Beranda Feature Rainy Regina Prianto, Putri Kopi dengan Segudang Prestasi

Rainy Regina Prianto, Putri Kopi dengan Segudang Prestasi

BERBAGI
(Foto: atjehlink.com)

Fitria Anggraini | DETaK

(Foto: atjehlink.com)

Dara itu terlihat anggun dengan balutan gaun ungu, ia melenggang di atas panggung layaknya seorang model. Ia mampu memukau ribuan penonton dan berhasil menaklukkan sejumlah tantangan dari dewan juri. Hasilnya, mahkota Miss Coffee Aceh 2012 disematkan padanya.

Tubunya semampai, dengan tinggi 168 centimeter dan berat 50 kilogram itu, ia terlihat lebih menonjol dari peserta lainnya.

Dara itu bernama lengkap Rainy Regina Prianto, oleh teman-temannya ia biasa disapa Egi. Bahkan Egi mampu mempersembahkan drama singkat dengan menggunakan tiga bahasa.

Dara kelahiran 18 Desember 1992 lalu itu tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Hukum, Unsyiah. “Egi sekarang sudah semester empat, Alhamdulillah  kuliah lancar dan dapat juara pertama malam ini,” ujar Egi kepada DETaK usai acara pemilihan Miss Coffee 2012.

Egi mengaku tidak menyangka bisa menang dalam kontes tersebut. Pengalamannya di bidang modelling sangat minim, “Egi baru mengenal dunia modelling saat kuliah. Sedangkan ketika duduk dibangku SMA Egi lebih fokus dengan bimbingan belajar,” ujarnya.

Menjadi model berawal dari keikutsertaannya mengikuti perlombaan Duta Mahasiswa 2012. “Ada salah seorang finalis duta mahasiswa nawarin masuk ke Aceh Model Community, dan Egi pun setuju,” tutur dara penyuka warna biru itu.

“Setelah bergabung di AMC, Egi latihan beberapa kali, terus karena sibuk kuliah nggak latihan lagi. Kemudian dapet info dari manajemen kalau ada kontes Miss Coffee Aceh 2012,” celotehnya.

Putri pasangan Bapak Bambang Suprianto dan Ibu Cut Safina Yunia Diwi itu memang sangat menyukai perihal ilmu pengetahuan. Apalagi jika berkaitan dengan Aceh, baik dari budaya, seni serta sejarahnya. Walaupun sejak Sekolah Dasar di kelas tiga sampai dengan SMA, ia tinggal di Jakarta dan baru kembali ke Aceh saat kuliah, namun Aceh bukan sesuatu yang asing baginya. Egi merasa tidak kesulitan belajar tentang Aceh, sebab kedua orangtuanya selalu mengenalkan Aceh kepadanya.

Bagi Egi Aceh mempunyai daya tarik tersendiri, apalagi jika dilihat dari sejarahnya dan perjuangan rakyat Aceh dalam memperjuangkan daerahnya di masa penjajahan.

“Aceh itu spesial banget untuk Egi, ada kejadian yang berkesan saat Egi ikut festival tari di luar negeri. Waktu kami menampilkan tarian saman, baru satu gerakan selesai, semua pada tepuk tangan. Sedangkan kalau tarian dari negara lain, ekspresi mereka biasa saja, responnya paling cuma bilang ya bagus,” kenang Egi.

Dara yang berkeinginan menjadikan hijab sebagai fashion itu memang memiliki bakat di bidang seni. Sejak SD ia banyak mengikuti berbagai kegiatan seni. Hal ini membuat ia memiliki banyak kemapuan di bidang seni.

Egi menguasai seni tari tradisional dari Aceh, seperti tari saman, tari pukat, tari rapai geleng. Selain itu Egi juga menguasai dari dari beberapa daerah lainnya, seperti tari piring dari Sumatera Barat, tari ngarojeng dari Betawi, tari yapong dari Jawa Barat, tari gong dari Kalimantan Timur. Selain tari tradisional, Egi juga menguasai tari modern yaitu tari balet. Dalam seni musik Egi dapat bermain piano. Terakhir Egi juga menguasai lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, dan Turki.

Kelihaiannya dalam menari telah mengantarnya ke tiga negara, yaitu Belanda, Belgia dan Turki. Egi merasa bangga ketika di tiga negara tersebut Egi dan teman-temanya mementaskan tari tradisional dari Aceh. “Egi senang, sedikitnya Egi telah mempromosikan Aceh di mata dunia,”  ujar gadis yang ikut dalam pementasan tari saman pada acara “Gong Show” di salah satu stasiun televesi swasta.

Selain menampilkan kesenian tari, Egi juga benar-benar memperlihatkan kecintaannya pada bahasa. Saat di Turki Egi sempat mempelajari bahasa negara tersebut. “Egi bisa bahasa Turki tapi pasif,” ungkap Dara yang pernah meraih The Best student di ILP Jakarta.

Dari begitu banyak kemampuannya, Egi tak lupa mempelajari bahasa di mana ia dilahirkan. “Egi juga bisa bahasa Aceh, karena di rumah mama juga berbahasa Aceh,” tuturnya tersenyum ringan.

Sebagai seorang remaja yang multi talenta, Egi mampu menjadi inspirasi banyak pemuda dan pemudi lainnya, ia juga tidak lupa dengan daerah dimana ia berasal.

“Egi ingin membantu memajukan Aceh. Sebagai langkah awal Egi akan memperkenalkan kopi Aceh di mata nasional dan internasional, sesuai visi misi Egi setelah terpilih menjadi Miss Coffee Aceh 2012,” jelas gadis yang pernah menjadi anggota Asean Law Student Association (ALSA) itu.

Egi berharap kepada pemerintahan dan masyarakat Aceh untuk lebih terbuka terhadap dunia luar. “Gimana mau maju kalau Aceh terus menutup diri,” tegas penikmat kuliner itu.[]

 

Comments

comments