Beranda Headline BEM Unsyiah Setelah Disambangi AMU

BEM Unsyiah Setelah Disambangi AMU

BERBAGI
Rival Perwira dan Rifqi Ubai Sulthan saat ditemui di sekretariat BEM Unsyiah pada Senin, 15/04/19. (Muktariza|DETaK)

Missanur Refasesa | DETaK

Darussalam – Sejumlah mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Unsyiah (AMU) mendatangi  sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah yang terletak di Lantai 1 Gelanggang Mahasiswa pada Kamis, 11 April 2019 sore setelah aksi terakhir demo penolakan PT. Emas Mineral Murni (EMM).

Dikutip dari @redaksihahoe, AMU memberikan sebuah amplop yang berisi pembalut sebagai bentuk kekecewaan terhadap BEM Unsyiah yang dinilai tidak ikut andil dalam membela rakyat Aceh pada aksi tolak tambang PT. EMM.

Mengenai hal tersebut, saat ditemui oleh tim detak-unsyiah di sekretariat BEM Unsyiah pada Senin, 15 April 2019, Rival Perwira menanggapi kedatangan AMU sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap BEM Unsyiah. Meski saat kedatangan AMU, Rival sedang tidak berada di sekretariat, namun Rifqi Ubai selaku Wakil Ketua BEM serta Sekretaris Jendral, Sumardi, menjadi penerima dan saksi dari hadiah tersebut. Rifqi Ubai mengakui bahwa saat AMU mendatangi sekretariat BEM mereka baru saja pulang dari aksi di Kantor Gubernur Aceh.

“Saat itu kami baru pulang dari aksi di kantor Gubernur, jadi memang ada beberapa massa yang datang dan kita terlibat,” ujarnya.

Rival mengatakan mereka tidak pernah mengklaim bahwa BEM Unsyiah yang mempromotori masa aksi yang berasal dari Unsyiah, dia mengatakan tidak tahu dari mana sumber dari perkataan yang mengatasnamakan dirinya. Namun, sejumlah mahasiswa Unsyiah sudah kepalang kecewa dengan Ketua BEM Unsyiah yang dianggap tidak berperan aktif selama aksi berlangsung.

Menurut Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Unsyiah, Mohammad Ikhsan, wajar saja jika pemberian hadiah berupa pembalut tersebut diberikan oleh AMU sebagai bentuk kekecewaan dari mahasiswa Unsyiah kepada Presiden Mahasiswa.

Ikut andilkah BEM Unsyiah? Berikut dipaparkan kronologis kejadian pada saat sebelum aksi PT. EMM berlangsung.

Pada tanggal 26 Maret 2019 saat korp Barisan Pemuda Aceh (BPA) mendatangi sekretariat DPM Unsyiah, BEM menyatakan sikap untuk ikut dalam aksi cangkul pada kamis, 28 Maret 2019. Namun saat itu tak terlihat Ketua BEM membersama peserta aksi. Sumardi, sebagai Sekretaris Jendral terlihat berorasi pada aksi cangkul. Wahyu Rezki, yang saat itu sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) mengatakan Ketua BEM tidak dapat hadir karena ada agenda lain. Dua minggu berlalu, pada Selasa, 9 April 2019 mahasiswa Aceh dan Korp BPA kembali melakukan aksi lanjutan di depan kantor Gubernur. Pada sabtu malam (7 April 2019) mereka mengadakan kajian di Solong Cafe Ulee Kareng, namun Ketua BEM tidak berhadir setelah sebelumnya dihubungi oleh Ikhsan. Rival mengatakan, Ia menunggu kedatangan menteri polhukam di sekretariat  dan sudah mengkoordinasikan kepada menteri polhukam BEM untuk menghadiri kajian namun terjadi miskomunikasi di antara mereka, tak ada perwakilan BEM yang hadir di sana.

“Pada hari selasa itu saya jujur tidak tahu ada aksi. Saya kemarin hari Senin sakit, Sabtu sore ada kajian di Pendopo Gayo Lues di PKA,” ungkapnya.

Ia mengaku tidak mengetahui ada aksi di hari Selasa tanggal 9 April 2019, karena tidak mengikuti kajian pada Sabtu malam di Solong Café. Namun Rival turun mengikuti aksi setelah melihat mahasiswa yang berkumpul menuju ke Kantor Gubernur.  Sebelumnya, Rival mengakui bahwa mereka berkomunikasi secara intensif dengan Ketua BPA, Mutawalli.

Saat ditanyai mengenai massa aksi yang dikerahkan langsung oleh BEM Unsyiah, Rival mengatakan sekitar lima puluh mahasiswa yang datang pada Kamis, 11 April 2019 sementara pada tanggal 9 April dan 10 April mereka tidak memiliki datanya. Saat terjadi kericuhan antara aparat keamanan dengan peserta aksi, Rival tak terlihat berada di tengah-tengah masa aksi padahal sebelumnya ia melakukan orasi. Saat itu Ikhsan selaku ketua DPM menyarankan agar Rival kembali ke kampus agar masa dari Unsyiah tidak terpecah dikarenakan Rival dianggap tidak berperan aktif namun mendapat panggung orasi.

AMU yang ternyata dibentuk karena keresahan para BEM Fakultas yang menganggap BEM Unsyiah tidak sigap dalam bertindak, akhirnya menyampaikan kekecewaan mereka dengan mendatangi sekretariat BEM. Menurut keterangan Ikhsan, DPM merupakan salah satu lembaga yang mengisi AMU disamping sembilan fakultas lainnya, hal-hal itu sudah selesai dibicarakan setelah salah satu pegawai dari Biro Kemahasiswaan datang ke sekretariat DPM dan AMU tidak lagi meributkan hal tersebut.

“Dan bang Agus udah datang kemari konfirmasi, udah clear, udah nggak ada masalah apa-apa lagi,” ungkap Ikhsan. [*]

Editor: Cut Siti Raihan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here