Beranda Headline 24 November Ditetapkan Sebagai Hari Saman

24 November Ditetapkan Sebagai Hari Saman

BERBAGI
Pemateri seminar Saman foto bersama selesai acara. (Riska Iwantoni/DETaK)
loading...

Eureka Shittanadi | DETaK

Darussalam – Saman merupakan tari tradisional asal Kabupaten Gayo Lues yang mainkan sambil duduk dan tanpa bantuan alat musik apapun serta mengenakan pakaian kerawang Gayo yang mengandalkan gerak badan, bunyi tubuh, dan syair-syair berbahasa Gayo.

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues sendiri telah membuat kebijakan untuk menetapkan tanggal 24 November sebagai hari Saman, hal tersebut terkait dengan ditetapkannya tari saman sebagai warisan dunia tak berbenda oleh UNESCO pada 24 November 2014 lalu di Bali.

Keputusan UNESCO itu akan ditarik kembali apabila dalam kurun waktu 4 tahun setelah penetapan tersebut tari saman mengalami kemunduran. Untuk itu, pemerintah daerah tengah gencar melakukan upaya-upaya pelestarian tari saman ini. Bupati Gayo lues, Ibnu Hasyim, dengan lantang mengatakan bahwa tari saman akan tetap jaya.

“Tari saman tidak akan punah. Selama saya menjadi Bupati, saya akan tetap melakukan upaya pelestarian tari saman,” ucapnya di sela-sela pemaparannya dalam seminar saman yang bertajuk “Identtification of Saman, Menyelidik dan Membingkai Identitas Saman” di gedung Auditorium FKIP Unsyiah, Jumat, 18 Desember 2015.

Pemerintah daerah telah banyak melakukan upaya pelestarian tari saman itu sendiri, diantaranya adalah menjadikan pelestarian tari saman sebagai visi misi daerah, mengeluarkan SK yang menetapkan 15 penari saman profesional sebagai pengajar yang siap mengajarkan tarian saman, dan telah menjadikan saman sebagai mata pelajaran muatan lokal di beberapa sekolah baik di dalam maupun di luar daerah Gayo Lues. Selain itu, dalam jangka waktu dekat akan dibangun gedung “Saman Center” sebagai pusat pelestarian tari saman internasional.

Dengan adanya pengakuan dari UNESCO, berarti dunia mengakui secara sah bahwa saman adalah tari yang berasal dari Gayo Lues dan ditarikan oleh sekelompok laki-laki, bukan perempuan. Meski demikian, Iranda Novandi, Kepala Sekolah Jurnalisme Indonesia, pada kesempatan yang sama dengan Ibnu menyarankan agar dibuat sebuah buku tentang seluk beluk tarian saman yang asli.

“Perlu dibuat satu buku mengenai saman yang asli mengingat saman telah dijadikan sebagai mata pelajaran muatan lokal dibeberapa daerah, sehingga tidak ada kesimpangsiuran mengenai keaslian tari saman,” katanya.[]

Editor: Riska Iwantoni