sejak tanggal 1 April 2018 hingga 14 April 2018.

Infografik tanggapan mahasiswa Unsyiah terkait PKM

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa mahasiswa yang pernah mengikuti PKM sebanyak 68% dan 32% lainnya tidak mengikuti PKM. Pertanyaan kedua yaitu tentang pemahaman mahasiswa mengenai sistem atau alur pendaftaran serta syarat mengikuti PKM. Dari grafik kedua dapat dilihat bahwa 73% responden menjawab memahami, dan 27% tidak memahami.

Selanjutnya grafik ketiga menunjukkan pendapat mahasiswa tentang sosialisasi yang diberikan selama ini, apakah cukup efektif atau tidak. Sebanyak 58% mahasiswa memilih cukup efektif dan 42% mahasiswa mengaku bahwa sosialisasi selama ini tidak cukup efektif, dikarenakan sosialisasi yang dilakukan tidak menjelaskan sampai kepada tata cara pembuatan proposal. Hal ini berdampak pada minat mahasiswa untuk mengikuti PKM terlebih lagi bagi mereka yang pernah gagal lolos ke tahap nasional.

“Sosialisasi PKM hanya pada saat setelah Pakarmaru dan ada juga surat edaran yang ditempel di mading fakultas. Selain itu pemberitahuannya yang terlalu lama, jadi tenggat waktunya saat pengumpulan tidak efektif,” ungkap seorang mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP).

Grafik keempat menunjukkan pendapat mahasiswa tentang jadwal dari pihak penyelenggara PKM untuk pemberitahuan atau pengumuman kelolosan. 85% mahasiswa berpendapat bahwa jadwal jelas, sedangkan hanya 15% mahasiswa yang mengatakan tidak ada jadwal yang jelas.

Untuk mengatasi permasalahan ini, pihak Program Pengembangan Kreativitas Mahasiswa (P2KM) telah menerapkan sistem gerilya per-fakultas untuk memberikan sosialisasi terkait PKM.

“Jadi kami dari pihak PKM sekarang telah menerapkan sistem gerilya per-fakultas, kadang ya memang fakultas ada yang mengundang, karena sekarang kami kan PKM yang dipegang sama universitas. Jadi, sistem sosialisasinya kami, gerilya kami ke setiap fakultas. Jadi, pada saat kami ke sana itu, pihak yang menentukan peserta sosialisasi itu ditentukan oleh pihak fakultas sendiri,” ungkap Ali selaku Ketua P2KM.

Dan untuk lebih meningkatkan pengetahuan serta minat mahasiswa tentang PKM, P2KM berencana untuk lebih khusus lagi melakukan sosialisasi ke setiap program studi yang ada di Unsyiah bahkan akan bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah.

“Inshaa Allah bakal bentuk PKM Corner istilahnya. Jadi, PKM Corner di sana tiap fakultas ada perwakilan dari PKM Center-PKM Unsyiah. Jadi Insya Allah mungkin yang dulu kurang efektif, sekarang Insya Allah akan efektif. Berarti mungkin ada beberapa mahasiswa yang gak dapat info, kami minta maaf mungkin dari PKM center-nya kurang maksimal. Tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan gak cuman Unsyiah, ke ISBI pun kami pergi. Untuk orang lain yang gak ada hubungannya sama Unsyiah tapi orang Aceh, kami ke sana buat sosialisasi PKM. Kalau untuk yang jawabannya berapa persen, jawabannya tadi bahwa sosialisasi kurang efektif,” sambung Ali.

Dari riset ini, dapat dilihat bahwa sosialisasi yang dilakukan selama ini sudah berjalan dengan lancar dan lebih dari 50% mahasiswa memahami alur pendaftaran PKM, hanya saja mereka terkendala dari tata cara pembuatan proposal dan tenggang waktu dikarenakan pemberitahuan yang terlambat. Padahal, penyusunan proposal PKM seharusnya dilakukan sejak awal tahun ajaran karena biasanya tenggang waktu pengumpulan proposal ditetapkan mendekati akhir semester. Biasanya mahasiswa yang memiliki kemauan untuk mengikuti PKM akan mencari tahu sendiri mengenai jadwal dan syarat pendaftaran PKM.

“Biasanya cari sendiri, karena kalo menunggu pihak kampus, biasanya bakalan telat dan dekat-dekat sama hari deadline pengumpulan proposal,” ungkap salah seorang mahasiswa Fakultas Pertanian.

Menurut Ali, selaku Ketua P2KM, permasalahan mengenai penyebaran informasi dikarenakan belum adanya sistem informasi yang dimiliki oleh pihak P2KM.

“Jadi kalo mengenai masalah pengumuman, kekurangannya, kami belum ada sistem informasi, belum ada website, Inshaa Allah tahun ini kami usahakan P2KM, sekarang kan P2KM namanya, kami usahakan akan kita buat sistem informasi. Jadi mahasiswa nanti sudah mudah untuk melihat pengumuman, gak lagi liat Instagram, gak mesti lagi ke gelanggang, bisa akses lewat website,” tutup Ali.[]

Editor: Herry Anugerah