Beranda Headline Forum Islam Lil’alamin: Membumikan Islam Damai dalam Keberagaman

Forum Islam Lil’alamin: Membumikan Islam Damai dalam Keberagaman

BERBAGI
Dok. Herman RN
loading...

Dok. Herman RN

DETaK | Banda Aceh – Forum Islam Rahmatan Lil’Alamin (The Aceh Institute, Kelompok Studi Darussalam, Kelompok Studi Agama dan Filsafat Institute, Komunitas Tikar Pandan, Bandar Institute, Sekolah Menulis Do Karim, Komunitas Panteu) bekerjasama dengan Komunitas Tikar Pandan menyelenggarakan Seminar Nasional: “Merajut ukhwah islamiyah, membumikan islam damai dalam keberagaman dan perbedaan”. (26/9)

loading...

Walaupun waktunya sedikit molor tapi acara yang bertempat di Hotel Kuala Radja ini berjalan dengan lancar. Antusias dari peserta pun tampak jelas, itu terlihat dari jumlah perserta yang melebihi target. Bagaimana tidak, pemateri yang dihadirkan bisa di ancungi jempol. Panitia berhasil mendatangkan Dr. H. Khalid al-Walidi, M.Ag (Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah), Dr. Umar Ibrahim, MA (Anggota Dewan Komisi Fatwa MUI Pusat), Irwan Masduqi, Lc (Pengurus Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi Nogotirto Gamping Sleman Yokjakarta), Prof. Dr. Muslim Ibrahim, MA (Ketua MPU Provinsi Aceh), dan Dr. Syamsul Rijal
Sys, MA (Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry).

Teuku M. Jafar Sulaiman, selaku ketua panitia mengungkapkan, bahwa Acara yang dihadiri oleh berbagai lembaga, guru dan juga dosen-dosen ini bertujuan agar tercapainya kesepahaman bersama untuk mewujudkan islam damai dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman, yang nantinya akan menjadi sebuah rekomendasi sebagai referensi bagi stake holder di
Aceh.

“Kita berharap agar adanya pemahaman yang sama, agar segala perbedaan yang terjadi sesama muslim tidak disikapi dengan kekerasan apalagi fanatik orientik,” ujar Teuku M. Jafar Sulaiman yang juga berasal dari Kelompok Studi Darussalam.

Pun demikian, acara ini masih dinilai banyak kekurangan seperti waktu yang disediakan panitia terlalu singkat. seperti yang diungkapkan Salmi Hardiyanti, seorang mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), ia mengaku kecewa karena ia merasa waktu yang
disediakan tidak cukup.

“Acaranya keren, tapi waktunya sangat sikat karena moderator nggak memberikan batas waktu maksimal untuk tiap pemateri, jadinya sesi pertanyaan menjadi singkat,” ungkapnya.

Lain halnya dengan Nurul Fitria, Mahasiswi dari Fakultas Kedokteran ini mengaku acara memang  bagus tapi ia sangat menyayangkan publikasinya yang kurang, karena menurutnya acara ini diikuti oleh semua kalangan, terutama mahasiswa.

“Saya mendapatkan publikasi dari sms, banyak kawan-kawan yang nggak tau tentang acara ini,” ujarnya pada tim DETaK saat ditemui di musalla hotel. [Lisma L]