Beranda Sosok Sabum David ; Kekuatan Dari Korea

Sabum David ; Kekuatan Dari Korea

BERBAGI

“Pak . . puk, hia. . . hia. . . tess. . . tesss. . . . hia. . . hia. ., pak. . . puk. . , pak. . puk. . hia. . “. Teriakan disertai suara tendangan dari kaki mahasiswa yang berpakaian serba putih itu memecah kesunyian Gedung Gelanggang Mahasiswa Unsyiah.

Itulah salah satu sesi latihan yang dilakukan sekelompok mahasiswa, yaitu beladiri taekwondo, Senin, 24 Mei 2010. setiap sore, mereka berkumpul dan berlatih di gedung yang berlokasi di Jalan Syech Abdurrauf, kampus Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh.

Mahasiswa itu pun semakin bersemangat mengikuti setiap latihan, karena, disamping mereka selalu hadir sang pelatih yang setia memberi arahan dan pelajaran dalam beladiri taekwondo. Tidak tanggung-tanggung, pelatih mahasiswa Unsyiah ini datang langsung dari negeri asal lahirnya taekwondo, yaitu Korea. Dia adalah David Seong Nam Hong.
David Seong Nam Hong atau Sabum David, demikianlah ia biasa disapa, merupakan utusan langsung dari Universitas of the Nations Jeju, korea. Ia datang jauh-jauh dari Jeju yang merupakan Provinsi terkaya di Korea ini karena diundang secara khusus oleh Unsyiah untuk melatih tekwondo bagi mahasiswa dan masyarakat umum di Aceh.
Sebelumnya, Unsyiah memang telah lama menjalin kerjasama dengan Universitas of the Nations Jeju, selain taekwondo, Unsyiah juga pernah melakukan kerjasama untuk olahraga Basketball, Sepak Bola dan Kempo.

Lelaki berkumis dan berjanggut pendek ini telah tinggal di Aceh selama lebih kurang dua tahun. Ia dan istri beserta kedua anaknya –bersekolah di SD dan SMP Fatih Bilingual School– ini tinggal di Asrama Pasca sarjana Unsyiah. Fasilitas ini diberikan Unsyiah bagi Sabum David selama mengajar tekwondo di Aceh.

Sebelum pergi ke Aceh, David mengaku telah melatih taekwondo di berbagai negara dengan tenggang waktu yang berbeda-beda dan relatif pendek. “Sebelumnya saya sudah pernah melatih di Thailand, China, Papua, Turki, Kazakstan, Filipina dan beberapa negara lain, hanya saja waktunya tidak sama, ada yang beberapa bulan, ada yang setahun, bahkan ada yang hanya beberapa minggu,” sebut Sabum David. Saat DETaK bertanya, dari negara-negara yang pernah disinggahi, dimanakah ia melatih dalam waktu yang lama. Sabum David menjawab ; “Aceh merupakan tempat yang paling lama”.

Sabum David mengakui, selama berada di Aceh, ia dan keluarganya sedikit kesulitan beradaptasi dengan cuaca dan makanan yang sangat jauh berbeda dengan negara asalnya. “Di sini musimnya hanya ada dua, musim panas dan musim hujan. Sementara di Korea ada empat musim. Jadi saya agak sulit menyesuaikan diri karena panas,” ungkap Sabum David.

Selain masalah cuaca, sebut Sabum David, masalah lainnya adalah sayuran. “Disini jika kita pergi ke pasar sayurannya itu-itu saja, tidak berubah. Sedangkan di Korea sayurannya banyak sekali jenisnya,” sambung lelaki berkaca mata ini sambil tersenyum.

Lelaki kelahiran 1 maret 1970 ini berkisah, awal mengenal taekwondo saat duduk di bangku sekolah dasar. Saat itulah ia pun mulai mengikuti berbagai perlombaan, dan menariknya, dalam setiap perlombaan, Sabum David sering membawa pulang piala kemanangan. Berbagai perlombaan terus diikuti Sabum David hingga ia dewasa.

Atas kemampuan yang dimilikinya ini, Sabum David berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya. Lelaki berpostur tubuh jangkung bercerita, dirinya memulai karier sebagai pelatih taekwondo saat berusia 25 tahun. Saat itu, untuk pertama kalinya ia dikirim ke Vietnam guna melatih taekwondo.Dan hal inilah yang menjadi salah satu motivasinya untuk datang ke Aceh. “Saya ingin membagi ilmu ini kepada masyarakat Aceh yang terkenal dengan kekuatan fisiknya, melahirkan atlet-atlet taekwondo terbaik di Aceh,” ungkap David.

Pernyataan Sabum David bukan main-main, hal ini telah dibuktikannya saat KONI Aceh mengadakan perlombaan di IAIN Ar-Raniry, Unsyiah ikut berpartisipasi dan anak didiknya mampu meraih dua (2) medali emas, dua (2) Perak dan satu (1) perunggu.

Saat ini, aktivitas Sabum David semakin terlihat sibuk. Maklum, setelah perlombaan tersebut, ia harus fokus melatih mahasiswa-mahasiswa Unsyiah untuk persiapan mengikuti Kompetesi Nasional, mewakili Provinsi Aceh.

Disinggung mengenai rencananya kedepan, Sabum David mengaku kemungkinan besar akan tetap berada di Aceh. Walaupun masa kerjanya hanya dua tahun, ia akan memperpanjang izin tersebut.

Taekwondance
Taekwondance merupakan sebuah perpaduan antara gerakan-gerakan taekwondo dan dance. Hal inilah yang tengah digalakkan Sabum David. Menurutnya, taekwondance sangat baik untuk kesehatan terutama bagi kaum perempuan, misalnya bagi yang mau melangsingkan tubuh, yang baru melahirkan dan badannya melar, perempuan harus berolahraga.

“Saya tertarik untuk menggalakkan takwondance ini. Perbedaan taekwondo biasa dengan takwondance ini adalah pada saat latihan di tekwondance ini kita bisa lebih fresh karena dibarengi oleh music. Sedangkan pada taekwondo biasa kita cenderung bosan karena selalu mengulang-ulang gerakan yang sama.” Jelas Sabum.
Dalam taekwondo, sambung Sabum David, yang diperlukan bukan hanya kekuatan fisik saja, tetapi yang lebih diutamakan adalah kekuatan dalam, jadi bukan hanya psikis saja tapi juga spiritnya. Dengan kekuatan dalam kita bisa menghadapai masalah-masalah yang sulit.

Apa yang direncanakan Sabum David ternyata telah menjadi kenyataan. Saat ini Sabum David telah merealisasikan taekwondance. Hanya saja, sementara ini yang mengikutinya masih dari murid-murid yang selama ini dilatihnya. Sedangkan masyarakat umum belum ada yang berminat. Padahal gerakan-gerakan dalam takwondance tersebut, sebut Sabum David, selain menambah kekuatan juga menyegarkan pikiran.

Sabum David sangat menyarankan agar masyarakat Aceh mau mengikuti latihan tekwondo ini, karena bukan hanya mahasiswa saja yang bisa ikut latihan, beberapa pelajar SMA dan SMP juga banyak yang ikut dan yang paling penting, belajar taekwondo pada Sabum David tidak dipungut biaya sepeserpun alias gratis. “Yang penting ada kemauan, latihannya setiap hari senin sampai kamis pukul 16.30 WIB dan hari Minggu pukul 09.00 WIB. Gratis!” kata Sabum David sedikit berpromosi.

Mengenai gaji, sabum David mengatakan bahwa yang membiayainya bukanlah pihak rektorat Unsyiah namun dari Universitas of the Nations Jeju yang mengutusnya. “Pihak Unsyiah hanya menyediakan tempat tinggal, gaji saya dari Korea. Jumlahnya sih, mungkin besar dalam ukuran orang Indonesia namun sebenarnya kecil untuk ukuran Korea, karena saya kan harus membiayai sekolah anak-anak. Tapi cukuplah untuk membiayai hidup dan pendidikan anak-anak,” ujarnya dengan tidak mau menyebutkan nominalnya.
Selain itu, pendapatan Sabum David juga datang saat diundang pihak TNI dan Brimob untuk melatih taekwondo. Walau hanya sekali dua kali dalam sebulan, namun setidaknya Sabum David mampu memberi ilmunya, bukan pada nominal uang bayaran.

Saat ini di Unsyiah, sudah ada sekitar 40 orang yang berguru padanya. Mereka suka berguru pada sabum david karena menurut mereka Sabum David dapat mengerti kondisi mereka.

Hal ini diakui salah Iqbal. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) ini mengaku senang dilatih Sabum David. “Beliau sangat disiplin dan pengertian. Jika kita tidak datang latihan, Sabum David tidak marah. Ia memperbolehkan kita datang kapan kita punya waktu, namun beliau selalu datang tepat Waktu,” Ujar Iqbal.

Pendapat yang sama juga dilontarkan murid Sabum David lainnya, Hanni Pratista, Siswi SMP I Kaju Baitul Saleh. Remaja pemegang sabuk kuning ini mengaku senang belajar bersama Sabum David. “Disiplinnya oke, apalagi orangnya baik dan menyenangkan,” ungkapnya.

Sabum David memang tidak pernah memaksa muridnya untuk mengikuti latihan setiap hari. Ia paham akan kesibukan mereka sebagai pelajar dan mahasiswa.
Inilah sabum David, meskipun bukan orang Aceh namun ia merasa dirinya seakan telah menyatu dengan masyarakat Aceh. Niatnya ingin menjadikan masyarakat Aceh menjadi orang-orang yang kuat dan rajin berolahraga begitu kuat.

Nah, bagi masyarakat Aceh yang ingin belajar langsung bersama Sabum David dating saja ke Gedung Gelanggang Unsyiah. “Siapa saja bisa belajar disini, semuanya gratis.” Tutup Sabum David.

DETaK | Rini Susanti

Comments

comments